Jelang Pameran SO, Vredeburg Gelar Talkshow Radio Jazir : Kalau Tidak Ada SO 1 Maret, Indonesia Sudah Tiada

administrators 25 Februari 2022 10:50:34 428


Menyambut peringatan Serangan Oemoem (SO) 1 Maret 1949, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Rabu (23/2/2022) menyelenggarakan Talkshow Radio dengan mengusung tema ‘Serentak Bergerak Melawan Propaganda Belanda’. Acara yang tayang secara live di Swaragama FM ini menghadirkan narasumber H. Muhammad Jazir ASP (Penggiat Pusat Studi Pancasila UGM) dan Jauhari Chusbiantoro (Pamong Budaya Ahli Muda Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta). Dengan ulasan sejarah yang memikat, acara tersebut sukses menarik perhatian akademia muda yang diikuti dengan beragam pertanyaan seputar peristiwa Serangan Umum 1 Maret.  

Dalam ulasannya, H.M. Jazir ASP mengungkapkan bahwa Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara karena sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda ingin menghapus peta Indonesia dari peta dunia. Maka Belanda melakukan aksi terakhirnya dengan melakukan Operasi Gagak (Bahasa Belanda: Operatie Kraai) atau yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda II untuk melenyapkan Indonesia dari peta dunia.  Panglima Koninlijke Nederlans Indisch Leger Letnan Jenderal Simon Spoor mengerahkan seluruh pasukan terbaiknya untuk mengambil ibukota Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta. Maka tgl 19 Desember ’48 dilakukan serangan untuk mengambil alih Yogyakarta, hingga berhasil menangkap Soekarno Hatta tanpa perlawanan berarti dari TNI karena Belanda tidak mengumumkan perang, akan tetapi secara langsung mengadakan serangan kilat. Setelahnya, TNI yang dipimpin oleh Pangsar Jenderal Sudirman melakukan aksi-aksi penyerangan untuk menunjukkan eksistensi TNI dan Indonesia. Sementara itu, Menteri Kemakmuran, Mr.Syafrudin Prawiranegara yang sedang melakukan kunjungan ke Sumatera diberikan mandat untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

“Jadi saat itu Mr. Syafrudin sebagai presiden ditengah hutan Sumatera, sementara tentaranya berupaya menunjukkan eksistensi”, papar Jazir. 

PBB melalui Dewan Keamanan PBB kemudian membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk mendesak Belanda berunding dengan Indonesia untuk penyelesaian kedepan. Belanda bersikukuh tidak menginginkan RI, namun Belanda  mengijinkan adanya republik federasi dengan Indonesia dibawah payung Belanda. Maka TNI yang tidak penah mau berunding/ berkompromi disebut dengan Kelompok radikal ekstreemis. Sehingga dalam propagandanya di dunia internasional, Belanda beralibi bahwa penyerangan Belanda ke Yogyakarta dalam rangka menyelamatkan Soekarno Hatta dari pengaruh kelompok radikal ekstreemis yang dipimpin oleh Jenderal Soedirman. 

“Dalam propaganda tersebut, Belanda juga menegaskan bahwa tidak ada lagi negara Indonesia, tidak ada lagi tentara Indonesia, yang ada hanyalah kelompok-kelompok radikal ekstreemis yang mengadakan kekacauan-kekacauan di dalam kota”, ungkap Jazir. 

Maka ketika mendengar rencana kunjungan delegasi KTN untuk meninjau langsung ke Yogyakarta pada 28 Februari-5 Maret 1949 guna mengecek kebenaran propaganda Belanda tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Sultan sekaligus Menteri Pertahanan Keamanan, berkomunikasi dan bersepakat dengan Jenderal Soedirman untuk memanfaatkan momentum tersebut. Maka muncullah gagasan untuk menguasai Yogyakarta pada siang hari, namun tidak lebih dari 6 jam karena apabila lebih dari 6 jam bisa dipastikan pasukan TNI dan gerilyawan akan digilas oleh pasukan Belanda yang akan dikerahkan dalam waktu sangat cepat dari Ungaran, Ambarawa, Semarang, Surabaya, dan sebagainya. Kemudian, disiasati juga agar hanya yang berseragam TNI dan bisa berbahasa asinglah yang masuk ke Malioboro dan disekitar Hotel Merdeka (sekarang Hotel Inna Garuda). Di Hotel Merdeka inilah tempat menginap para delegasi KTN serta wartawan internasional. Direncanakan juga bahwa pasukan tentara bersama rakyat akan menyerang Yogyakarta dipagi hari pada tanggal 1 Maret ketika sirine jam 6 berbunyi. Kemudian semua pasukan karena belum seluruhnya memakai seragam, maka digunakanlah identitas janur kuning yang diikatkan dilengan.   

