Tesdoang Vredeburg.id

Stasiun Tugu, Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Indonesia

administrators 04 Agustus 2023 08:51:04 326

Siapa yang tidak kenal dengan stasiun kereta api terkenal satu ini? Ini merupakan salah satu stasiun besar di Indonesia dan memiliki nilai sejarah yang tidak dapat terlupakan dari generasi ke generasi. Stasiun ini berdiri pada tanggal 12 Mei 1887 dan beroperasi pada 20 Juli 1887 oleh perusahaan pemerintah Hindia Belanda bernama Staatsspoorwegen (SS).

Pada awal penggunaannya, Stasiun Tugu difungsikan untuk distribusi barang terutama bahan mentah dan hasil perkebunan. Kemudian, beberapa tahun kemudian stasiun ini juga difungsikan untuk sarana menaikkan dan menurunkan penumpang. Selain itu, stasiun ini sangat strategis karena berlokasi di area perekonomian Pecinan dan Pasar Beringharjo.

Pada masa kemerdekaan, Stasiun Tugu menjadi aset vital bagi para pejuang rakyat Indonesia dalam mewujudkan kebebasan dari bayang-bayang kolonialisme. Terdapat dua peristiwa besar yang terjadi di stasiun ini adalah pemerintahan Indonesia yang hijrah ke Yogyakarta, Pengangkutan mantan tawanan warga negara Belanda dan Jepang serta datangnya pasukan Siliwangi pasca Perjanjian Renville.


DATANGNYA PARA PEMIMPIN RI DAN PEMINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN SEMENTARA KE YOGYAKARTA

Pada awal tahun 1946, pemerintah Indonesia ditekan dengan ancaman yang datang terus-menerus oleh militer asing terutama pasukan Sekutu bernama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) yang ternyata diboncengi oleh militer Belanda bermana Netherland Indies Civil Administration (NICA) satu bulan setelah kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuat keberjalanan pemerintahan RI di bawah tekanan yang sangat berisiko. Mulai dari banyaknya ancaman yang ditujukan kepada para pemimpin RI hingga maraknya aksi pembunuhan dan penculikan. Situasi tersebut menyebabkan Ibukota pemerintahan RI sementara dipindahkan ke Kota Yogyakarta yang dianggap ideal dengan beberapa pertimbangan, seperti sikap Sultan Hamengkubuwono IX yang sangat bersedia dalam mendukung berdirinya negara RI dan jiwa pejuang kemerdekaan di kota tersebut sedang memuncak. Pada tanggal 4 Januari 1946, Stasiun Tugu saat itu sangat bergemuruh dengan datangnya Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan beberapa pemimpin lainnya. Mereka menggunakan lokomotif seri C28 49 buatan pabrik Henschel, Jerman. Sambutan dari rakyat menambah kemeriahan suasana dan penuh harapan.


PENGANGKUTAN EKS TAWANAN WARGA NEGARA BELANDA & JEPANG

Datangnya kembali Sekutu ke Indonesia menimbulkan berbagai reaksi dari para pimpinan pemerintahan. Sebuah kesatuan militer bernama Allied Forces for Netherlands East Indies (AFNEI) mendarat di Jakarta pada tanggal 29 September 1945. Mereka dipimpin oleh Letjen Phillip Christison dan ditugaskan untuk melucuti senjata tentara Jepang dan memulangkannya ke negara asalnya, mengevakuasi tawanan atau yang disebut dengan Allied Prisoneer War and Interneer (APWI) yang terdiri atas tawanan Jepang dan Belanda, serta mengambil alih kawasan pendudukan Jepang dan mengamankannya hingga pemerintahan sipil berjalan kembali dengan normal. Dikarenakan AFNEI belum mengakui kedaulatan Indonesia dan hanya mengakui kedaulatan Belanda, sering terjadi tindakan militer yang memicu perlawanan terhadap Indonesia di kota-kota besar. Setelah mulai mereda, para pihak RI dan sekutu melakukan perundingan pada tanggal 1 dan 2 April 1946 mengenai pemulangan tawanan perang Jepang selama Perang Dunia II dan dikenal dengan nama The Yogya Agreement. Anggota Tentara Republik Indonesia atau TRI akan menjalankan proses pelucutan dan evakuasi tentara Jepang dan Sekutu juga menjalankan hal serupa di daerah pendudukannya sendiri. Tanggal 24 April 1946, dimulailah proses pemulangan APWI dengan dua moda transportasi (kereta api dan pesawat udara). Empat hari kemudian, pada tanggal 28 April 1946 dilakukan pemberangkatan sejumlah kurang lebih 550 tawanan Jepang dengan kereta api dari Stasiun Tugu, Yogyakarta ke Stasiun Manggarai di Jakarta dan dikawal langsung oleh Kompi Widodo dari TRI.


DATANGNYA PASUKAN SILIWANGI

Peristiwa ini bermula dari ditandatanganinya Perjanjian Renville yang isi pokoknya penegasan kekuasaan pemerintah Republik Indonesia yang terdiri atas Pulau Jawa, Sumatra dan Madura oleh Belanda serta pemberlakuan garis demarkasi Van Mook. Terlebih lagi, Pulau Jawa hanya diakui sebagiannya saja. Pemerintah RI juga harus mengakui daerah-daerah atau kota-kota lain yang dikuasai oleh Belanda yang dikenal dengan kantong-kantong. Jawa Barat tidak termasuk daerah yang dikuasai Pemerintah RI sehingga seluruh aset yang ada di sana termasuk para pasukan TNI harus dipindahkan ke daerah yang telah ditentukan. Situasi ini juga dikenal dengan peristiwa Long March Siliwangi. Para pasukan ditujukan ke tiga daerah berbeda dengan transportasi yang berbeda pula, antara lain menggunakan kapal laut untuk menuju Rembang, menggunakan kereta api ke Yogyakarta, dan berjalan kaki ke Wonosobo atau Gombong. Untuk kereta api, para pasukan mulai menjalankan operasi dari tanggal 2 sampai 11 Februari 1948. Sesampainya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, para pasukan Siliwangi disambut hangat oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Arudji Kartawinata, dan para warga setempat.

Semua peristiwa tersebut dapat kita temukan pada minirama di diorama II dan III yang terletak di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Minirama ini menampilkan adegan penting yang menjadi intisari dari peristiwa terkait.

Penulis: Muhammad Dzaky Putra Sani (Mahasiswa Magang Universitas Sebelas Maret)




Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?