Mengenang Sejarah Pejuang Bali dalam Mempertahankan Kemerdekaan

administrators 06 November 2023 10:22:43 335

Koleksi milik pejuang dari Bali yaitu I Nengah Whirta Tamu atau biasa dikenal dengan sebutan Bapak Tjilik mempunyai peran besar terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan di daerah Bali dan sekitarnya pada tahun 1946-1949. Koleksi tersebut terdiri dari tongkat, bumbung, perples, cangkir bumbu, senter, ikat pinggang rotan, dan dokumen perjuangan. Benda-benda tersebut digunakan para pejuang Bali ketika bergerilya melawan Belanda di hutan Buleleng dalam pertempuran yang disebut Puputan Margarana. 

Puputan Margarana merupakan puncak pertempuran rakyat Bali melawan Belanda di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai pada tanggal 20 November 1946. Pertempuran ini disebabkan oleh hasil perjanjian Linggarjati yang menyatakan bahwa Belanda secara de facto mengakui eksistensi Negara Republik Indonesia hanya meliputi Sumatera, Jawa dan Madura. Artinya Bali tidak termasuk dalam Perjanjian Linggarjati sehingga membuat rakyat Bali kecewa dan memicu perlawanan. Selain itu Puputan Margarana juga dipicu oleh usaha belanja untuk menyatukan Bali dengan wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) lainnya. Maka dari itu kesatuan besar yang meliputi wilayah Sundakecil dengan nama Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) dibentuk untuk menghadapi kesatuan Belanda. 

Peristiwa tersebut mengakibatkan gugurnya Pimpinan DPRI Letkol I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya akibat kekuatan senjata dan pasukan yang kurang seimbang dengan pasukan Belanda. Sepeninggal Letkol I Gusti Ngurah Rai pimpinan DPRI dipegang oleh empat orang pemuda pejuang yaitu Widjakusuma, K, Widjana, W.Noor Rai, dan Nyoman Mantik. Perjuangan kemudian dilanjutkan oleh pemuda pejuang Bali pasca Puputan Margarana hingga tercapai pengakuan kedaulatan RIS pada tanggal 27 desember 1949. Kesatuan pemuda kemudian membentuk Pemerintah Darurat Indonesia (PDRI) untuk menyusun kekuatan baru melanjutkan perjuangan kedua setelah  I Gusti Ngurah Rai gugur. Mereka membentuk markas besar di daerah Buleleng di bawah pimpinan Tjilik untuk mengadakan operasi perlawanan terhadap Belanda. Hingga setelah suasana terkendali para pejuang kembali ke masyarakat dan membentuk Yayasan Kebaktian Pejuang (YKP) dipimpin oleh Tjilik atau yang saat ini telah mengalami perubahan menjadi Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP).

Sejak saat itu masyarakat Bali memperingati hari Puputan Margarana pada tanggal 20 November untuk mengenang jasa jasa pahlawan yang telah gugur membela bangsa dan negaranya. 


Penulis: Nurul Laeli

Penyunting : Ita Ratnasari


Sumber:


Chusbiantoro, Jauhari dan V. Agus Sulistya. (2021). Buku Panduan Museum Perjuangan Yogyakarta. Yogyakarta: Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

https://regional.kompas.com/read/2022/07/23/185325878/puputan-margarana-tokoh-penyebab-kronologi-dan-dampak?page=all




Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?