Peringati HUT ke-29, Vredeburg Hadirkan Webinar Harmonisasi Museum dan Pemangku Kepentingan

administrators 25 November 2021 13:10:52 54

Berharap mendapatkan pencerahan dan pembuka ide baru bagi pengelolaan dan pengembangan museum, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (24/11/2021) menggelar Webinar “Harmonisasi Museum dan Pemangku Kepentingan” dengan menghadirkan narasumber Aprina Murwanti, Ph.D (International member, Museum EducationAdvisory Panel National Galery of Singapore) dan Tri Agus Nugroho, S.Sos., M.Sc (Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan DIY). Sebagai moderator dalam webinar yang dilaksanakan untuk memperingati HUT Museum Benteng Vredeburg ke-29  tersebut, Febriska Noor Fitriana (Duta Museum DIY).

Aprina Murwanti dalam paparannya yang berjudul ‘Sinergitas Pengembangan Program Publik Museum bersama Komunitas’ mengungkapkan bahwa paradigma dalam pengelolaan Museum  terus mengalami perubahan. Pada tahun 1970-1980, paradigma mengenai edukasi partisipatif dan aktivitas membagi otoritas, disadari sebaga cara yang lebih efektif untuk melibatkan masyarakat dibandingkan pameran dan presentasi didaktik dan statis. Mulai tahun 1990, museum berusaha menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Museum adalah pencerita yang menjembatani masyarakat ke masa lalu, bukan lagi hanya menjadi simbol kolektor kaya untuk menunjukkan kuasa dan prestis.

Sesungguhnya Indonesia tidak sendirian ketika berbicara mengenai rendahnya minat kunjung ke museum. Karena berdasarkan hasil survey IMPACT (Inteligent Models to Predict Actionable Solutions) menyebutkan bahwa 4 dari 10 orang Amerika tidak merasa nyaman berada di museum budaya, seni, maupun sejarah, termasuk museum sains dan tempat bersejarah. Sementara di Inggris, juga mengalami hal yang serupa. Investasi pemerintah Inggris untuk museum public engangement pernah gagal karena komunitas hanya terlibat secara pasif sebagai penonton atau pengunjung. Pemerintah akhirnya bersinergi meluncurkan program Our Museum untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat. 

Oleh karenanya, untuk bisa bernilai museum perlu menemukan fungsi signifikan dengan komunitas-komunitas. Tanpa relasi ini, museum dan koleksinya akan menjadi kurang penting. Oleh karenanya Aprina merekomendasikan beberapa hal yakni melibatkan konsultan, advisor dan komunitas dalam menentukan arah dan strategi museum; menyusun portofolio/rekam jejak museum dengan rapi dan persiapkan prospektus museum; melibatkan kampus lokal dengan memaksimalkan program Kampus Merdeka, Kedai Reka, P2M, dll; melakukan audiensi dengan CSR Perusahaan setempat untuk membantu pembiayaan; serta memperluas jangkauan sekolah dan komunitas.

Sedangkan Tri Agus Nugroho memaparkan mengenai peran Dinas Kebudayaan (Kundha Kebudayaan) DIY terkait Paradigma Baru museum dengan mengusung tema Tepung Srawung Dunung (TSD) yakni konsep tata nilai budaya DIY yang bersifat ‘ngaruhke’ sekaligus ‘ngarahke’ yang memiliki tahapan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap budaya secara apresiatif dan benar. ‘Tepung’ (dikenal) dimaknai bahwa masyarakat perlu diberi penjelasn agar mengenal warisan budayanya sendiri melalui museum. Disinilah peran besar dari Edukator Museum dan Duta Museum untuk mengedukasi serta mempromosikan museum. Sedangkan ‘Srawung’ (berkumpul untuk lebih mengenal dan memahami) dimaknai sebagai upaya mendekatkan masyarakat dengan warisan budayanya. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain: menyelenggarakan program Wajib Kunjung Museum (WKM); menyelenggarakan workshop ataupun webinar bersama Duta Museum DIY; safari Duta Museum; melakukan pendampingan Edukator museum dengan berbagai kegiatan seperti webinar, workshop, lomba, virtual tour bersama Edukator museum. 

‘Dunung’ dimaknai sebagai pemahaman yang lebih mendalam sampai memunculkan kesadaran sehingga dapat memanfaatkan untuk kepentingan bersama. Beberapa kegiatan yang telah dilakukan yakni melaksanakan kerjasama dinas dan komunitas dengan menyelenggarakan ‘International Forum of Museum & Comunities’; menyelenggarakan pameran Jogja Museum Expo; mencetak buletin museum sebagai sarana informasi dan komunikasi insan permuseuman; menyelenggarakan Gebyar Museum Pleret; serta menyelenggarakan Lomba Cerdas Cermat Museum. 

“Selain itu kami juga melakukan pembinaan internal museum dengan menyelenggarakan pelatihan SDM permuseuman, rapat kerja permuseuman, kajian permuseuman, fasilitasi musesum, workshop permuseuman, sarasehan permuseuman, serta melakukan registrasi koleksi musem”, pungkas Tri Agus Nugroho. 

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?