Vredeburg in Frame Gandeng PSJB Paramarta Sajikan Edukasi Museum dalam Sastra Jawa

administrators 28 Februari 2022 10:05:55 104


Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Minggu (27/2/2022) menyelenggarakan Vredeburg in Frame dengan menampilkan Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul (PSJB) Paramarta. Dalam acara ini, sejumlah anggota PSJB Paramarta bergantian membacakan karya-karyanya, baik berbentuk geguritan (puisi berbahasa jawa), cerkak (cerita pendek berbahasa jawa), serta macapat. Menariknya, semua karya yang ditampilkan berisi edukasi terkait Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Acara ini disiarkan langsung dari kanal Youtube Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hadir sebagai pembawa acara, Wahyu Triana. Turut memberikan sambutan dalam acara ini Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Suharja. 

Dalam sambutannya Kepala Museum menyampaikan bahwa Vredeburg in Frame merupakan program daring Museum Benteng Vredeburg yang menyajikan tiga segmen acara dalam satu frame, yakni edukasi, kreasi, dan inspirasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi kegiatan unggulan sebagai tempat berekspresi bagi semua pemangku kepentingan dan komunitas. Vredeburg in Frame ini menjadi pembuktian ke masyarakat bahwa Vredeburg terbuka bagi semua komunitas. Selain itu dengan semakin banyaknya kerjasama yang dijalin dengan komunitas, maka akan menjadikan kegiatan museum lebih variatif sehingga tidak membosankan bagi pengunjung.

Sementara Ketua Paguyuban, Bambang Nugroho menyampaikan terima kasihnya kepada Museum Benteng Vredeburg karena telah diberikan kesempatan untuk tampil dalam Vredeburg in Frame. Lebih lanjut Bambang Nugroho menyampaikan bahwa paguyuban ini menghimpun para penulis/sastrawan jawa yang telah berkarya diberbagai media masa serta terbitan buku karya mereka. Paguyuban ini di didirikan sekitar 4,5 tahun yang lalu, dan saat ini memiliki anggota aktif sejumlah 55 orang. Anggota PSBB Paramarta ini banyak telah menorehkan prestasi, seperti memenangi lomba novel tingkat propinsi; menang dalam lomba penulisan naskah ketoprak, memenangi lomba cerkak dan sandiwara. Dan yang membanggakan, dalam beberapa tahun ini jika ada sayembara penulisan naskah, Bantul yang mendominasi kemenangan. 

Bahkan anggota PSBB Paramarta ini ada yang telah berkarya selama 40 tahun, sehingga pihaknya berharap agar generasi muda juga bisa bergabung dengan paguyuban ini. PSJB Paramarta kini semakin berkembang setelah bekerjasama dengan MGMP Bahasa Jawa SMP dan SMA, serta Dinas Kabupaten Bantul. Maka paguyuban ini juga secara rutin mengadakan wokshop dan pelatihan-pelatihan penulisan yang terbuka untuk masyarakat umum. Tiap tahunnya paguyuban ini menerbitkan antologi geguritan, antologi cerkak, serta antologi esai berbahasa jawa. 

Acara Vredeburg in Frame ini selain menampilkan pembacaan karya dari anggota PSBB Paramarta, juga diisi dengan Segmen Edukasi tentang ‘Serangan Umum 1 Maret 1949’ yang disampaikan oleh Edukator Museum, Noibenia Gendrit Kharisma Ryzki. Dalam penjelasannya, Noibenia mengungkapkan bahwa Agresi Militer Belanda II yang terjadi pada bulan Desember 1948  mengakibatkan ibukota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Kemudian, Presiden Soekarno, Hatta, serta para menteri kabinet, oleh Belanda diasingkan ke pulau Sumatera. Sementara di Yogyakarta, pemimpin yang tersisa hanyalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Soedirman. Tak lama berselang, Pangsar Soedirman memutuskan untuk melakukan perang gerilya. Selama masa perang gerilya, terjalin konsolidasi militer antara Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Jenderal Soedirman, serta Letkol Soeharto (Komandan Wehkreise 3) yang memutuskan bahwa tanggal 1 Maret 1949 akan dilakukan Serangan Umum ke kota Yogyakarta. Serangan Umum 1 Maret 1949 dilancarkan pukul 06.00 saat sirine berakhirnya jam malam mulai dibunyikan. Seluruh lapisan masyarakat dan TNI dari berbagai sisi dikerahkan. Sasaran penyerangannya adalah gedung-gedung yang dikuasai oleh tentara-tentara Belanda. Pasukan TNI bersama rakyat berhasil menduduki Yogyakarta sampai dengan pukul 12.00. Setelah pukul 12.00 seluruh pasukan kembali ke markas masing-masing. Karena hanya berlangsung selama 6 jam, Serangan Umum 1 Maret ini sering disebut sebagai Serangan 6 Jam di Jogja.

“Tujuan dilakukannya Serangan Umum 1 Maret ini ada tiga. Pertama, Sebagai dukungan politik kepada Dewan Kemananan PBB untuk melawan klaim Belanda bahwa TNI kita sudah kalah; Kedua, Sebagai upaya untuk memantik perjuangan TNI dan rakyat; dan Ketiga, Sebagai bukti ke dunia internasional bahwa Indonesia masih ada’’, Pungkas Noibenia mengakhiri Segmen Edukasi dia acara Vredeburg in Frame. 

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?