Gandeng Sanggar Lembayung Senja, Vredeburg Lestarikan Budaya Tradisional

administrators 22 Oktober 2021 15:37:24 46


Museum Benteng Vredeburg menyelenggarakan acara Panggung Layanan Kreasi Apresiasi Publik pada Minggu (10/10/2021) dengan mengusung tema ‘Museum sebagai Wadah Pelestarian Budaya Tradisional’. Acara yang digelar secara virtual ini dimeriahkan oleh Sanggar Lembayung Senja yang menampilkan Tari Singa Barong dan Pentas Kesenian Jathilan. Sanggar Lembayung Senja merupakan Sanggar Tari di Yogyakarta yang beberapa waktu yang lalu telah berhasil Memecahkan Rekor Muri dengan 24 Jam Manari Jathilan. Dalam kesempatan tersebut, hadir memberikan sambutan, Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Drs. Suharja.  

Dalam sambutannya Kepala Museum menyampaikan bahwa sesuai dengan amanat Undang-Undang No.5 Tahun 2007 tentang Pemajuan Kebudayaan pasal 41 bahwa peran museum sebagai ruang publik dan ruang ekspresi untuk pemajuan kebudayaan, sehingga museum mempunyai kewajiban mmfasilitasi masyarakat dan semua pemangku kepentingan agar bisa berekspresi di museum. Adanya museum untuk kepentingan masyarakat sehingga harus ada komunikasi dua arah antara masyarakat dan museum, oleh karenanya museum siap memfasilitasi. 

Setelah menampilkan Tari Singa Barong, acara dilanjutkan dengan bincang-bincang antara Kepala Museum dengan MC, Wahyu Triana. Dalam bincang-bincang tersebut Kepala Museum kembali menekankan peran museum mengacu pada Perpres 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, bahwa museum berperan dalam penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda. Sehingga museum mempunyai dua peran sekaligus, yakni sebagai ruang bagi pemajuan kebudayaan serta berperan dalam penguatan karakter bagi generasi muda. Terlebih bahwa Museum Benteng Vredeburg berlokasi di Yogyakarta yang merupakan kota budaya.

Lebih lanjut Drs. Suharja menyampaikan bahwa dalam konsep Tri Matra Pendidikan, bahwa pendidikan terbaik bagi anak terjadi di tiga tempat yakni di Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah. Sekolah tidak lengkap tanpa peran museum yang berperan untuk membentuk karakter generasi muda agar mempunyai akar budaya yang kuat. Oleh karenanya, museum melengkapi diri dengan fasilitas yang ditujukan bagi anak muda, diantaranya virtual tour yang bisa diakses melalui website vredeburg.id; virtual tour dengan permintaan (bersurat) yang akan dipandu oleh edukator museum; tata pameran yang dilengkapi dengan fasilitas barcode, touch screen, dream corner; disediakan fasilitas penunjang free wifi dan colokan listrik; memfasilitasi kegiatan Magang/ PKL bagi siswa maupun mahasiswa secara online selama pandemi; bekerjasama dengan kampus memberikan Kuliah Kampus Merdeka; menghadirkan bioskop di museum dengan film-film bertemakan sejarah perjuangan dan budaya; serta fasilitas bioskop keliling yang siap dipanggil untuk acara kemah maupun acara pertunjukan di kampung. 

“Selain itua juga sedang mempersiapkan ruang studio yang akan kita pakai untuk membuat tayangan podcast”, papar Kepala Museum dengan penuh semangat. 

Dalam acara tersebut, diulas juga salah satu diorama di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta yaitu Diorama Pertempuran Kotabaru, yang terjadi pada Bulan Oktober 1945. Sebagaimana di kisahkan oleh Noibenia Gendrit, Edukator Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, bahwa penyerbuan markas tentara Jepang di Kotabaru diawali dengan perundingan antara pihak Jepang dengan pejuang Yogyakarta yang tidak mencapai mufakat karena Jepang bersikeras tidak mau menyerahkan senjatanya pada pejuang Yogyakarta sehingga keesokan harinya tanggal 7 Oktober pukul 04.00 pecah Pertempuran di Kotabaru. 

Ketika pertempuran makin gencar terjadi, Moh. Saleh dan RP. Sudarsono berhasil masuk dalam tangsi Jepang dan menemui Mayor Otzuka. Kedua pimpinan itu menanyakan apakah Mayor Otzuka mau menyerah atau tidak. Dan kemudian dijawab bahwa Mayor Otzuka mau menyerahkan senjata Jepang hanya kepada Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pukul 10.30 tanggal 7 Oktober 1945 pertempuran berhenti. Pasukan Jepang mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Sekitar 360 orang serdadu Jepang di Kido Butai Kotabaru berhasil ditawan.  Polisi Istimewa kemudian membawanya ke penjara Wirogunan. Sore harinya, senjata jepang diserahkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Senjata Jepang kemudian disimpan di Bangsal Pracimosono dan selanjutnya diserahkan kepada TKR. Dalam pertempuran yang berlangsung di Kotabaru Yogyakarta tanggal 7 Oktober 1945 tersebut gugur sebanyak 21 orang pemuda pejuang yang kemudian nama-nama mereka diabadikan sebagai nama-nama jalan di Kotabaru dan sekitarnya.

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)


 




Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?