Kuatkan Pendidikan Karakter Bangsa, Vredeburg Hadirkan Seminar Virtual ‘Muhammadiyah untuk Indonesia'

administrators 29 April 2022 09:10:17 116

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Rabu (27/4) menyelenggarakan Seminar Virtual Sejarah dengan mengusung tema ‘Muhammadiyah untuk Indonesia’. Hadir sebagai narasumber Drs. Syukriyanto AR., M. Hum., Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah dan M. Yuanda Zara, MA., Ph.D (Dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta), dengan dimoderatori oleh Ghifari Yuristiadhi Masyhari, SS., MA. (Wakil Ketua PW Pemuda Muhammadiyah DIY). Turut hadir memberikan sambutan, Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Drs. Suharja.

Dalam sambutannya Suharja mengungkapkan bahwa Museum Benteng Vredeburg sebagai museum sejarah perjuangan bangsa, dalam salah satu dioramanya menggambarkan kelahiran dan peran Muhammadiyah pada masa awal pendiriannya. Diorama yang bersifat statis ini membutuhkan kritik, saran, serta masukan terkait perkembangan tentang peran Muhammadiyah dari masa ke masa. Sehingga seminar virtual sejarah ini akan semakin melengkapi kajian-kajian terkait peran Muhammadiyah dari masa ke masa, yang akan memberikan manfaat bagi pemangku kepentingan, pendidikan, masyarakat, anak didik, mahasiswa karena sangat besarnya peran sejarah bagi penguatan pendidikan karakter bangsa. Terlebih apabila menengok sejarah awal kelahirannya, Muhammadiyah mendapatkan penolakan dari lingkungan sekitarnya, namun keteguhan serta kegigihan KH.A. Dahlan sungguh luar biasa, sehingga patut diteladani oleh generasi penerus bangsa. 

Sementara Narasumber, M. Yuanda Zara mengungkapkan bahwa gagasan mengenai Indonesia sudah mewujud, sudah dibayangkan dalam pikiran, dalam aksi-aksi tindakan dalam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sejak awal kelahirannya. Menariknya, Muhammadiyah hanyalah bermula dari kampung kecil di Kauman Yogyakarta, yang apabila dibandingkan dengan Hindia Belanda pada saat itu, Muhammadiyah sangat kecil sekali. Namun Muhammadiyah sejak zaman kolonial telah membayangkan tentang suatu kawasan yang jauh lebih luas dari Kauman. Kini setelah lebih dari 100 tahun, Muhammadiyah menjelma menjadi aktor, tidak saja dikancah nasional namun juga aktor global dengan keterlibatannya dalam dunia pendidikan, sosial, serta perdamaian. Saat ini tercatat Muhammadiyah memiliki 164 Perguruan Tinggi, 1826 SMA/SMK, lebih dari 1400 SMP, 2756 SD/MI, 22.000 TK/PAUD, 300 lebih Panti Asuhan, 20.000 Masjid dan Pesantren, 119 Rumah Sakit. Disisi lain, ada juga organisasi seumuran maupun yang lahirnya berbarengan, bahkan lebih awal dari Muhammadiyah, tetapi kemudian tidak bisa bertahan lama. Sementara Muhammadiyah bisa bertahan hingga lebih dari 100 tahun. Kemampuan Muhammadiyah untuk bertahan melintasi zaman ini pastilah terdapat elemen kuat yang bisa menopang.  

Yuanda Zara dalam paparannya mengenai ‘Bagaimana Menjadi Muhammadiyah via Indonesia’ menggarisbawahi proses terbentuknya Indonesia dalam perspektif imajiner tentang Indonesia yang diupayakan oleh Muhammadiyah mulai dari aspek keagamaan, pendidikan, kesehatan, media dan literasi. Ide kemajuan Muhammadiyah terlahir disaat masyarakat pribumi sangat tertinggal dalam bidang pendidikan, perekonomian, kesehatan, praktik keagamaan yang masih berselimut taklid, serta adanya pandangan saat itu bahwa agama harus dipisahkan dengan kemajuan. Kemudian Muhammadiyah mereformasi cara berfikir dalam mengadaptasikan ajaran Islam dengan dunia modern. Hal ini dapat dilihat dari munculnya adaptasi elemen-elemen modernitas dalam cara hidup muslim Hindia Belanda, sebagai contoh: penggunaan kompas dalam pembetulan arah kiblat Masjid Gede Kauman; pendirian organisasi modern, fokus pada ilmu pengetahuan serta adopsi penggunaan alat transportasi dan komunikasi modern.

Dalam hal pendidikan, saat kondisi umat Islam tertinggal dalam pendidikan, serta banyak pesantren saat itu yang hanya fokus pada ilmu agama,  Muhammadiyah berupaya mendapatkan inspirasi, terutama untuk mendapatkan metode pembelajaran dan kurikulum pendidikan modern. Sekolah Muhammadiyah kemudian mengkombinasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum (Ilmu bumi, geografi, ilmu tulis menulis, ilmu hitung, dan bahasa). Sehingga di tahun 1920/1930 sudah ada pelajaran tentang Bahasa Melayu, Bahasa Arab, dan Bahasa Belanda di sekolah Muhammadiyah. 

