Selokan Mataram, Wujud “Tahta untuk Rakyat” yang Mengairi Kehidupan Masyarakat Yogyakarta

administrators 27 Mei 2022 13:45:48 375

Selokan Mataram adalah saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo di sebelah barat dan Sungai Opak di sebelah timur. Pada awalnya, Selokan Mataram merupakan sebuah parit yang sudah ada sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1914. Namun, seiring bertambahnya kebutuhan akan air untuk perkebunan tebu dan sawah di daerah Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan usulan kepada pemerintah Jepang untuk melakukan pembangunan sebuah saluran irigasi. Menurut Sri Sultan Hamengkubuwono IX, pembangunan saluran irigasi tersebut sangatlah penting untuk mendukung kegiatan pertanian di Yogyakarta yang menerapkan sistem tadah hujan.


Pembangunan Selokan Mataram dimulai pada Agustus 1944. Proyek ini dibangun sepanjang 21 km dan mempunyai terowongan sepanjang 600 meter serta 52 jembatan. Areal pengairan Selokan Mataram memiliki luas 15.734 ha yang berawal dari Bendungan Karangtalun di Dusun Karangtalun, Desa Karangtalun, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang yang terletak di sisi timur Sungai Progo. Tahapan pembangunan Selokan Mataram dimulai dengan membuat satu sudetan dari Selokan Van der Wijck di salah satu titiknya yang terletak di Desa Macanan, sisi timur Desa Bligo, Ngluwar, Magelang. Kemudian titik tersebut menjadi titik 0 km dari Selokan Mataram dan titik 0 km dari Selokan Van der Wijck. Sementara itu saluran sepanjang 3 km dari titik tersebut ke sudetan Sungai Progo di Karang Talun, Ngluwar, Magelang dikenal dengan Saluran Induk Irigasi Mataram.


Proses pembangunan Selokan Mataram melibatkan dua pihak, yakni pemerintah militer Jepang yang bertugas sebagai pengawas dan pemerintah Keraton Yogyakarta yang bekerja di bidang Kemakmuran dan Pekerjaan Umum sebagai pelaksana. Tentara Jepang bertugas sebagai pemimpin dalam setiap proses pengerjaan proyek pembangunan Selokan Mataram. Kemudian untuk kelancaran di lapangan, baik dari segi administrasi maupun pengerahan tenaga kerja, maka dilibatkan pula pemerintah setempat (Kapanewon dan Kalurahan).


Tahapan pembangunan Selokan Mataram dimulai dengan pengukuran dan pematokan yang dilakukan oleh pihak Keraton Yogyakarta dibantu dengan aparat kelurahan setempat. Setelah melakukan pengukuran dan pematokan, langkah selanjutnya ialah melakukan penggalian Selokan Mataram. Tahapan penggalian Selokan Mataram ini memerlukan tenaga kerja yang sangat besar karena pada saat itu proses pengerjaannya belum menggunakan alat berat seperti traktor. Para tenaga kerja yang dikerahkan dalam penggalian Selokan Mataram bekerja mulai tanggal 20 September hingga 20 Oktober 1944. Mereka bekerja terus-menerus sepanjang siang dan malam. Bahkan mulai tanggal 20 Januari – 20 April 1945 pekerjaan dilakukan sampai pukul 02.00 dini hari.


Tenaga kerja yang ikut serta dalam proses pembangunan Selokan Mataram sebanyak 1.289.000 dan 68.000 orang romusha sukarela yang terbagi atas dua, yaitu buruh dan kerik aji (kerja bakti). Biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan Selokan Mataram sebesar f 1.600.000. Masing-masing romusha mendapatkan upah berlainan. Romusha yang bekerja di Selokan Mataram mendapatkan upah antara f 0,35 dan f 0,40, namun ada juga yang tidak mendapatkan bayaran sama sekali dan diganti dengan jatah makan satu kali sehari. Di lain sisi, ada pekerja yang diupah dengan sistem borongan, yang mana upah kelompok buruh dihitung per m2 untuk meratakan tanah. Dalam sehari, para pekerja tersebut mendapat jatah makan sekali dan menerima upah setiap akhir pekan (sabtu). Upah yang diterima tergantung seberapa banyak mereka menggali atau meratakan tanah. Rata-rata setiap buruh mampu menggali sebanyak tiga sampai empat m3 dan upah rata-rata per hari yang diterima para pekerja sebesar 10 sen. Berbeda dengan kelompok buruh, kelompok kerik aji yang bekerja hingga tengah hari hanya menerima jatah makan saja dan tidak diberi upah sepeserpun.


Meskipun upah yang didapatkan para tenaga kerja tidaklah seberapa, namun pada kenyataannya dengan adanya proyek pembangunan Selokan Mataram ini para penduduk yang tinggal di sekitar lokasi proyek dapat terbebas dari pemanggilan sebagai romusha. Selain itu, proyek pembangunan Selokan Mataram juga membawa kemakmuran bagi masyarakat Yogyakarta, terutama dalam bidang pertanian. Sawah seluas kurang lebih 8200 ha mendapat pengairan sempurna sehingga mampu menghasilkan padi sebanyak 160.000 kuintal selama setahun yang sebagian hasilnya akan disetorkan kepada pihak pemerintah Jepang.

Penulis: Brenda Hayuning Zaenardi

 

Referensi Bacaan:

Sulistya, V. Agus, Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 2020.

Utomo, Yuana Tri, “Mengungkap Motivasi Sultan Hamengku Buwono IX Membangun Selokan Mataram”, Imanensi, Vol. 6, No. 2, 2021. 



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?