Vredeburg Gelar Pelatihan Bahasa Inggris untuk Layanan Museum

administrators 12 Mei 2026 09:41:56 26

Dalam rangka peningkatan kompetensi pegawai terkait penggunaan Bahasa Inggris untuk

pelayanan museum, Kamis (23/4/2025) Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

bekerjasama dengan Program Studi Bahasa Inggris Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya

Universitas Negeri Yogyakarta mengadakan beberapa pelatihan yang diikuti sejumlah 65

pegawai. Beberapa pelatihan tersebut meliputi Pelatihan Public Relation bagi Pegawai

(diikuti oleh 20 pegawai); Pelatihan English for Communication Berbasis ESP (diikuti oleh

20 pegawai); Optimalisasi Pemanfaatan Media Sosial untuk Memperkuat Fungsi dan

Branding Museum Pemerintah di Yogyakarta (diikuti oleh 5 pegawai), dan Pelatihan

Translation as Storytelling Label Diorama (diikuti oleh 20 pegawai). Adapun pembagian

keikutsertaan pegawai dalam tiap sesi pelatihan didasarkan pada jobdesk masing-masing

pegawai di museum, sehingga diharapkan peningkatan kompetensi ini menghasilkan

peningkatan pada output hasil kerja pegawai.


Pelatihan Translation as Storytelling Label Diorama

Dalam Pelatihan Translation as Storytelling Label Diorama yang penulis ikuti, dipaparkan

oleh Briggita Sita Oentari, M.Hum, dosen Prodi Bahasa Inggris UNY, bahwa penerjemahan

bukan hanya sekedar transfer kata, namun penerjemahan berarti memilih makna; membangun

perspektif; dan menyusun cerita. Namun seringkali dalam prakteknya, terjemahan dibaca apa

adanya; pengunjung menerima informasi tanpa konteks; sejarah mungkin terasa kering; dan

makna budaya belum tersampaikan.

Kualitas terjemahan meliputi tiga hal yakni Kejelasan, Kesetiaan, dan Keterbacaan. Dalam

konteks kejelasan (Clarity), terjemahan haruslah mudah dipahami oleh turis asing; tidak

membingungkan; dan tidak terlalu “lokal” tanpa penjelasan.

“Sebagai contoh, ‘Kiai’ apabila tidak diterjemahkan dan tidak dijelaskan, maka turis asing

kemungkinan tidak akan paham. Solusinya dengan manambahkan konteks highly respected

Islamis scholar, teacher, and religious leader”, ungkap Briggita.

Kedua, Kesetiaan (Accuracy) yang berarti bahwa makna tidak berubah, konteks sejarah

tetap, dan tidak menghilangkan ide penting. Sebagai contoh: Sistem Tanam Paksa bukanlah

Planting System, tetapi harus mengacu pada istilah The Cultivation System. Ketiga,

Keterbacaan (Readability) yang berarti bahwa terjemahan tidak terlalu literal, natural dalam

bahasa Inggris, serta enak dibaca dan didengar.

Sementara pengajar lainnya diantaranya Dindadari Arum Jati S.S, M.Hum memaparkan

paparannya yang berjudul Translation as Storytelling dan Dr. Andy Bayu Nugroho, S.S.,

M.Hum menyampaikan terkait Storytelling Berbasis Sejarah di Museum.


Penulis : Lilik Purwanti

facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?