Peristiwa Dibalik Kentongan MBKD ( Markas Besar Komando Djawa)

administrators 07 Desember 2023 15:40:23 628

Kentongan Markas besar Komando Djawa atau yang disingkat (MBKD) telah menjadi simbol kekuatan dan keberanian selama bertahun-tahun. Kentongan ini memiliki kisah yang menarik di baliknya, yang melibatkan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kentongan menjadi alat komunikasi tradisional yang digunakan di Indonesia, khususnya di markas besar Komando Djawa. Yang dipakai sebagai kode (tanda) dalam kondisi bahaya, aman, waspada, dan lain lain pada masa revolusi. Alat ini terbuat dari bahan-bahan sederhana seperti bambu atau kayu, yang dipahat dan dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan suara yang khas.


Sejarah Penggunaan Kentongan


Pada tanggal 19 Desember 1948 Agresi Militer Belanda II datang ke Yogyakarta dan melakukan penyerangan, yang menyebabkan jatuhnya Yogyakarta ke tangan belanda. Kemudian markas PTTD atau yang disebut ( Panglima  Tentara Teritorium Djawa ) dipindahkan keluar kota yaitu ke desa Kepurun, Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah dan dikenal dengan MBKD yang disingkat dari ( Markas Besar Komando Djawa) pos X-1. Namun karena gerakan Belanda yang membahayakan markas maka Kolonel A.H nasution selaku PPTD, pada bulan Februari 1949 MBKD dipindahkan ke dusun Boro , Banjarharja , Kalibawang, Kulon Progo di rumah Bp. Nitirejo. 


Kelurahan Banjarharja sangat tepat sebagai salah satu daerah pertahanan, mengingat keadaan daerahnya yang sangat memungkinkan. Daerah yang berbukit-bukit dan juga ada Sungai Progo yang cukup lebar , sehingga memudahkan pengawasan terhadap kemungkinan adanya pasukan Belanda atau patroli Belanda yang akan menyerang atau memasuki wilayah Kelurahan Banjarharja. 


Sedangkan kesekretariatan menempati rumah Bp. Suparjan di dusun Padaan, Banjarharjo, Kalibawang Kulon Progo. Disamping rumah Bp.Suparjan,sebagai tempat kegiatan sekretariat markas PPTD (MBKD) juga menempati rumah Prawiro Suparjan. Dirumah Bapak Pawiro Sardiyo inilah kentongan itu dipasang dan menjadi sarana yang efektif dan efisien sebagai tanda atau kode tentang situasi pada waktu itu.


Pada masa perang tersebut, kentongan juga digunakan sebagai alat pengawas dan penjaga keamanan. Jika ada ancaman atau serangan dari musuh, suara kentongan akan segera menggema di sekitar markas besar, memberi peringatan kepada semua anggota untuk siap sedia. Kentongan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesan penting atau memberikan peringatan kepada seluruh anggota komando. 


Suara kentongan dapat ditangkap oleh orang-orang di sekitar markas besar, sehingga informasi dapat dengan cepat disebarkan dan dipahami oleh semua orang, tetapi juga menjadi bagian penting dari budaya Jawa. Di markas besar Komando Djawa. Suara kentongan yang khas dan menggetarkan menjadi simbol kekuatan dan persatuan dalam komunitas.


Dengan demikian, kentongan dari Markas Besar Komando Djawa memiliki sejarah yang kaya dan penting dalam budaya Jawa. Alat komunikasi ini tidak hanya menghubungkan anggota komando, tetapi juga merupakan simbol kebersamaan dan identitas yang kuat dalam komunitas.  Maka dari itu Kentongan tersebut perlu diselamatkan dan diinfokan ke seluruh masyarakat , sehingga pada tanggal 23 Desember 1998 , berdasarkan berita acara serah terima barang nomor 485/F4.113/J3/98, kentongan tersebut diangkat menjadi salah satu koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yang diletakan di diorama III dalam kondisi asli dan utuh.



Penulis: Tiny Mafdalena (Ilmu Komunikasi, UMY).




Referensi:


Tashadi dkk . 1992. PERANAN DESA DALAM PERJUANGAN KEMERDEKAAN : Studi Kasus Keterlibatan Beberapa Desa di Daerah Istimewa Yogyakarta periode 1945-1949.Depdikbud.

 

Chusbiantoro , Jauhari dan V.Agus Sulistya.2020.Buku Panduan Museum Perjuangan Yogyakarta. Yogyakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

 




 








Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?