Diskusi Bersama Novida Abbas dan M. Chawari : “Benteng Vredeburg sebagai Sistem Pertahanan Kolonial di Yogyakarta”

administrators 05 Desember 2025 09:35:34 3

Museum Benteng Vredeburg, Kamis (4/12/2025), menghadirkan diskusi bertema “Museum Benteng Vredeburg sebagai sistem pertahanan Kolonial di Yogyakarta” pada pukul 09.00 WIB di Ruang B Atas Museum Benteng Vredeburg. Agenda ini diprakarsai oleh Kementerian Kebudayaan Museum dan Cagar Budaya serta didukung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Arkeolog dan peneliti Novida Abbas, serta Muhammad Chawari, turut diundang dalam kegiatan ini sebagai pemantik materi. Keduanya berkolaborasi membawakan materi berjudul “Makna dan Fungsi Unsur Bangunan Benteng Vredeburg”. Terdapat kurang lebih 40 peserta undangan termasuk pemantik materi yang menghadiri agenda ini.

 

Pada awal diskusi, peserta mendengarkan penjelasan fungsi benteng secara umum. Dijelaskan dua fungsi utama benteng yaitu sebagai tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh dan sebagai penahan serangan dari luar. Diskusi kemudian berlanjut pada paparan sejarah berdirinya Benteng Vredeburg.

 

Tahun 1755, setelah terbaginya Mataram Islam menjadi dua wilayah di bawah Kasunanan Surakarta dan Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwono sebagai Raja I Yogyakarta tahun 1755–1792 mendapat klausul membangun benteng VOC. Benteng pun dibangun tahun 1765 dan selesai pada tahun 1790 dengan nama Benteng Rustenburg. Fungsi benteng tersebut awalnya sebagai peristirahatan. Peralihan dari Benteng Rustenburg menjadi Benteng Vredeburg berkaitan erat dengan peristiwa Perang Jawa tahun 1825. Pada saat itu, Ratu Agung melarikan diri ke Benteng Rustenburg hingga perang berakhir. Peristiwa ini membuat benteng berganti nama menjadi Benteng Vredeburg yang artinya benteng perdamaian.

 

Selanjutnya, diskusi mulai membahas unsur-unsur bangunan Benteng Vredeburg yang meliputi parit keliling, tembok keliling, bastion, jembatan angkat, pintu gerbang, selasar, dan bangunan di dalam benteng. Dikatakan bahwa parit keliling Museum Vredeburg sudah tidak berfungsi sejak tahun 1830. Sementara itu, pada bagian tembok keliling sisi Barat dan Utara, terdapat lubang senjata dan lubang intai. Senjata lain juga terletak di empat buah bastion yang dibangun di setiap sudut museum. Masing-masing bastion ini dilengkapi lubang tembak serta dudukan meriam. Adapun jembatan angkat atau drawbridge, merupakan jembatan berengsel dengan di salah satu ujung/tengah yang berfungsi untuk menutup akses masuk-keluar sesuatu di bawahnya. Diketahui bahwa jembatan ini sudah diganti menjadi jembatan biasa. Di sebelah Barat jembatan, terdapat pintu gerbang utama yang sekitar tahun 1765–1830 difungsikan sebagai kantor komando, sedangkan dua ruangan di bawahnya di sisi Selatan dan Utara merupakan tempat jaga. Selain pintu gerbang utama, masih ada pintu gerbang kedua di sisi Timur dan pintu “butulan” di sisi Selatan. Unsur bangunan berikutnya, yaitu selasar museum. Setidaknya dibangun di empat sisi (Selatan, Barat, Utara, dan Timur) sebagai ruang jalan dengan ciri-ciri lebih tinggi dari tanah di sekitarnya. Terakhir, yakni unsur bangunan di dalam Museum Vredeburg. Diperkirakan bangunan yang sekarang difungsikan sebagai ruang anak dulunya adalah rumah dinas komandan dan wakilnya. Kemudian, ruang yang kini difungsikan sebagai diorama 4, diperkirakan sebagai rumah dinas para perwira atau societeit. Ada pula rumah tinggal para prajurit diperkirakan berada di dua bangunan bertingkat di sisi Utara dan Selatan yang setiap bangunan dapat menampung kurang lebih 500 prajurit. Selain itu, masih ada bangunan tunggal di dalam benteng di sebelah Barat bastion sisi Tenggara yang diperkirakan sebagai gudang mesiu–penyimpanan amunisi. Perkiraan tersebut didasarkan pada bangunan yang tampak terpisah, tanpa jendela, dibuat pagar dan gapura dengan pos penjaga di depan, menandakan bahwa bangunan ini cukup penting. Di samping itu, bangunan di dalam benteng juga memiliki bangunan yang dulu difungsikan sebagai penjara. Bangunan penjara pertama berada di bawah selasar sisi Selatan, sedangkan bangunan penjara kedua berada di sebelah Utara pintu gerbang utama.

 

Usai pembahasan unsur-unsur bangunan Benteng Vredeburg, peserta diskusi kemudian diajak untuk melakukan perbandingan dengan dua benteng kolonial lainnya yaitu Benteng Vastenburg dan Benteng Van den Bosch. Sama seperti Vredeburg, Benteng Vastenburg juga memiliki parit keliling, tembok keliling, empat buah bastion, jembatan angkat, dan dua pintu gerbang. Kesamaan lainnya juga tampak dari foto udara yang menunjukkan bahwa Benteng Vredeburg dan Vastenburg berdenah bujur sangkar. Di sisi lain, unsur bangunan Benteng Van den Bosch hampir sepenuhnya menyerupai Benteng Vredeburg dengan gudang mesiu, empat bastion, dua pintu gerbang, parit keliling, tembok keliling, dan jembatan angkat. Tidak hanya itu, jalan patroli di Benteng Van den Bosch juga memiliki ciri khas yang sama dengan selasar di Benteng Van den Bosch, yaitu lebih tinggi dari tanah di sekitarnya.

 

Menjelang siang, kegiatan diskusi ini ditutup dengan sesi penyerahan tesis Novida Abbas berjudul “Dutch Forts of Java” kepada Museum Benteng Vredeburg dalam rangka memberikan kenang-kenangan sekaligus imbuhan referensi tentang benteng-benteng Belanda terutama Benteng Vredeburg. Tesis ini berisikan analisis Novida Abbas mengenai benteng-benteng Belanda di Pulau Jawa, yang menelaah fungsi dan lokasi strategisnya dalam konteks sejarah kolonial Belanda. Pada umumnya, benteng-benteng tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan militer, tempat singgah, dan pos pengawasan.

 

 

Penulis : Dieny Permata Ainy

Editor    : Lilik Purwanti

 

 

facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?