Vredeburg in Frame, CERIA menuju WBBM

administrators 21 April 2022 14:30:51 43

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (MBVY), Minggu (17/4/2022) kembali menyelenggarakan acara Vredeburg in Frame. Vredeburg in Frame merupakan program daring Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang menyajikan 3 segmen acara dalam satu ‘Frame’, yaitu Edukasi, Kreasi dan Inspirasi. Acara yang disiarkan langsung dari kanal Youtube Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta ini dimeriahkan oleh Komunitas JKPC, Tama Plus, Kopi Plus, dan AM Plus. Tema acara yang diusung pada kesempatan kali ini yakni ‘MBVY Ceria Menuju WBBM’. Turut hadir memberikan sambutan, Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Suharja. 

Dalam sambutannya, Suharja mengungkapkan bahwa Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta setelah meraih Zona Integritas Wilayah Bebas Korupsi (ZI/WBK) pada tahun 2020, maka pada tahun 2022 ini diminta untuk melanjutkan ke jenjang predikat yang lebih tinggi menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Maka, Kepala Museum memohon doa dan dukungan kepada segenap pemangku kepentingan untuk semakin memajukan ekosistem pemajuan kebudayaan di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 

“Marilah kita bergandengan tangan untuk bekerjasama agar Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta lebih hidup lagi dan sinergi kita menjadi semakin kuat”, ajak Kepala Museum.  

Sementara dalam sesi bincang-bincang Kepala Museum Benteng Vredeburg dengan DJ Hans, Kepala Museum mengungkapkan Makna dari ‘MBVY CERIA menuju WBBM’ yang berarti bahwa Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta siap menuju WBBM dengan budaya kerja CERIA. CERIA merupakan akronim dari C (Cerdas) , E (Efektif), R (Responsif), I (Integritas), dan A (Antusias). Sementara yang telah dipersiapkan oleh Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta untuk meraih predikat WBBM yakni dengan melakukan optimalisasi / penguatan terhadap enam area perubahan.

“Enam area perubahan itu yakni Penataan Manajemen Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penguatan Manajemen SDM, Penguatan Pengawasan, Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dan Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik”, papar Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. 

Sementara terkait peranan komunitas untuk dapat ikut serta mensukseskan program museum, Drs. Suharja menekankan bahwa teman-teman komunitas merupakan partner museum. Menghidupkan museum tidak mungkin hanya dilakukan oleh pihak internal museum, tetapi hidupnya ekosistem pemajuan kebudayaan harus ada peran antara pelaku/aktor dan fasilitator. Dalam hal ini, teman-teman komunitas merupakan pelaku/aktornya, sementara fasilitatornya adalah penyelenggara museum. 

Selain mewawancarai Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, tak ketinggalan DJ Hans juga turut mewawancarai pengunjung serta perwakilan dari JKPC (Jogja Koes Plus Clommunity). Pengunjung yang diwawancarai (Yuli dan Erna) mengungkapkan bahwa kondisi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sedari dahulu sudah tertata rapi, namun sekarang jauh lebih cantik juga bersih. Selain itu tiket murah dan fasilitasnya juga lengkap terdapat mushola dan toilet yang bersih. Menurut keduanya, keberadaan museum sangat berguna bagi para pelajar untuk mengenang masa-masa perjuangan para pendahulu, yang bisa disaksikan pada diorama-diorama di museum. 

“Harapannya, kalau bisa museum dibuka sampai malam”, ungkap Yuli penuh harap.

Sementara perwakilan JKPC yang diwakili oleh Wowo Nugroho (Presiden JKPC) dan Ki Narno mengungkapkan terima kasihnya karena diberikan kesempatan untuk dapat tampil dalam acara Vredeburg in Frame. Keduanya berharap agar JKPC diberikan kesempatan secara reguler untuk bisa tampil dalam acara terseburt. 

“Sebagai partner JKPC, maka Vredeburg jangan segan-segan untuk terbuka mengenai kesulitan yang dihadapi terkait JKPC ini. Sebab Vredeburg diantaranya telah ikut melestarikan lagu-lagu Koesplus sehingga JKPC menjadi suhu nasional”, pungkas Ki Narno. 

Penulis : Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?