Resensi Buku 'Pembantaian Yang Ditutup-Tutupi'

administrators 20 November 2025 14:45:46 4

Gerakan 30 September adalah tragedi terbesar di Indonesia tahun 1965. Terjadi sebuah  kup atau perebutan kekuasaan di mana enam jenderal dibunuh, setengah juta lebih orang Indonesia kehilangan nyawa, puluh ribu lainnya dipenjara. Lambert J. Giebels, menyebutkannya sebagai peristiwa-peristiwa fatal yang mengiringi kejatuhan Soekarno. Ia menceritakan secara runtut satu per satu peristiwa tersebut dalam buku ini. Dengan fokus pada tujuan Soekarno kepada revolusi, pembaca dapat menemukan apa saja peran Soekarno dari sebelum Indonesia merdeka sampai berakhirnya pemerintahan Orde Lama. 


Buku ini secara ringkas mengemukakan kurang lebih tindakan Soekarno dalam menduduki kursi kepemimpinan berdasarkan temuan Lambert. Bab pertama diawali dengan biografi singkat meliputi kelahiran Soekarno, latar belakang pendidikan, dan konsep NASAKOM-nya. Ia sukses besar dalam demokrasi terpimpin. Kepiawaian Soekarno dalam berorasi membuat banyak rakyat termotivasi. Namun, kebanyakan peristiwa fatal justru terjadi sebab kata-katanya sendiri.

 

Tahun 1963, Soekarno melansir semboyan “Ganyang Malaysia” karena Malaysia telah menjadi bagian federasi Inggris. Soekarno bahkan mengancam akan keluar dari PBB apabila Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap dewan keamanan PBB. Ia memerintahkan tentara untuk menginvasi Malaysia. Sayangnya, tentara Indonesia tidak sebanding dengan pasukan Inggris yang mana membuat Soekarno kehilangan sokongan dari para tentara. Belum lagi ia juga kehilangan dukungan dari negara non-blok akibat konfrontasinya dengan Malaysia. Pada saat terjadi pembunuhan jenderal, ia mengatakan bahwa hal seperti ini wajar terjadi dalam sebuah revolusi. Hal tersebut membuat publik marah terlebih sempat terdengar berita Soekarno yang berlindung di bawah naungan “Gerakan 30 September”. Masih menjadi pertanyaan apakah Soekarno juga terlibat dalam pembunuhan jenderal-jenderal itu. Untuk meredakan dampak kup, Soekarno terpaksa menyerahkan seluruh pimpinan angkatan darat kepada Soeharto dengan membebankan tugas pemulihan dan ketertiban negara. Hal ini memperkuat posisi Soeharto di kancah politik sekaligus menandakan kemunduran Soekarno.


Di waktu yang sama, buku ini memiliki beberapa hal yang bisa menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Kelihaian penulis dalam menggali informasi sejarah benar-benar tajam. Pembaca bisa mengetahui kebiasan-kebiasan kecil Soekarno yang mengarah pada suatu penyakit ginjal di mana penyakit tersebut membuat kesehatan Soekarno menurun drastis dan berdampak pada urusan politiknya. Penemuan-penemuan lain seperti kisah romansa turut dicantumkan. Ia juga tidak segan menambahkan komentar subjektifnya sendiri tentang Soekarno ke dalam buku. Namun penambahan seperti ini dikhawatirkan dapat mengubah pandangan pembaca terhadap sosok Soekarno dari kata ‘pahlawan’. Oleh karena itu, dalam buku ini juga menceritakan jasa-jasa Soekarno agar pembaca bisa menilainya dari dua sisi.

 

Penambahan lainnya terjadi pada hampir di setiap narasi, yakni susunan kata-kata dramatis atau mungkin terlalu dramatis untuk buku sejarah. Pada bab empat ketika Nasution melarikan diri dari kejaran tentara, penggambarannya begitu detail, seolah penulis Lambert ikut menyaksikan kejadian tersebut, sampai sulit dipercaya bahwa ini adalah kejadian sesungguhnya. Penggambaran dramatik yang terlalu sering membuat pengalaman membaca jadi terganggu. Namun dari situlah pembaca dapat merasakan emosi beragam dari setiap tokoh yang diceritakan.

 

Buku ini sangat layak dibaca oleh peminat sejarah-politik. Tidak hanya menceritakan Soekarno pada masa pemerintahan Orde Lama, tetapi juga menceritakan sekilas pengaruh politik Soekarno mulai dari masa pemerintahan Soeharto sampai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Terdapat daftar singkatan di halaman belakang sehingga memudahkan pembaca dalam mengetahui kepanjangan dari singkatan-singkatan yang muncul di buku. Gaya bahasa yang digunakan cukup ironi, sarkasme, dan terasa agak rancu bagi pembaca yang belum terbiasa menikmati buku terjemahan.

 

Penulis : Dieny Permata Ainy

Editor : Lilik Purwanti

 

facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?