Namun rencana penyerangan ini ternyata bocor dan Belanda sudah mempersiapkan diri menyambut penyerangan. Namun entah ini sebuat siasat atau ketidaksengajaan, ada satu kompi yang terdiri dari 100 orang dibawah pimpinan Komarudin, yang melakukan penyerangan pada tanggal 28 Februari. Dengan mudah pasukan kecil ini ditumpas. Namun penyerangan pasukan kecil ini justru menjadi penyelamat, karena pasukan Belanda kemudian menjadi lengah dan mengira bahwa kabar penyerangan itu ternyata hanyalah dilakukan oleh satu kompi pasukan kecil saja. Hingga keesokan harinya, pasukan Belanda dikagetkan dengan serangan besar-besaran pada tanggal 1 Maret. Pasukan TNI bersama rakyat berhasil menduduki Yogyakarta selama 6 jam. Wartawan-wartawan dunia mewawancarai para perwira TNI yang bisa berbahasa asing. Dari hasil penyerangan itulah PBB memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, sehingga tanggal 29 Juni 1949 Belanda mengembalikan ibukota Yogyakarta kepada Indonesia, yang kemudian dikenal sebagai peristiwa ‘Jogja Kembali’. 

Selanjutnya pada tanggal 30 Juni 1949 dikumandangkan Proklamasi Kedua, yang dikumandangkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai negara yang merdeka dan diakui oleh Belanda, namun Belanda mengakui dalam bentuk Republik Indonesia Serikat. Perjuangan selanjutnya dilakukan oleh Mr. Mohammad Natsir dengan mosi integral membubarkan RIS menjadi NKRI di bulan Maret 1950. 

“Maka bulan Maret ini adalah bulan kedaulatan negara. Kalau tidak ada Serangan Umum 1 Maret, Indonesia sudah tidak ada dan kita masih dalam jajahan Belanda,”, tegas penerima Anugerah Tokoh Perubahan Republika 2018 ini. 

Sementara Jauhari Chusbiantoro ketika ditanya terkait kegiatan yang diselenggarakan di Museum Benteng Vredeburg terkait peringatan Serangan Umum 1 Maret mengungkapkan bahwa ditahun ini akan diselenggarakan pameran dengan mengambil pendekatan yang berbeda dari pameran-pameran sebelumnya, yakni dengan mengambil pendekatan seni untuk menyampaikan sejarah kepada masyarakat luas. Dengan mengusung tema pameran ‘Daulat dan Ikhtiar: Memaknai Serangan Umum 1 Maret melalui Seni’, terdapat 5 seniman yang dilibatkan. Pameran ini dikuratori oleh Kurator Independen, Mike Susanto dari Institut Seni Indonesia (ISI). 

“Kami meminta para seniman ini untuk menginterpretasikan koleksi terkait Serangan Umum 1 Maret 2022 yang dimiliki oleh museum dengan imajinasi para seniman. Kalau selama ini Serangan Umum 1 Maret selama ini identik dengan perang, nah pada kesempatan kali ini kami ingin menampilkan peristiwa ini dengan tampilan rileks dan bernuansa kekinian, namun tetap pesannya mengena”, papar Jauhari. 

Sehingga ketika masuk ke ruang pameran, pengunjung tidak bosan dan merasa monoton dengan bahasa sejarah. Karena generasi muda saat ini lebih senang dengan tampilan visualisasi yang instagramable, sehingga diharapkan mampu menarik generasi muda untuk mencintai sejarah. Selain itu dalam pameran tersebut juga menekankan bahwa keberhasilan Serangan Umum 1 Maret bukan hanya karena peran satu elemen saja, namun berkat kolaborasi, kerja bersama dan gotong royong dari seluruh eleman masyarakat. 

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?