Peringati Hari Kebangkitan Nasional, Yuk Telusuri Koleksi Terkait Boedi Oetomo di Museum Perjuangan Yogyakarta

administrators 21 Mei 2021 10:11:53 320

Asal Muasal Hari Kebangkitan Nasional

Pada tahun-tahun awal kemerdekaan, Indonesia masih harus menghadapi kembalinya Belanda yang dibonceng sekutu, serta situasi politik dalam negeri yang kian memanas. Maka pada saat itu dirasa membutuhkan simbol persatuan baru. Dalam rangka peringatan genap 40 tahun berdirinya Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1948, Ki Hadjar Dewantara sempat mengadakan pembicaraan dengan Presiden Soekarno. Peringatan dipakai sebagai momentum bagi seluruh rakyat Indonesia agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara ditunjuk sebagai ketua peringatan, dengan beranggotakan Tjugito dari PKI, AM Sangadji dari Masyumi, Sabilal Rasjad dari PNI, Nyonya A.Hilal dari Kongres Wanita Indonesia, Tatang Mahmud dari IPPI, dan H. Benyamin dari GPII. Upacara tersebut dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 1948 di Gedung Agung Yogyakarta. Dalam upacara tersebut secara simbolik dilakukan penghancuran Benteng Vredeburg dengan dentuman-dentuman bom sebagai simbol penghancuran kenangan pahit masa penjajahan. 

Presiden Soekarno dalam pidatonya pada 20 Mei 1948 mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia yang terpecah oleh kepentingan politik agar bersatu melawan Belanda. Presiden Soekarno juga menyampaikan bahwa Boedi Oetomo merupakan tonggak pergerakan nasional. Organisasi Budi Utomo merupakan pelopor berdirinya organisasi modern yang pertama, yang kemudian setelahnya diikuti oleh berdirinya organisasi-organisasi lain. Inilah mengapa, Hari Kebangkitan Nasional ditetapkan tanggal 20 Mei sebagaimana tanggal kelahiran Boedi Oetomo, yakni 20 Mei 1908.

Museum Perjuangan dan Hari Kebangkitan Nasional

Museum Perjuangan Yogyakarta merupakan unit II dari Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hal itu terjadi sejak tanggal 5 September 1997 ketika diadakan serah terima pengelolaan Museum Perjuangan dari Museum Negeri Propinsi Sonobudoyo kepada Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Museum Perjuangan berlokasi di Jalan Kolonel Sugiyono Nomor 24 Yogyakarta.

Berdirinya Museum Perjuangan tidak dapat dilepaskan dengan peringatan setengah abad kebangkitan nasional. Gagasan pembangunan Museum Perjuangan bermula dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menghendaki adanya sebuah tinggalan bagi generasi mendatang terkait dengan peringatan setengah abad kebangkitan nasional. Nasionalisme menjadi dasar perjuangan dalam meraih, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, maka tidak berlebihan manakala berdirinya Budi Utomo sebagai tonggak sejarah lahirnya nasionalisme Indonesia ditandai dengan berdirinya sebuah monumen, yang sekarang kita kenal dengan nama Museum Perjuangan.

Koleksi Museum Perjuangan meliputi relief Patung Kepala Pahlawan Nasional; Relief Peristiwa Sejarah yang menceritakan peristiwa sejarah sejak lahirnya Boedi Oetomo sampai dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1950; serta beberapa koleksi benda-benda yang terkait dengan peristiwa sejarah sejak kedatangan bangsa barat ke Nusantara sampai degan kembalinya bentuk negara dari RIS (Republik Indonesia Serikat) menjadi NKRI.

Dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini yuk kita telusuri apa saja koleksi yang terkait dengan Boedi Oetomo di Museum Perjuangan Yogyakarta.

1. Relief Patung dr. Wahidin Soedirohoesodo

Terlahir di desa Mlati, Sleman, Yogyakarta pada tanggal 7 Januari 1852, Dr. Wahidin Soedirohoesodo merupakan tokoh dibalik cikal bakal lahirnya organisasi Boedi Oetomo. Berawal dari perjalanannya keliling Jawa pada tahun 1906-1907 mengumpulkan Studifonds (Dana Pendidikan) bagi penduduk pribumi  yang tidak mempu membiayai sekolah di perguruan tinggi. Para bangsawan dan priyayi menjadi sasaran propaganda Studifonds ini untuk diminta ikut aktif memikirkan pendidikan. Namun tidak sedikit para bangsawan yang didatangi ini hanya memberikan respon dingin. Tak kehabisan akal, kemudian mencoba menawarkan gagasan ini kepada kaum pelajar. Gayung bersambut, setelah bertemu dengan Soetomo, seorang pelajar STOVIA (Sekolah Dokter Pribumi), berpadulah gagasan mereka yang terealisasikan dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. 


Semasa hidupnya, Dr. Wahidin pada tahun 1895 mendirikan surat kabar berkala bernama “Retnodhoemilah” yang terbit setiap hari Selasa dan Jumat. Selama kurang lebih 10 tahun Dr. Wahidin menggeluti bidang persurat kabaran tersebut, setelah sebelumnya menjadi asisten dosen di Sekolah Dokter Jawa selama beberapa tahun 


2. Relief Peristiwa Sejarah Lahirnya Boedi Oetomo

Pada akhir tahun 1907 di gedung STOVIA terjadi pertemuan antara Dr. Wahidin dan Soetomo didampingi pelajar Soeradji yang memunculkan gagasan pendirian Boedi Oetomo. Langkah pertama yang dilakukan oleh Soetomo dan beberapa orang temannya yakni dengan segera mengirimkan surat kepada murid-murid di kota lain di luar Jakarta, seperti Magelang, Yogyakarta, Semaang, Bogor, dan Bandung. Satu persatu dukungan mengalir dari berbagai penjuru, sehingga semakin memantapkan langkah Soetomo dan kawan-kawannya. 


