Resensi Buku 'Perempuan di Titik Nol'

administrators 20 Desember 2025 15:15:54 4

Judul : Perempuan di Titik Nol 

Pengarang : Nawal El-Saadawi

Penerbit : Pustaka Obor Indonesia

Tahun terbit : 2010

Jumlah halaman : 156

ISBN : 978-979-461-040-2


Isu feminisme telah berkembang pesat sejak abad ke-19. Perjuangan perempuan membebaskan diri dari patriarki seolah tiada habisnya. Firdaus adalah gambaran nyata dari kekejaman sistem di mana laki-laki memegang kendali, memandang rendah perempuan, dan tidak bermoral. Nawal El-Saadawi, sebagai psikiater, berhasil mengabadikan kisah Firdaus melalui jeruji besi ke dalam sebuah novel berjudul “Perempuan di Titik Nol”.  


Firdaus merupakan perempuan Mesir yatim-piatu yang sedari kecil hidup dengan pamannya. Namun, Paman Firdaus hanya baik di luar. Ia dinikahkan dengan Syekh Mahmoed–seorang pria tua yang sangat keras dalam mendidik istri. Kejadian paling membekas bagi Firdaus yaitu ketika ia makan bersama Syekh Mahmoed dan suaminya itu terus menatap ke arah piring Firdaus, memastikan bahwa Firdaus tidak menyisakan nasi sebutir pun. Apabila terdapat sisa makanan sedikit saja, Firdaus akan mendapat pukulan. Pada saat ia melaporkan hal tersebut kepada pamannya, Paman Firdaus mengatakan bahwa sangat wajar apabila seorang suami memukul istrinya. Hal itu juga ditambah oleh perkataan istri sang paman, bahwa laki-laki yang paham agama justru sangat suka memukul istrinya.


Ia lantas melarikan diri dari rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu seorang laki-laki yang pada akhirnya berbuat hal tidak bermoral kepada Firdaus. Ia lagi-lagi melarikan diri. Dalam perjalanan, Firdaus bertemu Sharifa, seorang germo wanita yang mengantar Firdaus pada dunia malam. Awalnya Sharifa membantu Firdaus bangkit dari keterpurukan namun di sisi lain dia ikut mengambil keuntungan dari pekerjaan Firdaus. Pada saat Firdaus berhasil terlepas dari Sharifa, ia bertemu dengan germo laki-laki. Firdaus diminta menjadi pekerja di bawahnya, tetapi Firdaus menolak. Akibat terdesak, Firdaus membunuh laki-laki tersebut dan ia masuk penjara. Hukuman gantung adalah vonis terakhirnya. Firdaus tidak menginginkan sebuah keringanan saat ia ditanya mengapa tidak mengajukan grasi kepada presiden. Ia hanya berpikir untuk bebas. Dan menurutnya, kematian adalah kebebasan sesungguhnya.


Kelebihan buku ini yaitu ukuran bukunya yang kecil, 11x17 cm, sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Ia dapat disimpan dalam tas kecil atau bahkan saku jaket. Selain itu, cerita dalam buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama yang mana memungkinkan emosi tokoh langsung sampai ke pembaca. Untuk kekurangannya sendiri, “Perempuan di Titik Nol” menggunakan alur maju-mundur sebab ditulis setelah tokoh Firdaus meninggal. Akan tetapi, perpindahan alur ini terkadang kurang halus dan seperti tergesa-gesa sehingga membuat pembaca kurang nyaman. Pada bab 2, Firdaus sempat menyatakan dalam narasinya bahwa ia ingin berbicara tanpa dipotong karena besok dia sudah tidak ada. Nawal El-Saadawi seolah ingin menggambarkan kesan tergesa-gesa tersebut ke dalam buku ini atau memang narasumber memiliki keterbatasan waktu dalam menyelesaikan seluruh ceritanya. 


Di samping semua itu, “Perempuan di Titik Nol” sangat layak dibaca oleh peminat sastra Arab, budaya, serta isu perempuan. Lebih disarankan untuk pembaca berusia delapan belas tahun ke atas karena banyak memuat unsur kekerasan, pelecehan, dan hubungan intim. Bahasa yang digunakan formal dan agak klasik, namun tetap mudah dipahami. Butuh jeda berhari-hari untuk menamatkan buku ini karena setiap halaman begitu menguras emosi dan perlu persiapan mental.



Penulis : Dieny Permata Ainy

Editor : Lilik Purwanti

 


facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?