Peringati HUT Museum, Vredeburg Potong Tumpeng dan Temu Pemangku Kepentingan di Panggung Layanan Kreasi Apresiasi Publik

administrators 25 November 2021 14:45:03 82

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Minggu (22/11/2021) menyelenggarakan Panggung Layanan Kreasi Apresiasi Publik dengan mengusung tema ‘Temu Pemangku Kepentingan: Sinergitas Museum dan Pemangku Kepentingan dalam Upaya Membangun Ekosistem Pemajuan Kebudayaan’. Acara ini dimeriahkan dengan penampilan Group Band Anak Manja Plus; Trio Kava Dance; dan Dawai Akustik SLB 1 Bantul. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Museum Benteng Vredeburg ini juga diisi dengan acara potong tumpeng oleh Kepala Museum Benteng Vredeburg yang Pertama, Drs. Budiharja. Turut mendampingi pemotongan tumpeng, Kepala Museum Benteng Vredeburg, Drs. Suharja, Ketua Barahmus DIY, Ki R. Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd. serta para mantan Kepala Museum Benteng Vredeburg, yakni Dra. Zaimul Azzah, M.Hum., Dra. Sri Ediningsih, M.Hum., dan Drs. Wahyu Indrasana. Acara yang dihadiri oleh perwakilan dari berbagai komunitas yang tergabung dalam FOKUS (Forum Komunitas Museum) tersebut dipandu oleh Isye Dewi bersama “Duo Roda Sejarah” Srundeng dan Lek Trimo. 

Kepala Museum Benteng Vredeburg sebagai narasumber dalam acara tersebut menyampaikan terima kasihnya kepada kawan-kawan FOKUS yang telah mengantarkan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta lolos dalam ZI WBK (Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi) Kemenpan RB. Kedepannya museum akan semakin mempererat hubungan dengan komunitas agar peran museum semakin maksimal.

“Tujuannya untuk meningkatkan partisipasi dan pemanfaatan museum, meningkatkan komunikasi dua arah, meningkatkan jumlah kunjungan sehingga museum dapat benar-benar menjadi ruang publik, ruang ekspresi, dan ruang pemajuan kebudayaan”, papar Suharja. 

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Museum juga menyampaikan peran museum sebagai Empat Pilar Ekosistem yang meliputi Bangunan Cagar Budaya yang menempatkan Benteng Vredeburg sebagai saksi bisu peristiwa sejarah semenjak 1760 sampai dengan sekarang. Kedua, pilar ekosistem Pendidikan. Peran ini dimaknai sebagai pendidikan dalam arti luas yang menempatkan museum secara luwes dapat membantu dalam trimatra pendidikan yang meliputi pendidikan di sekolah, pendidikan di keluarga, serta pendidikan di masyarakat. Ketiga, pilar ekosistem kebudayaan. Peran ini menempatkan museum sebagai wahana pendidikan yang berbasis budaya, sehingga keberadaan museum untuk memperkuat karakter peserta didik dan masyarakat. Pilar keempat yakni Pilar ekosistem Pariwisata, terkait dengan mengemas pendidikan dan budaya dalam nuansa edutainment.  

Masa Pandemi ini menurut Drs. Suharja, justru terjadi peningkatan kemampuan SDM museum dalam penguasaan teknologi. Dalam Renstra 2019-2024, yang direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2022, justru telah dilaksanakan pada 2021. Sehingga layanan publik sebagai ruang bagi pemajuan kebudayaan menjadi lebih hidup. Oleh karenanya banyak hal yang perlu dikerjasamakan sehingga membutuhkan partisipasi dari semua elemen masyarakat.

Acara yang dikemas serius tapi santai ini sekaligus untuk menjaring saran dan masukan dari para pemangku kepentingan. Erwin Junaidi dari Komunitas Malam Museum mengusulkan terkait partisipasi publik sebaiknya tidak hanya dalam bentuk partisipasi event, namun juga partisipasi terkait apresiasi koleksi museum. Sehingga masyarakat juga dapat ikut menyumbang narasi atau menitipkan koleksi yang dimilikinya dimuseum. Dalam kesempatan tersebut Erwin juga menyampaikan terima kasihnya kepada Museum Benteng Vredeburg karena Komunitas Malam Museum lahir di Museum Benteng Vredeburg berkat ijin dari Kepala Museum (pada saat itu, Kepala Museum adalah Dra. Sri Ediningsih, M.Hum) yang telah memperbolehkan untuk dikunjungi pada malam hari, yang kemudian kerjasama ini berlanjut hingga saat itu. 


Penulis : Lilik Purwanti (Pamong Budaya Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?