Kisah Frans S. Mendur, Lensa, dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

administrators 28 April 2022 09:44:10 209

Frans Soemarto Mendur atau yang lebih dikenal dengan nama Frans S. Mendur merupakan seorang fotografer yang lahir pada 16 April 1913 di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Ia adalah anak kedua dari pasangan Agustus Mendur dan Ariantje Mononimbar. Sejak usia muda, Frans S. Mendur sudah berada di daerah perantauan. Ia berkelana dari kampung halamannya menuju Surabaya kemudian pergi ke Batavia untuk bertemu dengan sang kakak, Alexius “Impurung” Mendur. Sang kakak inilah yang banyak memberikan ilmu-ilmu seputar dunia fotografi kepadanya sehingga ia mulai tertarik dengan kegiatan potret-memotret tersebut. 

Semasa muda, Frans S. Mendur bekerja sebagai wartawan di Java Bode, sebuah surat kabar yang diterbitkan di Batavia (kini disebut Jakarta) pada 1 Desember 1869. Setelahnya, Frans S. Mendur bekerja di surat kabar Asia Raya. Ketika bekerja di surat kabar Asia Raya inilah, Frans S. Mendur bersama sang kakak mendapat kabar mengenai upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia melalui berita yang disiarkan oleh Kantor Berita Domei. Mendengar kabar tersebut, Mendur bersaudara segera bergegas pergi menuju kediaman Soekarno di Jl. Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta Pusat untuk mengabadikan momen bersejarah tersebut. 

Mendur bersaudara itu menempuh jalan yang berbeda ketika menuju ke lokasi pembacaan proklamasi. Kala itu, Frans S. Mendur dengan berbekal kamera Leica dan satu rol film yang ia “pinjam” dari kantor Djawa Shimbun Sha memotret peristiwa bersejarah itu sebanyak tiga kali. Pertama, saat Soekarno membacakan teks proklamasi bersama Moh. Hatta. Kedua, ketika Letkon Raden Mas Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan Surastri Karma (SK) Trimurti mengibarkan sang saka bendera merah putih. Ketiga, foto memperlihatkan suasana pengibaran sang saka bendera merah putih dengan latar belakang kumpulan masyarakat yang berkumpul menyaksikan proklamasi. Mendur bersaudara merupakan satu-satunya fotografer yang hadir untuk meliput pembacaan proklamasi. Hal ini dikarenakan pembacaan proklamasi berlangsung secara spontan tanpa adanya persiapan khusus. Namun, di tengah proses pengambilan gambar terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Film kamera yang dibawa oleh Alex “Impurung” Mendur disita dan plat-plat negatif miliknya juga dihancurkan oleh tentara pasukan Jepang. 

Lain halnya dengan Frans S. Mendur. Ia lebih cerdik dalam menjaga foto-foto hasil jepretannya dengan mengubur plat-plat negatif miliknya di halaman Kantor Asia Raya. Ketika tentara Jepang menggeledah seluruh hasil fotonya, Frans S. Mendur membuat pengakuan kepada tentara Jepang bahwa negatif film miliknya telah dirampas pihak barisan pelopor pendukung Soekarno. Setelah suasana lebih aman dan kondusif, ia mengambil negatif film tersebut dan mencetaknya secara diam-diam di kamar gelap Kantor Berita Domei. 

Sehari setelahnya, pada tanggal 18 Agustus 1945, berita mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia dimuat secara singkat oleh harian Asia Raya. Namun tidak ada satu pun foto yang dimuat di surat kabar tersebut. Hal ini merupakan upaya pihak tentara Jepang untuk menghambat penyebaran berita kemerdekaan Indonesia kepada dunia luar. Karya bersejarah milik Frans S. Mendur tersebut akhirnya berhasil dipublikasikan untuk pertama kalinya pada 17 Februari 1946 dalam penerbitan khusus “Nomor Peringatan Enam Bulan Republik” yang diterbitkan harian Merdeka. 

Foto-foto mengenai proklamasi dan peristiwa di sekitarnya yang dipotret oleh Frans S. Mendur sejatinya menjelaskan bahwa bukti sejarah secara autentik merupakan fakta yang tidak bisa terbantahkan mengenai peristiwa masa lalu. Selain itu, melalui karya-karya Frans S. Mendur inilah dapat dipahami bahwa proses meraih kemerdekaan hingga terlaksananya pembacaan proklamasi tidaklah diperoleh secara instan melainkan diiringi dengan perjuangan dan pengorbanan dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia.  

Penulis: Brenda Hayuning Zaenardi

Sumber Referensi Bacaan:

Kuswiah, Wiwi, Alexius Impurung Mendur (Alex Mendur), Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Investarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1986. 

Rondowanu, Clara, “Alex dan Frans Mendur: Foto-foto Proklamasi yang Masih Tercecer” https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40945409 , diakses pada Senin, 25 April 2022. 

Rundjan, Rahadian, “Peran Fotografer dalam Mengabadikan Proklamasi Kemerdekaan”, https://historia.id/politik/articles/peran-fotografer-dalam-mengabadikan-proklamasi-kemerdekaan-P0oG7/page/1 , diakses pada Senin, 25 April 2022. 






Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?