Cut Nyak Dien, Tunaikan Sumpah Hancurkan Penjajah

administrators 30 Desember 2021 10:45:21 66

Cut Nyak Dien adalah tokoh pejuang dari Aceh yang dilahirkan di Lampadang, Aceh Besar pada tahun 1850. Ayahnya, Teuku Nanta Setia merupakan seorang bangsawan dan panglima perang yang secara turun temurun menjabat sebagai Uleebalang VI Mukim di Kesultanan Aceh pada Abad 19. Sedangkan ibunya adalah puteri dari seorang Uleebalang Lampagar. Pada saat usia 12 tahun, Cut Nyak Dien dinikahkan dengan Teuku Ibrahim Lam Nga, putra tunggal dari Uleebalang Lamnga XIII.

Pada tahun 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dalam sejarahnya, perang Aceh merupakan perang terlama yang dihadapi pemerintah kolonial Hindia Belanda, karena rakyat Aceh memiliki jiwa pantang menyerah dan menganggap peperangan tersebut sebagai bagian dari Jihad.  Perang Aceh terbagi dalam empat fase yang berlangsung dari tahun 1873 sampai 1910. 

Ketika Belanda melancarkan serangan ke wilayah VI Mukim, Cut Nyak Dien selama dua setengah tahun berpisah dengan suaminya karena mengungsi bersama anaknya yang masih bayi. Sementara suaminya turut dalam barisan perang. Namun pada 29 Juni 1878, Teuku Ibrahim Lam Nga gugur dalam sebuah pertempuran di Gle Tarum. Kematian suaminya menyulut kemarahan Cut Nyak Dien, dan sejak saat itu ia bersumpah akan menghancurkan Belanda. 

Tahun 1880, Cut Nyak Dien akhirnya menikah dengan Teuku Umar setelah sebelumnya sempat menolak lamarannya. Namun karena Teuku Umar memperbolehkan Cut Nyak Dien ikut bertempur, akhirnya Cut Nyak Dien menerima pinangan Teuku Umar. Teuku Umar merupakan panglima perang yang sangat cerdik dan pandai bersiasat. Pernikahan keduanya menjadikan perlawanan rakyat Aceh menetang penjajah semakin tangguh. Pasukan Belanda berkali-kali berhasil dikalahkan di berbagai medan pertempuran. Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien ikut bergerilya selama 20 tahun. 

Suami yang kedua ini pun gugur pada 11 Februari 1899 ketika melakukan penyerangan ke Meulaboh. Mengetahui ayahnya ditembak mati Belanda, Cut Gambang, putri Cut Nyak Dien dengan Teuku Umar, yang masih remaja menangis. Cut Nyak Dien kemudian menampar anak gadisnya sembari menasehati “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid”. 

Sepeninggal Teuku Umar, Cut Nyak Dien kembali melanjutkan memimpin pertempuran bersama dengan pasukannya yang tidak begitu besar. Karena iba dengan kondisi Cut Nyak Dien yang terus berjuang meski menderita penyakit rabun dan encok, anak buahnya yang bernama Panglot melaporkan keberadaannya kepada Belanda, tanpa sepengetahuan Cut Nyak Dien hingga membuatnya murka pada orang kepercayaannya tersebut. Akhirnya Cut Nyak Dien ditangkap kemudian dibawa ke Banda Aceh. Sesui kesepakatan Belanda dengan Panglot yang mengajukan syarat ke Belanda untuk memberikan pengobatan kepada Cut Nyak Dien, Belanda pun memenuhi janjinya. 

Saat di Banda Aceh, Cut Nyak Dien masih tetap menjalin hubungan dengan pasukannya. Karena semangat juangnya yang tak kunjung padam, akhirnya Belanda membuang Cut Nyak Dien ke Sumedang sebagai tahanan politik hingga wafat pada 6 November 1908. Berkat jasa-jasanya, ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 2 Mei 1964 berdasarkan SK No. 106/1964. 


Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?