Upacara Peringatan Hari Pahlawan di Museum Benteng Vredeburg

administrators 12 November 2025 09:45:23 3

Senin pagi (10/11/2025) Museum Benteng Vredeburg melaksanakan Upacara Pengibaran Sang Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan. Sebanyak 115 peserta upacara ikut merapatkan barisan di halaman dalam museum. Peserta mengenakan atasan putih dengan bawahan hitam, ada pula yang menggunakan pakaian KORPRI. Sementara itu, petugas keamanan memakai baju warna krem lengkap beserta atribut.

 

Upacara ini dimulai dengan pengibaran bendera yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu, mengheningkan cipta. Suasana hening, tampak peserta upacara meresapi lagu tersebut. Kemudian lanjut membacakan teks Pancasila yang diikuti oleh peserta upacara. Pembacaan Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945. Tak lupa, disampaikan juga Pesan Perjuangan Pahlawan Nasional.

 

Terdapat sembilan pesan yang disampaikan, yaitu pesan dari Dr. Cipto Mangunkusumo berbunyi, “Perlawanan yang tidak lahir dari pikiran merdeka hanyalah letupan emosi, bukan perjuangan.”

 

Selanjutnya dibacakan pula pesan Nyi Ageng Serang, “Lemah badan bukan alasan untuk tunduk, sebab jiwa bisa lebih tajam dari keris.” Pesan ini lantas diperkuat dengan pesan Pangeran Antasari yang menekankan perjuangan di antara hidup dan mati, “Hidup untuk rakyat, mati untuk kehormatan.” 

 

Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII juga berpesan, “Jangan berharap hidup tenang selama kemerdekaan belum penuh.” Hal ini menunjukkan tentang betapa kerasnya perjuangan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan. Sementara itu, Frans Kaisiepo memberikan pegangan bagi para pejuang kemerdekaan, bahwasa tanah ini bukan milik segelintir orang, tetapi rumah bagi semua anak Indonesia.

 

“Perempuan bukan bayangan, tetapi cahaya dalam rumah tangga dan bangsa.” Pahlawan Nasional Maria Walanda Marawis, meninggalkan pesan yang sedikit berbeda. Ia menegaskan keberanian perempuan melibatkan diri dalam memperjuangkan kemerdekaan. Pesan Teuku Cik Di Tiro kemudian seolah memperkuat pesan tersebut, bahwa tidak ada ketakutan bagi mereka yang memperjuangkan kebenaran.

 

Berikutnya, dibacakan pesan Pahlawan Nasional Ida Anak Agung Gede Agung yang berbunyi, “Politik bukan alat kuasa, tetapi alat menjaga martabat bangsa.” Hal ini mempertegas pesan Frans Kaisiepo sebelumnya mengenai peletakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Adapun sebagai penutup, pembacaan pesan Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir, bahwa kebebasan berpikir adalah bentuk pertama dari kemerdekaan. Pesan terakhir ini lebih mengingatkan akan hak bersuara.

 

Setelah pembacaan pesan para pahlawan nasional, V. Agus Sulistya selaku pembina upacara mulai membacakan amanat Menteri Sosial Republik Indonesia dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan. “Para pahlawan mengajarkan kepada kita, bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Kemerdekaan lahir dari kesabaran, keberanian, kejujuran, kebersamaan, dan keikhlasan,” ucapnya mengikuti teks. Oleh karena itu, setidaknya terdapat tiga hal yang perlu diteladani dari para pahlawan berupa kesabaran, semangat mengutamakan kepentingan bangsa, dan memiliki pandangan jauh.

 

“Mereka tetap sabar meski menghadapi perbedaan pandangan dalam perjuangan, tidak pernah berebut jabatan atau kekuasaan atas apa yang ditinggalkan penjajah. Semua peninggalan penjajah dikembalikan kepada rakyat karena di situlah letak kehormatan,” imbuhnya.

 

Amanat tersebut kemudian menjadi pengingat bagi segenap peserta upacara untuk terus bergerak melanjutkan perjuangan para pahlawan. Di zaman sekarang, perjuangan bukan lagi menggunakan penjara berupa bambu runcing, melainkan dengan ilmu.

 

 

Penulis : Dieny Permata Ainy

Editor    : Lilik Purwanti

 

 

 

facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?