Seminar Daring Peringatan Hari Purbakala ke 108 Dr. Jeane : Museum Vredeburg adalah Warisan Pertahanan bagi Bangsa Indonesia

administrators 21 Juni 2022 14:13:24 392


Menyemarakkan peringatan Hari Purbakala ke 109, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menghadirkan Seminar Daring bertajuk ‘Benteng Vredeburg: Cagar Budaya Bernilai Warisan Pertahanan’ pada Senin (20/06/2021). Seminar Daring menghadirkan narasumber Dr. Jeane Francoise (Dosen Prodi HI President University) yang merupakan seorang peneliti pertama Defense Heritage di Indonesia dengan disertasinya yang berjudul ‘Defense Heritage sebagai Program Bela Negara’. Selain Jeane, hadir juga sebagai narasumber Drs. Moh. Chawari, M.Hum. (Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Arkeologi Prasejarah & Sejarah BRIN) yang mengupas terkait tinjauan arkeologis Benteng Vredeburg sebagai bangunan pertahanan. 

Dalam paparannya  Jeane mengungkapkan bahwa Defense Heritage memiliki perbedaan dengan Cultural Heritage. Dilihat dari narasi dibalik objek/ bangunannya, Cultural Heritage cenderung bersifat kebudayaan dan sejarah kota, sementara Defense Heritage sangat kental dengan sejarah perjuangan bangsa tersebut. Selain itu, keberadaan objek-pbjek cultural heritage cenderung sebelum abad 16, sedangkan keberadaan objek-objek defense heritage dimulai sejak abad 16 disaat sudah dimulai adanya kolonalisasi. UNESCO memberikan keleluasaan kepada negara-negara untuk mendefinisikan defense heritage masing-masing. Nilai defense heritage tidak harus bersifat universal, namun mendukung kepentingan nasional bangsa yang bersangkutan. Syarat-syarat idealnya antara lain memiliki narasi sejarah bangsa, dikenal oleh masyarakat sekitarnya, dan apabila mungkin dipreservasi oleh pemerintahannya. 

Defense heritage merupakan proses pemikiran manusia untuk mengembangkan cultural heritage. Kemunculan ide Defense Heritage sejak tahun 2010-an, yang memunculkan suatu pemikiran bahwa perlu ada landasan teori untuk melakukan penelitian bangunan sisa pertahanan atau perlawanan sebuah bangsa melawan kolonialisme. Sementara terminologi yang sudah dikenal UNESCO seperti cultural heritage, war heritage, atau military heritage belum bisa menjelaskan hal tersebut. Istilah defense heritage merupakan istilah baru bagi orang Indonesia, sementara di negara-negara maju sudah familier dengan konsep defense heritage. 

Lebih lanjut Jeane mengungkapkan bahwa jumlah tangible defense heritage di Indonesia sangat banyak. Dari jumlah total 1.492 cagar budaya di Indonesia yang sudah dikenali oleh UNESCO (2020) dan dari total 66.513 cagar budaya (kebudayaan.kemdikbud.go.id, 2019) terdapat objek-objek defense heritage dengan periodisasi waktunya antara 1511 hingga 1949. Bentuk defense heritage di Indonesia juga cukup beragam, tidak hanya benteng, namun juga bisa dalam bentuk rumah, jalan, jembatan, kawasan atau wilayah, bahkan pesantren.

Namun demikian, payung hukum di Indonesia masih menginduk pada Warisan Budaya, sehingga kriteria dan kategorisasi ilmiah yang dikenakan pada Museum Benteng Vredeburg adalah Cagar Budaya atau Warisan Budaya atau Cultural Heritage. Padahal berdasarkan Warisan Pertahanan (Cultural Heritage), Museum Benteng Vredeburg adalah objek warisan pertahanan. Objek warisan pertahanan Museum Benteng Vredeburg berada pada Level 1 (ada bukti sejarah perjuangan bangsa, ada masyarakat setempat yang ikut berjuang, dan bangunan masih terawat dengan baik). 

Dalam kesempatan tersebut Jeane yang juga merupakan pendiri Masyarakat Warisan Pertahanan menilai bahwa kreatif digital yang telah dilakukan oleh tim Museum Benteng Vredeburg pada instagram sudah sangat baik, namun ia mendorong pihak museum untuk menyebutkan secara terang benderang bahwa Museum Benteng Vredeburg adalah Warisan Pertahanan bagi bangsa Indonesia. Selain itu, ia menganjurkan agar museum-museum dibawah Kemdikbud RI untuk mulai fokus mengartikulasikan narasi perjuangan secara lebih menarik bagi Generasi Z, seperti  interactive museum, 3D objects, cultural diplomatic robot, aplikasi HP, mobile game, dll. 

“Bagi pamong budaya dan licensed guide yang bekerja di Museum Benteng Vredeburg juga perlu memahami kaitan antara Museum Benteng Vredeburg dengan Warisan Pertahanan Bangsa Indonesia”, tandas Jeane. 

Sementara Drs. Moh. Chawari, M.Hum mengungkapkan bangunan benteng terkait dengan offensive (serangan / menyerang) dan defensive (sikap bertahan). Aspek pertahanan diwujudkan dalam berbagai bentuk dari yang sederhana hingga yang rumit, di antaranya benteng yang juga berkembang sesuai dengan tuntutan jaman. Adapun unsur-unsur pertahanan yang ada di Benteng Vredeburg terdiri atas parit keliling, tembok keliling, bastion, jembatan angkat, pintu gerbang, selasar, dan gudang mesiu. 

Pada umumnya benteng selalu berkonotasi dengan kemiliteran, peperangan, taktik dan strategi, maupun penguasaan wilayah. Namun demikian sebagai data arkeologi, benteng bukanlah semata-mata fenomena kemiliteran. Benteng didirikan di suatu tempat tertentu dilandasi oleh berbagai pertimbangan baik strategi maupun ekonomi tertentu. 


Untuk materi terkait bisa diunduh pada link berikut:

sistem pertahanan benteng vredeburg.pptx

paparan-warisan-pertahanan.pdf





Penulis : Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?