Komitmen Wujudkan Museum Inklusif, Vredeburg Hadirkan Bincang Publik ‘Museum Ramah ABK'

administrators 28 Juni 2022 12:07:53 125


Masyarakat memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan museum, termasuk diantaranya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Maka, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta memiliki program yang memfasilitasi ABK untuk bisa berekspresi di museum, seperti vredeburg in frame, pentas seni, pameran, bahkan di tahun 2019 pernah memecahkan rekor MURI dunia dalam Kegiatan Museum Mendongeng bersama 1000 ABK. Kepedulian ini dilandasi oleh kesadaran bahwa ABK adalah generasi penerus yang harus memiliki karakter, identitas, jati diri dan wawasaan kebangsaan agar memiliki jiwa keIndonesiaan yang kuat. Selain itu, tugas museum yang utama adalah sebagai media pendidikan dan penguatan pendidikan karakter, serta fasilitator bagi seluruh pemangku kepentingan untuk berkiprah menjadikan museum sebagai ruang publik, ruang ekspresi, dan ruang pemajuan kebudayaan. 

Demikian disampaikan oleh Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dalam sambutan sekaligus membuka acara Bincang Publik ‘Museum Ramah ABK” pada Kamis (16/6/2022). Bincang publik ini menghadirkan narasumber Sukinah, S.Pd.,M.Pd. (Dosen jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Yogyakarta) dan Ajeng Ayu Arainikasih, S.Hum., M.Arts (Dosen Arkeologi Universitas Indonesia), dengan dimoderatori oleh Drs. Untung PH (Ketua MKKS SLB Kabupaten Bantul).

Sementara Sukinah, S.Pd.,M.Pd. dalam paparannya mengungkapkan bahwa ABK adalah mereka yang dilihat dari aspek emosional, intelektual, fisik, dan psikhis yang berbeda dengan yang lain, namun sesungguhnya kebutuhannya sama seperti yang lain, seperti dalam hal menikmati layanan. Terkait layanan, yang membedakan ABK dengan lainnya adalah terkait ‘kebutuhan khususnya’. Maka diperlukan modifikasi layanan agar bisa memberikan layanan sesuai kebutuhan anak-anak. Hal ini mengingat anak-anak ini membutuhkan kebutuhan khusus, maka diperlukan layanan khusus. 

“Sangat penting untuk membuat museum dapat diakses oleh ABK dengan menyediakan akomodasi yang wajar sehubungan dengan kebutuhan khusus mereka dalam mengakses museum”, ungkap Sukinah. 

Maka, dukungan museum bagi ABK dapat dilakukan antara lain dengan memberikan deskripsi audio dari artefak yang sedang dipamerkan; membuat gambar braille yang akan mewakili sketsa objek yang dipamerkan atau memberikan replika yang dapat disentuh; mentranskripsikan materi tulisan kedalam braille yang bermanfaat untuk meningkatkan aksesibilitas informasi bagi komunitas tunanetra; pelatihan bagi kurator museum dan staff pada umumnya dalam melayani pengunjung difabel; serta staff museum memainkan peran penting dalam berbagi informasi dengan pengunjung museum. 

Lebih spesifik, Sukinah kemudian membagi kebutuhan khusus ABK terhadap layanan museum. Bagi tunanetra dibutuhkan tangga aman dengan pegangan tangan dan kubang tangga anti selip yang kontras; informasi audio; serta plakat braille. Bagi tunarungu dibutuhkan alat bantu dengar; loop induksi audio; serta informasi visual. Bagi pengunjung dengan mobilitas terbatas dibutuhkan kursi roda sopan, ramp dan elevator, ruang besar untuk pengguna kursi roda, serta area tempat duduk kursi roda. Bagi pengunjung dengan gangguan kognitif dibutuhkan piktogram universal, serta bagi pengung dalam spektrum autisme dibutuhkan tempat yang tenang. 

Sementara Ajeng Ayu Arainikasih, S.Hum., M.Arts mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan museum inklusif yang ramah bagi pengunjung ABK dibutuhkan kolaborasi/ kerja tim yang meliputi kurator, edukator, komunitas penyandang disabilitas, interior desain, arsitekm psikolog, museology, tim IT, serta profesional lainnya. Ia juga memberikan contoh beberapa museum di luar negeri yang telah menambahkan multi sensory pada koleksinya.  Seperti di Van Gogh Museum, Amsterdam dimana pengunjung dapat menikmati lukisan dengan seluruh pancaindera. 

“Boleh pegang replika lukisannya, bahkan bisa merasakan tekstur catnya, bisa memegang potnya, mencium bau padang rumput dan sunflowernya, serta bisa merasakan hembusan angin berdasarkan yang dikisahkan dalam lukisan tersebut. Jadi kita benar-benar diajak masuk dalam eksperiencenya lukisan ini”, ungkap Ajeng sembari menunjukkan foto lukisan beserta multi sensorynya di Van Gogh Museum. 

Selain itu, terkait penambahan fasilitas bagi ABK di museum yang menempati bangunan cagar budaya yang notabene harus dijaga keaslian bangunannya, Ajeng mengungkapkan bahwa hal ini bisa diatasi dengan mengkolaborasikan antara arsitek interior dengan arsitek konservasi. Ajeng mencontohkan Mauritshuis Museum, Denhaag yang merupakan museum seni yang menempati bangunan cagar budaya namun memberikan fasilitas lift bagi penyandang disabilitas. 

“Dimuseum ini dibuat lift di luar bangunan sehingga tidak mengganggu bangunan, dan pintu masuk museum dibawah tanah. Pengunjung umum bisa naik tangga, sedangkan bagi disabilitas melalui lift. Lift didalam bangunan dibuat seminimal mungkin, sehingga seminimal mungkin merubah bangunan asli. Sehingga akses pengunjung disabilitas tetap terpenuhi tanpa merusak cagar budaya”, pungkas founder/lady bos dari Museum Ceria ini. 

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?