Mengepulkan Semangat Juang Revolusi Indonesia

administrators 05 April 2022 08:49:09 219

Masa Revolusi Indonesia adalah periode panjang konflik fisik antara Belanda dengan Indonesia. Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 telah menyatakan diri merdeka dari segala bentuk penjajahan. Indonesia memulai lembaran baru dan mempersiapkan tatanan resmi Negara Indonesia. Akan tetapi usaha tersebut tidak berjalan mulus. Belanda, yang sekian lama pernah mendiami Indonesia, merasa berhak untuk mengambil Indonesia kembali ke dalam kekuasaan Belanda. 

Belanda mengirimkan pasukannya ke Indonesia untuk “mengamankan” kondisi Indonesia. Usaha “mengamankan”itu lebih condong kepada usaha perebutan kekuasaan dan menertibkan rakyat Indonesia agar tidak melawan. Para pejuang Indonesia tentu tidak tinggal diam. Mereka bersama melawan yang mengakibatkan konflik fisik bersenjata guna menjaga kemerdekaan Indonesia.

Pertempuran fisik kerap terjadi dibanyak tempat, utamanya di wilayah Yogyakarta. Yogyakarta merupakan Ibu Kota Republik Indonesia pada 1946-1949. Yogyakarta menjadi sasaran vital Belanda untuk melancarkan serangan. Minimnya pasukan dari Indonesia mengharuskan rakyat untuk ikut membantu berjuang baik di medan pertempuran maupun di bidang lainnya. Mereka sama-sama melawan. 

Salah satu perjuangan rakyat di balik layar pertempuran Revolusi Indonesia adalah mereka yang menyediakan dapur umum. Dapur umum adalah wadah penyedia logistik yang penting bagi gerilyawan pada masa Revolusi Indonesia (1945-1950). Dapur umum merupakan wujud gotong-royong rakyat menolong sesamanya ditengah konflik yang sedang berkecamuk. Rakyat membantu perjuangan kemerdekaan ini dengan cara menyediakan logistik dan makanan bagi para pejuang medan perang. Dapur umum ditempatkan di rumah-rumah penduduk. Dapur umum dikelola oleh anggota inti yang telah ditentukan. Mereka yang bukan anggota inti tetap berpartisipasi dalam mengolah makanan bersama-sama. Kebutuhan logistik dapur umum diperoleh dari masyarakat dalam bentuk sumbangan seperti: beras, lauk-pauk, sayur-mayur, kayu bakar, bahkan hibahan dana. Dapur umum dapat berpindah-pindah lokasi dan sifatnya rahasia. Mereka sangat berhati-hati agar tidak diketahui keberadaannya oleh pasukan Belanda. Lurah-lurah setempat bertugas untuk mendata warganya sesuai kemampuannya dalam membantu dapur umum. Ada rumah yang bertugas memasak nasi, rumah yang bertugas memasak sayur, dan sebagainya. Mereka menyalurkan logistik makanan kepada para gerilyawan dan sesegera mungkin melenyapkan barang bukti agar tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Gerakan bawah tanah ini sangat membantu para gerilyawan dalam memenuhi kebutuhan dasar dan menjadi tempat yang aman untuk menyusun strategi pertempuran. 

 

(Sumber: Panel diorama 39, Ruang Diorama 3, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 21 Maret 2022)

Penulis: Pradipta Berliana Savitri

Referensi Bacaan:

Sulistya, Agus. Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. (2020).

Winarni, V.Agust S., dan Yustina Hastrini N. “Dapur Umum Masa Perang Kemerdekaan II di Yogyakarta.” Makalah. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. (2013).

Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. (2008).




Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?