Gali Nilai Penting Benteng Vredeburg, Museum Vredeburg Gelar Seminar Kajian Pergeseran Fungsi Benteng dari Masa ke Masa

administrators 24 November 2021 10:16:48 55

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Kamis (18/11/2021) menyelenggarakan Seminar Kajian ‘Pergeseran Fungsi Benteng Vredeburg dari Masa ke Masa’ dengan menghadirkan narasumber Prof. Peter Carey (Sejarawan) dan Riswinarno, SS., MM. (Staff Pengajar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Acara yang dimoderatori oleh oleh Ghifari Yuristiadhi, M.A., M.M ini didahului dengan pemaparan presentasi hasil kajian koleksi Benteng Vredeburg Yogyakarta oleh Pamong Budaya Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang terdiri dari Winarni, SS., MA. (Pamong Budaya Ahli Madya); V. Agus Sulistya, S.Pd., MA. (Pamong Budaya Ahli Madya); dan M. Rosyid Ridlo, S.Pd., MA. (Pamong Budaya Ahli Muda)



Dalam paparannya para Pamong Budaya Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mengungkapkan bahwa maksud dari pelaksanaan kajian Benteng Vredeburg ini untuk melengkapi informasi nilai sejarah keberadaan Benteng Vredeburg Yogyakarta; menggali kembali nilai penting keberadaan Benteng Vredeburg Yogyakarta, serta menggali keterkaitan Benteng Vredeburg Yogyakarta dengan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah bangsa Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Hal ini mengingat beberapa nilai penting yang dimiliki Benteng Vredeburg yang meliputi nilai penting sejarah, nilai penting ilmu pengetahuan, nilai penting pendidikan, dan nilai penting kebudayaan. 

Menilik sejarahnya, pembangunan benteng dimaksudkan sebagai bentuk kekhawatiran Belanda akan perkembangan Kasultanan Yogyakarta oleh Sultan HB I akibat Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Benteng kemudian dibangun pada 1756, dan pada tahun 1760 Benteng sudah berdiri dengan bangunan yang masih sederhana, yang kemudian disempurnakan pada tahun 1767 dengan diawasi oleh Ir. Frans Haag. Tahun 1785 bangunan ini dinamakan Rustenburg oleh Johanes Siberg. Tahun1788-1799 merupakan periode pemanfaatan Benteng secara sempurna oleh VOC.   Kemudian pada tahun 1876 pada masa pemerintahan Daendels berganti nama menjadi Vredeburg yang berarti Benteng Perdamaian. 

Selanjutnya dipaparkan juga mengenai pemanfaatan Benteng Vredeburg dari masa ke masa. Dimulai dari pemanfaatan Benteng pada masa VOC (1788-1799), kemudian beralih dibawah Kekuasaan Koninklijk Holland seusai dibubarkannya VOC pada tahun 1799, lalu beralih pada Masa Penjajahan Inggris sebagai akibat dari Kapitulasi Tuntang pada 18 September 1811 yang berlanjut menjadi Peristiwa Geger Spei pada 20 Juni 1812 hingga berakibat Kraton dikuasai Inggris. Benteng saat itu dijadikan sebagai markas artileri Inggris yang menggempur kraton, dan Benteng juga dipakai untuk menampung barang rampasan kraton. Selain itu, Benteng pernah juga dipakai untuk menahan Sultan HB II oleh pasukan Inggris sebelum di bawa ke Batavia dan berakhir di Penang. 

Pada saat Belanda kembali menggantikan Inggris, Benteng menjadi tempat markas Chevallier yang akan menangkap Pangeran Diponegoro di Tegalrejo. Benteng juga menjadi tempat mengamankan Sultan HB V ketika Pangeran Diponeogoro berhasil menduduki kraton. Selain itu Benteng juga jadi saksi penghinaan Pangeran Diponegoro oleh Antoni Hendrik Smissaert pada 21 Mei 1825. Kemudian beralih pada masa pendudukan Jepang, Benteng dijadikan sebagai markas Kempeitei yakni sebagai tempat tawanan. Selanjutnya pada masa kemerdekaan dilakukan nasionalisasi aset, termasuk Benteng Vredeburg. Pada masa itu Benteng dipergunakan sebagai markas dan asrama pasukan dengan kode staf “Q” dibawah komandan  Letnan Muda I Radio. Kemudian pada Peristiwa 3 Juli 1949 Benteng dipergunakan sebagai Tahanan bagi Mohammad Yamin, Tan Malaka,  dan R.P. Soedarsono. Selanjutnya pada Masa Orde Baru Benteng Vredeburg oleh Hankam dibawah Yonif 403/BS Korem 072/Pmk dipergunakan sebagai tempat tahanan tapol terkait G 30 S / PKI  hankam. Pada 1977 penguasaan Benteng dari Hankam diserahkan ke Pemda DIY. Barulah pada tahun 1980 Benteng Vredeburg difungsikan sebagai fungsi Edukatif. 

