Terbuka sebagai Wahana ABK, Vredeburg in Frame Gandeng SLB Negeri Pembina

administrators 28 Maret 2022 10:30:53 89


Museum Benteng Vredeburg Sabtu (26/3/2022) hadir spesial dengan menghadirkan penampilan dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Yogyakarta. Dengan mengusung tema “Museum sebagai Wahana ABK”, dilangsungkan pertunjukan fashion show, tari, pertunjukan Angklung serta menyanyi dari para siswa. Sebagai pembawa acara kegiatan ini yakni Ayu Maun Nadhifah (Duta Museum DIY untuk Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta) dan Adi Guzali (Duta Museum DIY untuk Museum Perjuangan Yogyakarta / Museum Benteng Vredeburg Unit 2). Acara ini disiarkan langsung dari kanal Youtube Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Museum Suharja dalam sambutannya mengungkapkan  bahwa memperingati peringatan Serangan Umum 1 Maret, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan pameran yang berlangsung pada tanggal 1-30 Maret  2022 yang diisi dengan berbagai kegiatan, salah satunya kegiatan Vredeburg in Frame. Kegiatan Vredeburg in Frame merupakan optimalisasi dari fungsi museum sebagai ruang publik, ruang berekspresi, dan ruang bagi pemajuan kebudayaan. 

“Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan pelayanan prima di museum. Maka Museum Benteng Vredeburg menyambut gembira dengan berkolaborasinya SLB Negeri Pembina Yogyakarta pada acara Vredeburg in Frame” ungkap Kepala Museum.

Sementara Kepala SLB Negeri Pembina Yogyakarta, Hartati mengungkapkan bahwa museum merupakan tempat yang tepat untuk belajar budaya dan sejarah. Bagi siswa, pembelajaran justru akan sangat menarik bila dilakukan diluar kelas. Maka dalam kesempatan tersebut Kepala SLB Negeri Pembina mengucapkan terima kasih atas diberikannya kesempatan untuk bekerjasama dengan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Menurut Hartati, acara ini selain bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaa diri anak, juga menjadi ajang untuk mengedukasi masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami ABK. 


Dalam acara tersebut, disajikan juga Segmen Edukasi Museum oleh Edukator Museum, Noibenia Gendrit Kharisma Putri. Dalam Segmen ini dikupas tentang Peristiwa Berdirinya Tamansiswa. Noibenia dalam paparannya mengungkapkan bahwa pada masa penjajahan Belanda, sistem pendidikan sangat diskriminatif. Selain bangsa Eropa, hanya anak bangsawan atau kalangan raja-raja saja yang mendapatkan akses pendidikan. Padahal seluruh rakyat membutuhkan pendidikan untuk membebaskan diri mereka dari belenggu penjajahan dan kemiskinan. 

Diawali dari perkumpulan Selasa Kliwon yang diikuti oleh beberapa tokoh politik untuk membahas persoalan rakyat Hindia Belanda yang terjajah, muncullah gagasan untuk mendirikan pendidikan rakyat untuk menumbuhkan jiwa merdeka dikalangan rakyat banyak. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Dalam menjalankan kepemimpinannya di Taman Siswa ini Ki Hajar Dewantara mengajarkan Konsep Trilogi Kepemimpinan: Ing Ngarso Sung Tuladha (Di depan memberikan contoh), Ing Madya Mangun Karsa, (Berada ditengah-tengah untuk membangun kehendak) Tut Wuri Handayani (Berada dibelakang untuk memberidorongan dan semangat)

Penulis: Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)

























Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?