Pada hari Rabu, 20 Mei 1908 sekitar pukul 09.00 WIB Soetomo dan para pelajar STOVIA lainnya berkumpul diruang Anatomi Gedung STOVIA, mereka mendirikan organisasi yang diberi nama Boedi Oetomo, sebuah nama yang diusulkan oleh M. Soeradji yang bermakna ‘Tujuan yang Mulia’. Adapun susunan pengurus yang terbentuk yakni :

Ketua : R. Soetomo

Wakil Ketua : M. Soelaiman

Sekretaris 1 : Soewarno

Sekretaris II : M. Goenawan

Bendahara : R. Angka

Komisaris : M. Soewarno, M. Saleh, M. Soeradji, M. Goembrek.


3. Buku Ilmu Kedokteran STOVIA

Buku ini adalah buku ilmu kedokteran yang dipakai oleh para pelajar STOVIA. STOVIA (School toot Opleiding van Inlandsche Artsen) ini didirikan pada tahun 1900, yang dulunya bermula dari Sekolah Dokter Jawa di Jakarta. Kini, sekolah ini telah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

   

Sekolah Dokter Jawa yang masa pendidikannya selama 3 tahun ini oleh beberapa pihak dirasa belum memenuhi persyaratan. Oleh karenanya, masa belajar harus lebih ditingkatkan lagi. Menanggapi hal tersebut, maka Dr. C. Eijkman, Direktur Sekolah Dokter Jawa 1888-1896, sebagaimana dipaparkan dalam buku Museum Perjuangan : Wahana Pengenalan Sejarah Bagi Generasi Muda, mengemukakan usulan sebagai berikut :

a. Penyelenggaraan pendidikan yang mengambil dasar lulusan Sekolah Dasar harus lebih ditingkatkan menjadi lima tahun.

b. Harus disusun buku-buku pegangan mengajar yang memenuhi syarat-syarat untuk mencapai peningkatan pelajaran

c. Pelajaran Praktek dokter harus lebih diintensifkan. 

Wacana ini kemudian terus bergulir, disambut dengan usulan-usulan lain, yang disampaikan demi perbaikan mutu Sekolah Dokter Jawa. Klimaksnya, saran diajukan oleh Dr. H.F. Roll, Direktur Sekolah Dokter Jawa yang memegang jabatan pada tahun 1901-1908. Ia dengan tegas menyatakan bahwa Sekolah Dokter Jawa harus ditingkatkan menjadi School toot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Dr. H.F. Roll ini kemudian disebut sebagai Bapak STOVIA. 

4. Replika Patung Soetomo 

Dr. Soetomo yang kita kenal sebagai pendiri Boedi Oetomo ini terlahir dengan nama Subroto. Namun untuk bisa masuk ke sekolah Belanda, namanya diubah menjadi Soetomo.


Ia lahir di Ngawi, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888. Semasa menjadi mahasiswa STOVIA, ia merupakan pelajar pertama yang merespon niatan mulia Dr. Wahidin Soediro Hoesodo, yang kemudian bersama teman-temannya Goenawan, Soeradji, Goembrek, dll mendirikan Boedi Oetomo. Menurut Roeslan Abdulgani dalam bukunya yang berjudul Almarhum Dr. Soetomo yang Saya Kenal, Dr. Soetomo-lah yang menjadi motor atau “prime mover”-nya dari “Budi Utomo” di sekolah STOVIA. Dalam beberapa minggu saja, Boedi Oetomo mempunyai 1200 anggota, di luar Stovia, dan diluar kota Jakarta.


Tahun 1991 Soetomo berkesempatan belajar ke Negeri Belanda, Jerman, dan Austria. Di Negeri Belanda Soetomo menjadi anggota Indische Vereeniging. Setelah selesai belajar di Eropa (1923), Dr.Soetomo menetap di Surabaya dan bekerja di RS Simpang di Surabaya, dan menjadi guru pada sekolah kedokteran Surabaya (NIAS). Setelah kembali ke Indonesia, Soetomo menganjurkan Boedi Oetomo bergerak dalam bidang politik dan oganisasinya terbuka untuk umum.





Sumber Bacaan :

Suharja, dkk. 2009. Museum Perjuangan : Wahana Pengenalan Sejarah. Yogyakarta: Museum Benteng Vredeburg Unit II. 

Abdulgani, Roeslan. Almarhum Dr. Soetomo yang saya kenal. 

Budiharja, dkk. 2004. “Budi Utomo: Sejarah dan Kongres Pertama di Yogyakarta 1908” Sebuah Kajian Koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Benteng Vredeburg.

Profil 143 Pahlawan Indonesia. 2009. Yogyakarta: Pustaka Timur.

Nagazumi, Akira. 1989. Bangkitnya Nasionalisme Indonesia : Budi Utomo 1908-1918. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.



Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?