Bertemu Kartini dalam Een Nationale Heldin: R.A. Kartini

administrators 26 April 2022 14:51:14 690

Tanggal 21 April sekarang ini identik dengan Peringatan Hari Kartini, ibu emansipasi wanita Indonesia. Banyak orang yang mengagumi sosok Kartini. Kekaguman itu dituangkan dalam berbagai karya, salah satunya dalam tulisan artikel. Artikel Een Nationale Heldin: R.A. Kartini ditulis oleh Cora Vreede-De Stuers, penulis yang berfokus pada sejarah perempuan dan tertarik pada perjuangan wanita Indonesia. Artikel ini ada dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkrnkunde 124, no.3, Leiden, 386-393 yang terbit 1968. Artikel ini menceritakan tentang sepenggal kisah Kartini bersama saudara perempuannya, The Three Sisters, dalam memperjuangkan cita-cita mereka untuk mendirikan sekolah bagi para gadis Indonesia pada waktu itu. Penulis menggunakan sumber berupa surat-surat Kartini yang dikutipnya dari Van Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya, berisi kumpulan surat Kartini kepada sahabatnya Mrs.Abendanon) sehingga terlihat bagaimana emosi Kartini dalam menghadapi berbagai masalah dalam perjalanannya mencapai cita-cita yang mulia. 

Banyak rintangan yang menghadang Kartini bersaudara dalam proses mendirikan sekolah untuk para gadis tersebut. Masalah besar diawali dengan kabar pernikahan Kardinah dan Kartini. Seperti yang diketahui, pada masa itu gerak perempuan di sektor publik sangat dibatasi. Perempuan hanya boleh melakukan kegiatan di sektor domestik terlebih lagi bila dia sudah menikah. Dikutip dari Van Duisternis tot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya), Kartini sangat kecewa dengan kabar pernikahan yang akan terjadi. Hal itu membuat runtuhnya cita-cita The Three Sisters untuk membuat sekolah bagi para gadis bumiputera. Dalam suratnya, Kartini mencurahkan keluh kesahnya tentang mengapa perempuan sangat terbatas ruang geraknya, mengapa perempuan dipandang sebelah mata saja. Banyak sekali pertanyaan retoris yang Kartini lontarkan sebagai bentuk kekecewaannya. Dari situ, Kartini dan saudarinya terus berjuang mulai dari meminta izin Ayah dan suami mereka untuk mendirikan sekolah hingga Kartini membatalkan sekolah ke Belanda dan lebih memilih melanjutkan kuliah di Batavia agar sekolah yang mereka impikan dapat berdiri. Akhirnya dengan perjuangan keras tersebut mereka dapat membuat sekolah untuk para gadis di Semarang. Semangat perjuangan Kartini menjiwai semangat bangsa Indonesia sehingga Kartini dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Penulis artikel berpendapat bahwa Kartini layak dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional karena kegigihannya dalam memperjuangkan emansipasi wanita. Dalam artikel ini Kartini juga disebut sebagai pelopor nasionalisme Indonesia karena usaha beliau tentang emansipasi perempuan Indonesia diintegrasikan ke dalam usaha sosial dan emansipasi nasional rakyat Indonesia. 

“Op deze wijze is Kartini's streven naar emancipatie van de Indonesische vrouw geïntegreerd in het streven naar sociale en nationale emancipatie van het Indonesische volk. Als zodanig is zij terecht te beschouwen als een „voorloopster van het Indonesische nationalisme.” (hlm.392)

(Usaha Kartini tentang emansipasi perempuan Indonesia diintegrasikan ke dalam usaha sosial dan emansipasi nasional rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, dia layak disebut sebagai pelopor nasionalisme Indonesia.)

Secara keseluruhan, penulis menyampaikan bahwa Kartini adalah sosok yang berpengaruh bagi Indonesia. Dari Kartini, perempuan dapat bersekolah dan ruang geraknya meluas tidak hanya pada sektor domestik saja. Lewat surat Kartini, kita dapat mengetahui sepenggal sejarah perjuangannya. Kartini banyak mengajarkan banyak hal tentang apa itu perjuangan sesungguhnya. Sehingga Kartini layak disebut sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Penulis: Pradipta Berliana Savitri

Referensi:

Cora Vreede-De Stuers, “Een Nationale Heldin: R.A. Kartini.” Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkrnkunde, 124, no.3, Leiden, (1968): 386-393.




Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?