Sementara Peter Carey secara lebih spesifik bercerita mengenai Serangan Inggris ke Keraton Yogya (20 Juni 1812) dan Penghinaan Diponegoro di Muka Umum (21 Mei 1825). Serangan Inggris ke Keraton dimulai dengan aksi bombardir dan penyerbuan Inggris pada pagi buta Sabtu, 29 Juni 1812 dengan pasukan berjumlah 1200 prajurit. Mereka berkumpul di dalam Benteng sebelum hari H penyerbuan. Pasukan yang disiapkan sebelum penyerbuan ke Keraton adalah 500 anggota Legiun Mangkunegaran di bawah komando Pangeran Prangwedono (Mangkunegara II, 1796-1835) dan Pangeran Notokusumo (yang diangkat Inggris sebagai P. Adipati Pakualaman, 22 Juni 1812-1829) bersama putra sulung R.T. Notodiningrat (Pakualam II, 1830-1858) dan pasukan bertombak juga berlindung di Benteng. Serta pasukan Spehi (Sepoy) yang menjadi ujung tombak serangan Inggris ke Keraton di bawah Komando Bintara (Havildar) & Perwira (Jemadar). Penyerangan tersebut dibawah komando tertinggi Letnan-Gubernur Thomas Stamford Raffles dan panglima Kolonel Robert Rollo Gillespie yang dijuluki orang Jawa sebagai ‘Dasamuka’ yang mempunyai ‘aji poncasona’ yang bisa membangkitkan diri dari maut. Selain itu terdapat John Crawfurd (1783-1868) sebagai Residen Yogya dan Kolonel Colin Mackenzie (1754-1821) yang merupakan perwira komandan pasukan zeni Inggris.

Pada Saat Serangan Inggris-India ke Keraton Yogya, Benteng Vredeburg menjadi markas Tentara & Artileri. Pasukan Artileri yang digelar di Vredeburg termasuk Artileri Kerajaan Inggris (Royal Artillery) dan Madras Horse Artillery (Artileri Medan Chennai) yang dipakai untuk membombardir Keraton dan mendobrak régol (pintu) Poncasura (Kadipaten). Selain itu terdapat juga pasukan laras panjang (riflemen) dari Skotlandia – Resimen 78th (Ross-shire Buffs, belakangan Argyll & Sutherlands) yang dipakai sebagai penembak jitu. Kemudian salah satu Letnan pasukan Skotlandia, Lettu Henry N. Douglas, diberi tugas  mengamankan HB II untuk dibawa ke Vredeburg pada jam 0800 pagi.

Setelah Keraton ditaklukkan semua anggota inti Keluarga Sultan (HB II) di bawa ke Vredeburg  termasuk Diponegoro (saat itu 26 tahun) dan ayahnya (HB III). Disana mereka bertemu dengan Raffles dan Residen John Crawfurd di Gedung Utama Vredeburg untuk mendengar keputusannya. Setelah pertempuran di sekitar Keraton selesai dan kadaton (keraton dalem) diamankan, Rafless kemudian mengajak Keluarga inti Sultan pindah ke Gedung Residen (sekarang Gedung Agung). Disanalah kemudian Rafles membuat pengumuman yang dibacakan didepan umum bahwa HB II diturunkan dari takhta dan diasingkan ke Pulau Pinang (1812-1815), lalu HB III diangkat menjadi Sultan (1812-1814). Keesokan harinya, Minggu 21 Juni 1812 di lapangan antara Vredeburg dan Gedung Residen, Raffles menggelar Pawai Militer lima belas baris dengan semua pasukan Inggris-India untuk menggarisbawahi: Jangan berani macam-macam melawan kita lagi!


Setelah HB III wafat, dan Belanda kembali pada 19 Agustus 1816. Benteng Vredeburg menjadi saksi atas penghinaan terhadap Pangeran Diponegoro oleh pejabat Belanda, Residen Anthonië Hendrik Smissaert (1777-1832; menjabat 1823-25). Residen Smissaert pindah ke Vredeburg sebagai kediaman resmi dengan keluarga selama dua tahun (1823-1825) karena Gedung Karesidenan rusak akibat meletusnya Gunung Merapi pada 28/29 Desember 1822. Di Benteng Vredeburg inilah Residen Belanda itu sengaja mencari jalan untuk bersikap kasar kepada Diponego¬ro dalam sebuah pesta dengan mencibir dan menyindir bahwa ia seorang “edan”, seorang “imam” (priester), dan “pria yang kasar” (grove vent). Smissaert pun tampak telah gagal menuruti sopan-santun yang lazim dengan menyebut Pangeran bukan dengan gelar kehormatannya, “Kanjeng Gusti”, sebagai¬mana diharapkan bila menyapa seorang pa¬nge¬ran. Menyaksikan Pangeran Diponegoro menjadi semakin berang dan takut jangan-jangan timbul keributan, Mayor Wironegoro telah membawa keretanya sendiri dan mengantarkan Diponegoro pulang ke Tegalrejo.

“Benteng Vredeburg menjadi saksi bisu dari merosotnya hubungan Belanda dan Diponegoro menjelang pecahnya Perang Jawa”, tandas Peter Carey. 

Sementara Riswinarno, SS., MM. mengisahkan Yogyakarta dalam rentang Masa. Sejarah kota Yogyakarta bergerak dari ibukota Kasultanan, menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia, kemudian berubah menjadi Ibukota Republik Indonesia Serikat, lalu menjadi Ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejarah moneter, sejarah kebudayaan, kesenian, pergerakan, dan banyak aspek yang lain, sangat panjang dan memiliki dinamika tinggi sebagai akibat fungsi Yogyakarta yang juga mengalami perubahan-perubahan fungsi yang silih berganti dengan peranan yang sangat penting tidak hanya lokal, nasional, tetapi internasional. Sejarah pendidikan dan bangunan-bangunan sekolah sampai kampus juga sangat komplek, baik di dalam Kraton, di Pakualaman, sekolah negeri, sekolah swasta,sekolah Belanda, sekolah RI dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi membersamai sejarah panjang Yogyakarta.

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?