Refleksi Peringatan Hari Museum Nasional, Vredeburg Hadirkan Seminar Museum

administrators 18 Oktober 2021 14:45:45 64

Keberadaan museum sampai sekarang masih dipandang sebagai lembaga konservasi, ruangan-ruangan kuno yang bercerita tentang sejarah yang membosankan dan barang-barang sejarah yang sudah usang. Selain itu mindset masyarakat Indonesia belum sampai pada tahap membutuhkan ilmu pengetahuan sebagai sarana pembelajaran dan rekreasi sehingga berkunjung ke museum belum menjadi sebuah tradisi dan jarang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Oleh karenanya, banyaknya jumlah museum di Indonesia tidak diiringi dengan minat masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke museum. Sebagai refleksi untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut, dalam momentum perayaan Hari Museum Nasional, Museum Benteng Vredeburg menyelenggarakan Seminar Daring yang bertajuk ‘Museum Cantik dan Berbudaya) pada Kamis (7/10/2021) dengan menghadirkan narasumber Drs. Nunus Supardi (Pemerhati Budaya) dan Asep Topan, S.Sn. (Museum Macan dan Dosen IKJ), dengan dimoderatori oleh presenter Isye Dewi. Acara tersebut diikuti oleh 120 peserta. Turut hadir memberikan sambutan, Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Drs. Suharja. 

Dalam sambutannya, Drs Suharja menyampaikan bahwa pandemi yang berlangsung selama hampir dua tahun menjadi pukulan bagi pengelola museum. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para pengelola museum, yang kemudian menyiasatinya dengan menciptakan berbagai inovasi untuk mengantarkan materi budaya kepada generasi muda agar peran museum sebagai media penguatan karakter dapat tersampaikan. Selain itu, Kepala Museum juga menyampaikan bahwa kota Yogyakarta dipercaya sebagai penyelenggara Perayaan Hari Museum Nasional 2021 yang akan digelar sebagai acara puncak dari rangkaian acara Peringatan 50 Tahun Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY. Barahmus adalah salah satu pengurus AMI di daerah yang merupakan salah satu embrio lahirnya hari museum. 

Sementara Asep Topan dalam paparannya menyampaikan bahwa inovasi tidak melulu tentang teknologi. Namun Inovasi menurutnya adalah tentang perubahan cara berpikir. Dalam konteks museum, maka inovasi ini melahirkan perubahan paradigma tentang Museum. Museum tradisional (Old School) yang dicirikan dengan bangunan/arsitektural klasik; memiliki serangkaian ‘protokol’ atau ‘aturan’ yang protektif terhadap benda koleksi maupun bangunannya; pemajangan/display objek yang cenderung statis; audiens yang telah terseleksi dengan sendirinya; dan praktisi museum yang fokus utamanya pada benda koleksi dan kegiatan penelitian. “Museum Old School” ini harus merubah paradigma menjadi “Museum New School” yang secara mendasar berorientasi pada audiens; museum lebih bersifat reflektif akan sejarah dan pengetahuan yang dibangunnya; dan museum menawarkan keberagaman tontonan yang menghadirkan pengetahuan dan hiburan pada saat bersamaan. 

Dalam kesempatan tersebut, Asep sekaligus menyampaikan gagasan refleksitas dalam peraktik permuseuman, yakni museum melakukan penyesuaian dengan konteks saat ini; regenerasi praktisi museum serta melibatkan lapisan lain selaian penyelenggara museum dalam mengembangkan gagasan museum; penggunaan teknologi baru sebagai saran penunjang; meningkatkan keterlibatan audiensi dengan menyajikan pengalaman “melihat” dan “mengalami” museum yang lebih beragam; mengimplementasikan gagasan DEAI (diversity, equity, accessibility, and inclussion atau keragaman, kesetaraan, aksesibilitas, dan inklusi) dalam museum. 

Sedangkan Drs. Nunus Supardi menyampaikan bahwa akibat pandemi Covid, menurut UNESCO terdapat 85.000 museum didunia sedang ditutup. Sedangkan survey ICOM menemukan bahwa 13% dari 1.600 museum Internasional akan ditutup secara permanen, 19,2% dengan alasan finansial yang kacau mengaku tak yakin bisa kembali buka; museum-museum lain yang sudah buka pun telah mengurangi 20% dari jumlah staffnya; dan sebanyak 83% museum didunia melakukan pengurangan program dan membatasi penggunaan listrik sebanyak 30%.

Nunus juga memaparkan jumlah pengunjung museum dari negara lain ke Jepang. Urutan pengunjung asing di Jepang dari China 7.355.000 orang; dari Korea Selatan 7.140.200 orang; dari Taiwan 4.564.100 orang; dari AS 1.375.000 orang. Yang menarik pada 2017 pengunjung dari Indonesia ke museum di Jepang sebanyak 352.000 orang atau naik 30% dibandingkan tahun sebelumnya. 

“Pertanyaannya, dari 352.000 orang itu, berapa orang yang sudah mengunjungi museum di negerinya sendiri?”, tanya Nunus Supardi dalam paparannya.   

Oleh karena museum Indonesia tengah dikepung kreativitas dan inovasi dari museum-museum lain di luar negeri maka Indonesia harus mengejar ketinggalan dalam tampilan museum; perlu dilakukan penggalian potensi setiap museum untuk menggencarkan kreativitas dan inovasi museum; perlu mengembangkan berbagai model temuan baru dibidang teknologi komunikasi dan pengenalan museum; menggali dan mengembangkan potensi museum yang meliputi bangunan, koleksi, lokasi, fasilitas pendukung, sdm, kerjasama, dll; serta perlu penerapan teknologi digital museum. 

Khusus untuk Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Nunus menyampaikan beberapa saran yakni terkait rencana penggunaan bangunan E untuk ruang simulasi perlu dikaji ulang untuk kemungkinanan direalisasikan; informasi adanya terowongan atau basement didalam benteng perlu ditindaklanjuti dengan penelitian dan penggalian; Benteng sebagai tempat interniran Dr. Lucien Adam (Gubernur Hindia Belanda di Yogyakarta) dan Dr. Stutterheim patut diangkat dan dijadikan daya tarikperan Benteng dalam sejarah pendudukan Jepang; serta beberapa karya seni (lukisan/gambar) interniran  di Benteng bernama D.A.J.L. de Geerr Boers menarik untuk dijadikan koleksi. 


Penulis : Lilik Purwanti (Pamong Budaya Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta?



Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?