Jembatan Duwet: Saksi Perjuangan Rakyat Melawan Belanda di Tepi Barat Yogyakarta

administrators 22 April 2022 09:42:14 151

Jembatan Duwet atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah “Kretek Gantung” (Jembatan Gantung) dibangun pada tahun 1930 dan terletak di wilayah Dusun Duwet, Kelurahan Banjarharja, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Jembatan Duwet merupakan penghubung antara dua wilayah yang dipisahkan oleh sungai Progo yaitu wilayah Banjarharja, Kalibawang, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta dengan wilayah Ngluwar, Kabupaten Magelang. Tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antara dua wilayah di dua provinsi yang berbeda, Jembatan Duwet juga memiliki nilai historisnya tersendiri. Jembatan Duwet menjadi saksi sejarah peristiwa Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta pada 19 Desember 1948.  

Peristiwa Agresi Militer Belanda II menyebabkan Kota Yogyakarta berpindah tangan ke pihak Belanda. Kondisi tersebut mengakibatkan TNI mengambil keputusan untuk mengundurkan diri ke luar kota sesuai arahan Panglima Besar Angkatan Perang guna mengadakan perang gerilya. Para pemimpin TNI yang bertugas mengatur pertahanan dan memimpin gerilya di antaranya adalah Jenderal Soedirman (Panglima Besar TNI), Kolonel Djati Koesomo (Kepala Staf Angkatan Perang), TB Simatupang (Wakil Kepala Staf Angkatan Perang), dan Letkol Soeharto (Komandan Wehrkeise III). Sementara itu pihak Belanda mengatur strategi dengan mengadakan aksi gerakan pembersihan di desa-desa yang dianggap sebagai kubu-kubu pertahanan gerilyawan. Aksi tersebut dilancarkan terus-menerus sehingga membuat rakyat merasa tidak aman dan nyaman. Gerakan Belanda yang bergerak dari arah timur juga memaksa rakyat berbondong-bondong mengungsi ke arah barat dan membaur dengan para pejuang lainnya.

Para rakyat yang memutuskan mengungsi ke arah barat kemudian segera melakukan pergerakan melintasi sungai Progo dan menyebar ke berbagai daerah di sebelah barat Sungai Progo. Persebaran hunian para rakyat terletak di tiga daerah, yakni (1) Dusun Banaran, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, (2) Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, (3) Kelurahan Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Ketiga tempat inilah yang menjadi pusat hunian sementara bagi rakyat yang berasal dari sebelah timur Sungai Progo. 

 

Diorama peledakan Jembatan Duwet di Dusun Duwet, Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo oleh para pejuang. (Sumber: Ruang Diorama IV, Panel No. 38, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 14 April 2022)

Pada saat itu, wilayah barat sungai Progo yang didominasi oleh perbukitan Menoreh dan jauh dari pusat kota Yogyakarta menjadi tempat ideal bagi TNI untuk menerapkan strategi perang gerilya. Selain itu, wilayah tersebut juga merupakan daerah pusat perjuangan rakyat Yogyakarta dalam mempertahankan kemerdekaan. Berbagai upaya dilancarkan, salah satunya dengan mendirikan markas-markas perjuangan guna menjaga kelangsungan negara Republik Indonesia. Markas-markas perjuangan tersebut terletak di dua wilayah yaitu (1) Dusun Banaran, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo dan (2) Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Markas yang terletak di Dusun Banaran menempati rumah Bapak Karyo Utomo di bawah pimpinan Kolonel TB Simatupang yang menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Ia ditugaskan untuk melakukan koordinasi terhadap pertahanan Jawa dan Sumatera serta mengatur hubungan dengan Markas Besar Komando Djawa (MBKD) dan Markas Besar Komando Sumatera (MBKS). Sementara itu untuk markas perjuangan yang terletak di wilayah Kelurahan Banjarasri menempati rumah keluarga Bapak Nitirejo yang dipimpin oleh Pangliman Tentara Teritorium Djawa (PTTD) Kolonel Abdul Haris Nasution.

Selain mendirikan markas-markas perjuangan, para pimpinan beserta rakyat Yogyakarta juga mengambil kebijakan untuk melakukan sabotase terhadap Jembatan Duwet. Hal ini dilakukan guna menjaga keamanan ketika mengatur strategi menghadapi serangan Belanda. Perusakan Jembatan Duwet dilakukan dengan cara memotong tali jembatan. Para penduduk juga melakukan pemblokiran semua jalan darat yang menuju ke wilayah Kalibawang dengan meletakkan batang-batang pohon dan ranting-ranting bambu. Aksi perusakan jembatan dan pemblokiran jalan darat ini dilakukan oleh pemuda desa yang tergabung dalam Pager Desa (Pasukan Gerilyawan Desa) di bawah koordinasi Komando Onder Distrik Militer (KODM).

Dengan dilancarkannya aksi tersebut maka berakibat terhadap jalur gerak Belanda yang semakin terbatas, terhentinya bantuan tentara Belanda yang datang dari Purworejo dan Magelang, serta ketidakbebasan pergerakan pasukan Belanda yang datang dari arah Kota Yogyakarta. Dengan demikian pasukan Belanda tidak dapat menembus wilayah Banjarharja dan markas-markas perjuangan dapat aman terkendali dari serangan Belanda sampai dengan Yogyakarta kembali ke tangan RI tanggal 29 Juni 1949. 

Referensi Sumber Bacaan:

Baha’uddin, dkk., Masyarakat Pedesaan dan Revolusi Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2020. 

Sulistya, V. Agus, Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 2020. 


Penulis: Brenda Hayuning Zaenardi 






Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?