Biennale Jogja Gelar Pameran “Mia Bustam” di Museum Benteng Vredeburg

administrators 18 Oktober 2025 10:10:14 3

Museum Benteng Vredeburg  (06/10/25), menyediakan ruang pameran arsip untuk Biennale Jogja dalam project Mia Bustam. Pameran dengan judul “Mia Bustam” ini merupakan subtema dari tema besar “KAWRUH : Tanah Lelaku” babak II yang diselenggarakan Biennale Jogja di Yogyakarta. Biennale Jogja sebelumnya telah mengakurasi Museum Benteng Vredeburg sebagai salah satu lokasi strategis dalam rangka memperkenalkan karya-karya para seniman/seniwati yakni Awanda B. Destia, Chandra Rosselinni, Kemala Hayati, Nadya Hatta, Nessa Theo, dan Mia Bustam terutama. Pameran ini akan dibuka dari tanggal 6 Oktober sampai dengan 25 November 2025 di lantai dua Museum Benteng Vredeburg, lebih tepatnya di Ruang Sultan Agung.

 

“Ruang Sultan Agung cukup luas dan proper untuk menampung karya beberapa seniman, baik di dalam ruang maupun di bagian selasar,” ungkap Yoga Hanindyatama, salah satu tim Biennale Jogja yang menjaga pameran pada hari Kamis (16/10/25). Ia juga mengungkapkan jumlah kunjungan pameran rata-rata sekitar 150-an orang per hari. Angka kunjungan ini dapat membentuk kesan optimis, bahwa museum tidak lagi hanya sebagai ruang sejarah tetapi media untuk memperkenalkan seni kepada masyarakat dan dalam hal ini adalah pengunjung.

 

Pameran Mia Bustam berisi kumpulan arsip berupa memoar, catatan, artikel, dan berita yang memuat perjalanan Mia Bustam sebagai pejuang seni rupa yang aktif dalam organisasi kerakyatan di Indonesia seperti Seniman Indonesia Muda (SIM), Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), dan sekaligus seorang ibu dari delapan anak. Arsip-arsip tersebut dipajang pada sisi dinding kiri ke kanan yang menarasikan secara runtut dari sejak kelahiran sampai wafatnya Mia Bustam. Lukisan Mia Bustam dipajang di antara setiap narasi. Lukisan-lukisan yang sebagian besar menggambarkan kehidupan Mia Bustam ini dilukis oleh Mia Bustam sendiri. Karya paling mencolok, adalah lukisan anggota keluarga Mia Bustam bersama kedelapan anaknya yang dilukis tanpa sosok ayah. Dalam narasi pun dijelaskan, bahwa Mia Bustam menjadi ibu tunggal setelah bercerai dengan suaminya–Sudjono. Kesibukan domestik Mia Bustam sebagai ibu tunggal dari delapan anak divisualkan pada area tengah ruang pameran Mia Bustam. Terdapat mesin jahit, meja kecil dengan susunan buku-buku bacaan Mia Bustam, serta benang rajut, menunjukkan keahlian Mia Bustam yang sering ia lakukan. Dipamerkan pula karya kerajinan Mia Bustam berupa tas rajut, sulaman taplak meja, dan hiasan dinding.

 

Adapun karya “Bayang di Balik Tembok” oleh Chandra Rosselini yang menggambarkan beberapa potret Mia Bustam di balik tembok penjara. Ia ditahan akibat terikat dengan organisasi-organisasi berpaham kiri pada masa Orde Baru. Sosok Mia Bustam ini digambarkan meringkuk sendirian dengan latar belakang hitam. Di antara karya Mia Bustam yang dipamerkan, terdapat salah satu  lukisan yang memperlihatkan punggung seorang anak perempuan, merepresentasikan kerinduan Mia Bustam terhadap anaknya. Karya-karya Mia Bustam selama tinggal di lapas turut diperlihatkan seperti desain gambar tas, logo, dan poster. Karya-karya inilah yang mampu menambah pemasukan ekonominya di dalam lapas. Pengalaman Mia Bustam sebagai tahanan politik tersebut ia tulis secara mendetail pada memoar pribadinya berjudul “Dari Kamp ke Kamp”. Mia Bustam juga menulis dua karya lain berjudul “Sudjono dan Aku” serta “Kelindan Asa dan Kenyataan”.

 

Selain pameran “Mia Bustam” di Ruang Sultan Agung, terdapat pula pameran karya seni oleh para seniman lain meliputi Abdi Karya, Arungkala, Dolorosa Sinaga, Entang Wiharso, Marten Bayu Aji, dan Riyan Kresnandi. Sekitar 4 titik lokasi tersebar di museum yang difungsikan sebagai tempat untuk memamerkan karya; selasar belakang Diorama 2, bawah tangga menuju Ruang Sultan Agung, ujung koridor dekat pintu masuk disabilitas, dan samping kolam di Plaza Barat museum. Masing-masing pameran mengangkat tema yang berbeda-beda. Pihak Biennale Jogja mengungkapkan, bahwa penyediaan venue ini sangat bagus karena dengan demikian para seniman diberi ruang untuk memamerkan ekspresi seninya.

 

“Saya harap Museum Benteng Vredeburg membuka lebih banyak lagi kesempatan pameran, terutama dari komunitas atau organisasi yang belum terkenal akibat kesulitan mengakses ruang publik.” Nada Kamilia Tsaqofah, selaku Gallery Sitter, ikut memaparkan harapannya terhadap museum di masa depan.

 

 

Penulis : Dieny Permata Ainy

Editor    : Lilik Purwanti

facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?