Diorama Intimidasi dan Penggeledahan Rakyat Oleh Pasukan Belanda - Diorama III Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

administrators 30 Agustus 2018 11:13:37 477

  Diorama III Menampilkan adegan peristiwa sejarah sejak disepakatinya Perjanjian Renville tahun 1949 sampai dengan adanya pengakuan Kedaulatan RIS tahun 1949. Salah satu adegan Dome keenam pada Diorama III adalah Diorama Adegan Penggeledahan oleh Belanda terhadap penduduk di Dusun Jati, Wonokromo, Bantul Berlangsung Dusun Jati, Wonokromo, Bantul pada tanggal 1 Februari 1949.   Ketika terjadi Agresi Militer Kedua Belanda, para pucuk pimpinan TNI yang berhasil meninggalkan kota dan memimpin perjuangan gerilya antara lain Jenderal Soedirman (Panglima Besar TNI), Kolonel Djatikusumo (KSAP), Kolonel TB. Simatupang (WaKSAP), Letkol Soeharto (Komandan WK III). Sementara itu dengan pertimbangan tertawannya para pemimpin negara, dan untuk mengisi kekosongan pemerintahan sipil, Panglima Teritorium Tentara Djawa (PTTD) Kolonel AH. Nasution mengeluarkan Instruksi No. 1/MBKD/1948 pada tanggal 25 Desember 1948 yang mengumumkan berlakunya pemerintahan militer untuk seluruh Jawa. Pemerintahan ini menggunakan sistem pertahanan keamanan rakyat semesta. Maklumat ini mendapat respon yang positif dari sebagian besar rakyat. Terbukti pada bulan Januari 1949 penduduk Yogyakarta yang berjumlah kurang lebih 400.000, serta 10.000 pegawai secara tegas menolak bekerja sama dengan Belanda. Sehingga waktu itu kota Yogyakarta hanya dihuni oleh wanita, anak-anak dan orang-orang tua. Hal itu terjadi karena para pemudanya mengungsi ke luar kota ataupun ikut bergerilya. Di kotapun mereka tidak tinggal diam. Mereka mengorganisasi Dapur Umum dan menyiapkan ransum bagi para gerilyawan yang masuk kota. Akibat dari perlawanan rakyat dengan cara bergerilya dan bersifat semesta (seluruh lapisan rakyat terlibat) ini menyebabkan Belanda menjadi kalang kabut. Sistem penyerangan gerilya berlangsung secara tiba-tiba, cepat dan kemudian menghilang. Akibatnya tindakan-tindakan yang berlebihan sering dilakukan oleh Belanda untuk mencari para gerilyawan. Sebagai contoh adalah peristiwa yang terjadi di Dusun Jati, Wonokromo, Bantul. Pada tanggal 1 Februari 1949 tentara Belanda secara aktif melaksanakan pembersihan di Dusun Jati, Wonokromo, Bantul. Dengan dalih mencari gerilyawan kemudian mereka melakukan intimidasi terhadap rakyat yang ditemui, rakyat dipaksa menunjukkan sarang gerilyawan jika tidak mau menjawab tidak jarang dari mereka disiksa, rumahnya dibakar, dan bahkan ada yang sampai dibunuh. Pada umumnya mereka memilih mati atau disiksa oleh serdadu Belanda dari pada harus menunjukkan persembunyian para pejuang. Sebuah pengorbanan rakyat yang sungguh luar biasa. Sumber : Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?



Berikut ini adalah Reformasi Birokrasi (RB) Pada Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Untuk Lebih Jelasnya Silahkan Download Soft Data Dibawah ini :

Grand Design Reformasi Birokrasi (RB) :

Peraturan Presiden RI No. 81 Tahun 2010 Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 - 2025.

Road Map Reformasi Birokrasi (RB) :
1. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 20 Tahun 2010 Tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014.
2. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 11 Tahun 2015 Tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2015-2019.

Surat Keputusan Tim Reformasi Birokrasi (RB) Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta :

Surat Keputusan Tim Reformasi Birokrasi (RB) Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Elektronik Dokumen (e-doc) Reformasi Birokrasi (RB) Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Informasi Pelayanan Pengaduan Berupa SMS yang Dapat Diakses Oleh Publik Dimanapun Berada Dengan Menggunakan Handphone / Mobile Phone Di Nomor : 081226099292

Portal Layanan Pengaduan Online Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.


http://ult.kemdikbud.go.id/