Koleksi Buku Perpustakaan Munculnya Elite Modern Indonesia

administrators 20 Agustus 2021 10:55:30 113

Wahidin Sudirohusodo, Sutomo, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara, Sukarno, Hatta, Syahrir, dan Tan Malaka pasti #sahabatmuseum sudah mengenal bukan?

 

Tapi apakah #sahabatmuseum terbersit kenapa Indonesia bisa melahirkan tokoh, pejuang, dan pahlawan seperti mereka? Jawabannya bisa didapatkan di buku karya Robert van Niel ini.


Pada tahun 1900, pulau Jawa adalah bagian yang paling utama dari kekuasaan kolonial Belanda. Dalam masyarakat Jawa terdapat tiga klasifikasi pengelompokan dalam masyarakat yaitu: orang Eropa, orang Cina dan Arab, orang Indonesia. Semenjak abad 19, pengawasan atas pulau Jawa pun mulai dikuasai oleh parlemen Belanda, atau yang disebut Staten Generaal. Pengawasan secara praktis atas masalah-masalah kolonial berada di tangan Menteri Urusan Jajahan, yang menjadi anggota kabinet pada saat itu, bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya pada Kepada Staten Generaal.

 

Di Hindia Timur pada tahun permulaan abad 20, orang telah mulai mengembangkan semangat politik etis. Mereka ini tidak berminat untuk bermain dengan semboyan seperti para politisi negara induk. Di abad 19, sebagian orang Belanda sudah mulai prihatin terhadap kondisi kesejahteraan dan kondisi status pribumi. Mereka telah memperjuangkan usaha-usaha pribadi untuk memperbaiki keadaan. Pelaksana Politik Etis ialah J.H. Abendanon, yang diangkat menjadi Direktur Pendidikan di Hindia Timur pada tahun 1900.


Pemimpin Politik Etis Kolonial sudah lama mengharapkan untuk mengembangkan suatu minat dalam suatu perusahaan dan perniagaan di kalangan bangsa Indonesia. Tidak adanya “kelas menengah” di Indonesia dibandingkan dengan negara barat merupakan suatu penghalang yang besar dalam membentuk Hindia Timur yang bebas berpolitik dengan masyarakat yang tenang. Banyak usaha kaum etis yang ditunjukkan untuk memperkokoh jaringan ekonomi bangsa Indonesia.


Elite fungsional pada umumnya malahan tetap berada di dalam lingkungan hidup Indonesia, tetap menerima pendidikan yang terbaik dari barat. Ide yang ada adalah agar mereka bergerak ke atas, ke arah elite, dan agar elite pada gilirannya turun ke bawah pada masa itu, jadi mengadakan hubungan dan membentuk sintesa budaya akan merangkum semua masyarakat Indonesia, dan bukan semua penduduk Hindia Timur. Proses ini dimulai dengan adanya dewan kabupaten di satu pihak dan perluasan otonomi desa di pihak lain. Sekali dimengerti bahwa kebijakan politik baru kolonial berlandaskan pengakuan atas dualisme, pemeritah dengan politik baru ini menyetujui sepenuhnya tentang aktivitas pergerakan kaum lokal Indonesia dengan menggabungkan diri sebagai satu jalan untuk memajukan orang Indonesia yang berorientasi barat.


Selamat membaca. Merdeka!!!

Resensi buku


Judul “Munculnya Elite Modern Indonesia"


Penulis : Robert van Niel


Penerbit: Pustaka Jaya


Tahun Terbit : 2009


Koleksi Perpustakaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta


Call number : 959.8 NIE m


Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sebagai institusi yang bergerak dibidang ilmu pengetahuan menyediakan fasilitas perpustakaan sebagai sumber pustaka bagi karyawan museum maupun masyarakat umum. Ruang perpustakaan menempati bangunan J (eks perkantoran).


Perpustakaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dapat dikunjungi pada hari kerja dengan menyesuaikan jam operasional kantor dengan berbagai fasilitas, diantaranya:


- Katalog buku Online yang dapat diakses di https://libsys-online.xyz/museum-vredeburg/opac/


- Buku-Buku yang tidak hanya bisa dibaca ditempat, namun juga bisa dipinjam oleh pengunjung.


- Komputer dan Wifi


- Ruang Baca yang representatif dan dilengkapi dengan AC dan penerangan yang cukup


- Loker Penyimpanan Tas bagi Pengunjung





Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?