Krisis Pangan & Sandang: Wujud Kebijakan Ekonomi Self-Help pada Masa Pendudukan Jepang

administrators 31 Maret 2022 12:00:47 197

Masa pendudukan Jepang  merupakan salah satu periode yang paling menentukan dalam perjalanan sejarah Indonesia. Sebelum Jepang memasuki wilayah Indonesia pada tahun 1942, tidak ada satupun tantangan serius yang dihadapi oleh pihak Belanda di Indonesia. Semua berubah ketika Jepang mulai menduduki wilayah Indonesia yang mengakibatkan Belanda menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942. Sejak itulah Belanda resmi meninggalkan Indonesia dan digantikan oleh pendudukan Jepang. Selama 3,5 tahun negeri “Matahari Terbit” itu menduduki berbagai wilayah di Indonesia. Selama itu pula telah berlangsung begitu banyak perubahan yang menjadi latar belakang terciptanya revolusi nasional tahun 1945—1949.

Pada dasarnya maksud kedatangan Jepang di Indonesia bertujuan untuk mendapatkan bahan baku guna memenuhi kebutuhan perang melawan pasukan sekutu. Untuk mencapai tujuan tersebut Jepang memberlakukan ekonomi self-help, yakni kebijakan mengerahkan semua kekuatan ekonomi untuk menopang kebutuhan Jepang di Indonesia. Salah satu bentuk ekonomi self-help ialah pengendalian perkebunan yang diatur berdasarkan Undang-Undang No 322/1942 yang menyatakan bahwa Gunseikan (kepala militer) ditugaskan untuk mengawasi secara langsung perkebunan kopi, kina, karet, dan teh. Hal ini dilakukan guna mengklasifikasi komoditas yang dapat menunjang kebutuhan perang. Kopi, teh, dan tembakau dianggap sebagai komoditas yang kurang berguna bagi perang sehingga ketiga komoditas tersebut diganti dengan komoditas lain yang lebih berguna, seperti tanaman jarak, gula, beras, kapas, dan rami (rosela).

Tidak hanya menjalankan kebijakan pengendalian perkebunan, Jepang juga melarang penanaman tebu dan gula ketika persediaan gula sedang melimpah di tanah Jawa. Bangunan pabrik gula kemudian dialihfungsikan sebagai pabrik senjata. Sementara itu, Jepang memberlakukan kebijakan yang berbeda terhadap komoditas yang persediaannya menipis. Komoditas beras misalnya. Pada masa pendudukan Jepang, rakyat diminta untuk menghancurkan perkebunan kopi dan teh kemudian diganti dengan penanaman padi yang dilakukan oleh para tawanan. Pemerintah Jepang juga melakukan eksploitasi secara intensif dengan mengharuskan petani untuk menyerahkan hasil produksinya.  Untuk mendukung kebijakan penyerahan padi, Jepang turut menetapkan kebijakan harga gabah dan beras. Kondisi ini menyebabkan para petani maupun pemilik lahan mengalami kerugian besar. Selain itu, kebijakan penyerahan padi yang terlalu ekstrem juga berimbas terhadap jumlah padi yang semakin berkurang sehingga mengakibatkan terjadi krisis pangan di berbagai daerah di pulau Jawa

 

Replika baju goni yang digunakan sebagai pakaian pada masa pendudukan Jepang. (Sumber: Ruang Diorama 1, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 22 Maret 2022)

Di lain sisi, kebijakan penanaman tanaman kapas dan rami yang diberlakukan oleh Jepang ternyata tidak berjalan dengan lancar. Pengelolaan penanaman kapas dan serat rami tidak terlepas dari tekanan-tekanan dan tindak kecurangan. Hal ini berdampak terhadap jumlah produksi kapas dan rami yang semakin menipis. Lebih lanjut, minimnya jumlah produksi kapas dan rami menimbulkan kelangkaan bahan sandang. Kenyataan ini menyebabkan rakyat Indonesia menggunakan apa saja untuk menutupi tubuhnya, tak terkecuali menggunakan karung goni. Karung goni yang biasanya digunakan untuk menyimpan beras atau bahan makanan lainnya dialihfungsikan menjadi baju dan celana. Sekalipun karung goni mengandung banyak kutu yang menyebabkan gatal pada tubuh tetapi hal itu bukanlah suatu masalah sebab yang terpenting kebutuhan akan bahan sandang dapat terpenuhi. 

Krisis pangan dan sandang yang terjadi pada masa pendudukan Jepang adalah hasil yang dipetik dari pemberlakuan kebijakan ekonomi self help oleh pemerintah Jepang. Penerapan kebijakan tersebut sejatinya telah menimbulkan penderitaan yang mengakibatkan kesengsaraan dan kesulitan bagi rakyat terutama dalam hal sandang dan pangan. Suatu kondisi yang membuktikan bahwa kebijakan ekonomi self help hanyalah tipu muslihat Jepang untuk semakin memperkuat dan memperkaya diri dengan melancarkan eksploitasi terhadap sumber daya alam dan manusia di tanah air. 

Referensi Sumber Bacaan:

Ibrahim, Julianto, “Eksploitasi Ekonomi Pendudukan Jepang di Surakarta (1942—1945), Humaniora, Vol. 16 No. 1, 2004. 

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern 1200—2008, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2008. 

Sulistya, V. Agus, Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, 2020. 

Penulis: Brenda Hayuning Zaenardi mahasiswa magang sejarah UGM










Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?