“Kemampuan multi bahasa itu sudah diterapkan sejak dahulu, dan saya kira itu menjadi akar dari Muhammadiyah untuk bisa menyerap pengetahuan dari berbagai belahan dunia”, ungkap Yuanda Zara. 

Lebih lanjut Yuanda Zara mengungkapkan gagasan Muhammadiyah dan Penjagaan Kesehatan. Dilatarbelakangi oleh situasi masa kolonial dimana standar kesehatan pribumi yang masih rendah, sementara beberapa klinik dan Rumah Sakit yang dibangun pada masa kolonial hanya untuk kepentingan kolonial dan hanya dapat diakses oleh kalangan elite. Muhammadiyah kemudian menginsiasi pendirian PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat) yang dikelola secara modern, baik administrasi, fasilitas, dokter, dan perawatnya. Selain menyembuhkan orang sakit, PKO juga membentuk tradisi penjagaan kesehatan secara modern diantara kaum pribumi. Karena tradisi masyarakat kala itu, saat sakit berobat ke dukun sehingga dalam banyak kasus penyakit bukannya sembuh, namun justru bertambah parah. Muhammadiyah membangun kesadaran bahwa masyarakat bisa mempercayakan permasalahan kesehatannya pada dokter. Awalnya, dokter pada saat itu hanyalah dokter Belanda, yang setelahnya kemudian lahirlah dokter-dokter pribumi. Muhammadiyah kembali mendorong masyarakat untuk percaya bahwa dokter pribumi juga bisa melakukan pengobatan sebaik yang dilakukan oleh dokter-dokter Belanda. Selain itu, fasilitas kesehatan Muhammadiyah telah sedari awal bersifat inklusif, karena sebagaimana tercatat pada Klinik Muhammadiyah di Malang dan Yogyakarta tahun 1920/1930, pasien bukan hanya berasal dari kalangan muslim pribumi, namun juga orang China dan Arab. 

Selain gerakan sosial keagamaan, Muhammadiyah juga merupakan gerakan literasi. Hanya selang 3 tahun setelah berdirinya Muhammadiyah, mulailah diterbitkan Majalah Muhammadiyah yang bernama ‘Soewara Muhammadiyah’. Soewara Muhammadiyah (SM) mulanya berbahasa Jawa, namun sejak 1923 berbahasa Melayu.. Selain SM, Muhammadiyah juga mempunyai berbagai surat kabar dan media lokal lainnya yang tersebar di daerah-daerah. Namun sayang sekali, untuk media lokal ini tidak diarsipkan dengan baik. Pers Muhammadiyah ini merupakan ruang publik dimana masyarakat Hindia Belanda dapat mendiskusikan isu-isu sosial keagamaan dengan bahasa Indonesia.

Selain kontribusi pendidikan, sosial keagamaan, serta literasi, terdapat satu lagi kontribusi luar biasa yang dicapture oleh M. Yuanda Zara pada kesempatan tersebut, yakni bahwa Muhammadiyah membangun persepsi tentang wilayah Indonesia. Penyebaran Muhammadiyah ke luar Yogyakarta melahirkan pengetahuan tentang Jawa. Penyebaran Muhammadiyah ke luar Jawa melahirkan pengetahuan tanah air Hindia Belanda (Indonesia). Sehingga warga Muhammadiyah Yogyakarta tahu dimana ‘Oelak Karang’, sementara warga Muhammadiyah Minangkabau tahu dengan ‘Makassar’, dan warga Muhammadiyah Sulawesi tahu dengan Klaten. 

“Ringkasnya, diantara warga Muhammadiyah terbangun suatu peta imajiner besar tentang muka bumi Indonesia, sebelum masa kemerdekaan Indonesia”, pungkas Yuanda Zara mengakhiri sesi paparannya.

Sementara Syukriyanto AR dalam sesi paparannya, sdiantaranya mengungkapkan strategi Muhammadiyah dalam menjaga eksistensi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dilakukan antara lain dengan penguatan agama dan ideologi, melalui penyadaran bahwa AUM untuk mewujudkan gerakan Islam; AUM sebagai wujud gerakan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar; serta AUM sebagai sarana untuk mewujudkan gerakan pembaharuan. Selain itu, strategi Muhammadiyah dalam menjaga eksistensi AUM dilakukan melalui penguatan sistem organisasi dengan spirit wal’ashri dan kemanusiaan (Al Ma’un) serta mewujudkan gerakan kembali kepada Al Quran dan As Sunah dan mengembangkan antara lain melalui AUM ekonomi, AUM kenegarawanan (sekolah kebangsaan), dan AUM seni budaya. 

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?