Renaisans Budaya Jawa dalam Kesusastraan Jawa

administrators 20 Mei 2022 08:45:01 203


Sastra Jawa merupakan tradisi tulis yang terbentuk di masyarakat Jawa. Sastra Jawa banyak lahir di lingkungan istana (keraton dan diluar keraton/pesisiran) serta lingkungan pesantren. Sastra dari lingkungan istana Jawa bersifat istanasentris dan cenderung politis. Bangsawan Jawa menggunakan sastra sebagai salah satu bentuk pengakuan atas kekuasaannya. Sastra yang lahir dari istana Jawa secara khusus lahir di Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pakualaman, Mangkunegaran, dan Kasunanan Surakarta. Bangsawan Jawa memerintahkan seorang pujangga, juru tulis keraton, untuk menulis sastra Jawa. Sastra yang lahir dari lingkungan pesantren bersifat religius dan bermaksud sebagai ajakan keagamaan. 

Sastra Jawa menjadi salah satu kekuatan intelektual masyarakat Jawa yang ditakuti oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada waktu itu. Ketakutan pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan adanya kemungkinan bersatunya politik Islam dengan priyayi bumiputera di pertengahan akhir abad ke-19 menghadirkan kembali memori trauma dari peristiwa Perang Diponegoro. Perang Diponegoro menunjukkan bahwa kekuatan masyarakat Jawa dapat dikerahkan oleh pasukan bumiputera ketika disatukan bersama bangsawan istana di bawah panji-panji Islam. Setelah Perang Diponegoro berakhir, pemerintah kolonial Hindia Belanda memperkuat hubungan dengan priyayi bangsawan untuk menghidupkan kembali kebudayaan luhur Jawa (Renaisans Kebudayaan Jawa) sehingga kekuatan Islam diharapkan melemah di kalangan keraton. Pemerintah kolonial Belanda mengupayakan renaisans budaya Jawa  dengan pengenalan kajian Javanologi sebagai ranah kajian ilmu pengetahuan kolonial yang menyelidiki masyarakat Jawa beserta kebudayaan luhurnya. Keraton Jawa pada waktu itu dipandang sebagai tempat keberadaan kebudayaan luruh Jawa. Pengertian kebudayaan luhur Jawa adalah sebuah kebudayaan yang dilukiskan sebagai sisa keaslian bumiputera (Hindu-Buddha) yang tak tersentuh tambahan kebudayaan asing seperti budaya Islam maupun budaya Barat. Filolog kolonial berpendapat bahwa kesusastraan Jawa mencapai puncak kemurnian dan nilai keindahannya yaitu pada masa pra-Islam. Warisan budaya tulis sastra Kawi Kuno zaman Hindu-Buddha seperti kakawin merupakan kebudayaan yang dimiliki istana yang selalu diperbaharui masa Jawa kuno dengan sudut pandang Istanasentris (berpusat pada pandangan istana). Alih-alih membuat masyarakat menjadi terbelakang, sastra Jawa malah membangkitkan intelektualitas masyarakat Jawa melalui tradisi kepenulisan prosa.

Pada kesusastraan Jawa terdapat makna tersirat yang ingin disampaikan penulis di dalamnya. Makna tersirat tersebut adalah konsep adiluhung. Konsep adiluhung yang dimaksud adalah anggapan kebudayaan Jawa dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Orang Jawa menganggap karya sastra Jawa memiliki kunci misteri kehidupan. Pengkultusan budaya adiluhung Jawa tercipta dari kacamata priyayi Jawa. Priyayi Jawa berperan dalam memaknai simbol-simbol terdalam sebagai dasar kehidupan orang Jawa. Simbol budaya adiluhung terlihat dalam elemen-elemen masyarakat Jawa seperti upacara tradisional, etika berbahasa, dan elemen lainnya yang dijunjung tinggi masyarakat Jawa.

Awal kultus adiluhung ditemukan pada perkumpulan teosofi Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Priyayi keraton bekerja sama dengan Javanolog Belanda dalam usaha mengkaji budaya priyayi Jawa contohnya adalah pemaknaan tentang wayang kulit, yang diterbitkan dalam bahasa Belanda oleh Pangeran Mangkunegara VII pada 1933. Kemudian salah satu karya sastra Jawa yang dikenal banyak orang adalah Serat Wedhatama. Serat Wedhatama merupakan karya puisi yang berisi wejangan yang menghidupkan gambaran adiluhung. Penulis dari karya sastra yang diberi tugas oleh keraton disebut pujangga. Salah satu pujangga terkenal adalah Ranggawarsita III. Ranggawarsita III sebagai pujangga panutup diagung-agungkan bukan hanya karena ketinggian bahasanya dalam menulis, melainkan juga pada kekuatan isinya. Isi dari karyanya seolah memiliki kekuatan yang dapat mempengaruhi kenyataan. Bahasa yang digunakan untuk menulis karya ini adalah bahasa krama super-halus. Bahasa sastra yang dihadirkan terlampau indah-tinggi sehingga tidak mudah untuk dipahami oleh orang awam. Meski tidak memahami makna dalam kesusastraan tersebut, orang Jawa menganggap karya sastra Jawa memiliki kunci misteri kehidupan. Oleh karena itu, misteri tersebut akan tetap terkunci. Melalui karya-karya sastra Jawa, masyarakat Jawa makin bersatu dan kuat bersama utamanya dari segi intelektualitas. Sastra Jawa tidak menutup kemungkinan adanya penguatan karakter masyarakat dengan pengajaran yang dirangkai dalam karya tulis berbasis budaya Jawa.

Referensi bacaan:

Nancy K.  Florida, Irfan Afifi (editor), Jawa-Islam di Masa Kolonial: Suluk, Santri, dan Pujangga Jawa, (Buku Langgar. 2020).

M. Irfan Riyadi, “Arah Perkembangan Ajaran Theosofi Islam Dalam Literatur Sastra Pujangga Jawa (Pendekatan Genealogi).” Jurnal Dialogia, Jurnal Studi Islam dan Sosial IAIN Ponorogo, Vol.10, No.2, (2012): 129-144.

Sumber gambar:

https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Darmagandhul_saha_serat_wedhatama.jpg

Penulis: Pradipta Berliana Savitri




Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?