Tampil dalam Podcast Perdana, Duta Museum Ungkap PR-nya di Museum

administrators 31 Januari 2022 16:30:51 327


Memanfaatkan studio podcast barunya, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta pada hari Kamis (21/1/2022) menyajikan tayangan perdana podcast dengan bintang tamu Ayu Maun Nadhifah (Duta Museum DIY untuk Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta) dan Adi Guzali (Duta Museum DIY untuk Museum Perjuangan Yogyakarta).  Sebagai host dalam bincang santai tersebut, V. Agus Sulistya (Pamong Budaya Ahli Madya Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta).


     

Sebagai informasi bahwa Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menyelenggarakan pemilihan Duta Museum DIY sejak tahun 2014. Karena keberadaan Duta Museum sejauh ini dirasa mampu memberikan kontribusi terhadap pengenalan museum kepada masyarakat, maka program ini berlangsung hingga saat ini. Pada pemilihan Duta Museum DIY tahun 2021 untuk masa bakti 2022 diputuskan 38 Duta Museum DIY untuk ditempatkan di museum-museum di DIY. Dua diantaranya yaitu Ayu Mauna dan Ali Ghazali, yang masing-masing didaulat sebagai Duta Museum Benteng Vredeburg dan Duta Museum Perjuangan Yogyakarta. 

Dalam kesempatan bincang santai di studio podcast Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta tersebut, keduanya menyadari bahwa ditempatkan sebagai Duta Museum dimanapun memiliki tantangannya masing-masing. Ayu Mauna ketika dimintai tanggapannya  menyampaikan bahwa tanpa di promosikan, Museum Benteng Vredeburg sudah sangat terkenal, tak hanya dikalangan wisatawan domestik namun juga wisatawan mancanegara. Program-program publiknya juga sudah banyak. Selain itu, dimuseum ini juga sudah sangat lengkap sarana prasarananya, sehingga eksekusi program bisa dengan mudah dilaksanakan. Namun Demikian, Ayu menengarai bahwa anak sekolah yang berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg seringkali karena faktor adanya tugas sekolah. 

“Karena disini sudah banyak programnya, maka saya hanya akan membuat satu program untuk menyadarkan kaum milenial terkait pentingnya museum, jadi bukan ke museum hanya karena ada tugas sekolah. Maka narasi di museum perlu dikemas agar bisa hits dikalangan milenial dengan penyajian yang interaktif”, papar Ayu. 

Namun tidak demikian halnya dengan Adi Ghazali yang didaulat di Museum Perjuangan yang kondisinya berbanding terbalik dengan Museum Benteng Vredeburg dari sisi ketenaran. Padahal museum yang merupakan unit 2 dari Museum Benteng Vredeburg ini sesungguhnya memiliki koleksi asli yang sangat menarik. 

“Maka PR saya adalah bagaimana agar mampu menggaet peminat Museum Perjuangan menjadi lebih banyak. Saat ini saya berkoordinasi dengan humas untuk menghidupkan instragramnya yang sudah lama vakum, dan mempromosikannya ke masyarakat”, ungkap Adi. 

Adi juga menyoroti program publik yang selama ini menjadi unggulan di Museum Perjuangan, yakni “Perjuangan Expo” yang vakum selama pandemi. Menurutnya ini perlu dikembangkan lagi dengan inovasi, serta penyesuaian / adaptasi baru agar program ini dapat terus berlanjut karena “Perjuangan Expo” menjadi branding dari Museum Perjuangan. Selain itu, Adi juga melihat potensi bahwa di Museum Perjuangan karena halamannya yang luas kerap dipakai untuk berolahraga pada sore hari, seperti jogging dan bersepeda. 

“Maka apapun komunitas yang ada disana, saya ingin merangkul, dan mengajak untuk terus beraktivitas di museum, sehingga secara tidak langsung akan tercipta pemikiran bahwa ‘Museum adalah Rumah Kita’ yang harus kita jaga dan lestarikan”, pungkas Adi. 


Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?