MEMBICARAKAN TANAM PAKSA: BAGIAN AKHIR

administrators 13 April 2026 16:55:37 6

Kenyataan-kenyataan pahit sistem tanam paksa (sebagaimana telah diulas dalam Part sebelumnya) bagi sebagian kalangan jelas memperlihatkan bahwa sistem tanam paksa hanya memberikan kesulitan pada petani Jawa. Namun pendapat ini disanggah oleh Elson. Mengutip Reinsma, bahwa sistem tanam paksa “bukan hanya membangkitkan kebutuhan di kalangan penduduk terhadap barang impor, melainkan juga dibangkitkannya hasrat untuk memiliki harta benda dan meningkatkan taraf kehidupan pada umumnya.” Elson mengemukakan tiga pendapat untuk membantah pendapat yang menyatakan tanam paksa menimbulkan kemiskinan bagi petani. Pertama, menurut Elson, pendapat yang dikemukakan meragukan karena tidak didasarkan pada bukti empiris. Kedua, alasan yang dikemukakan tidak dilihat dari konteks kesejarahan, karena pendapat bahwa penindasan yang menyebabkan kemiskinan di tanah Jawa pada masa tanam paksa tidak melihat apa yang terjadi sebelum tahun 1830. Ketiga, Elson mengkritik posisi petani Jawa yang digambarkan bersikap pasif dan tidak berdaya.

       Kehidupan petani di wilayah Jawa Timur bagian timur, misalnya Karesidenan Pasuruan, menunjukkan hal yang berlawanan dengan pandangan kemiskinan yang dialami petani Jawa. Di Pasuruan, terjadi peningkatan peredaran uang, meningkatnya perdagangan lokal, besarnya laba yang diterima petani, perbaikan sandang dan papan petani, penerimaan pajak dalam jumlah besar, serta muncul kelompok wiraswasta pribumi. Van Hoevell, salah satu penentang keras sistem tanam paksa, saat mengunjungi Pasuruan mengatakan, “tidak lain melainkan kemakmuran dan kesejahteraan, tidak lain melainkan kegiatan dan ketekunan kerja, tidak lain melainkan kepuasan dan kebahagiaan.” Di Surabaya, van Hoevell mengatakan, “kemakmuran, kecerahan, dan kegiatan yang berlangsung di daerah yang menggembirakan hati ini.” Hal ini kemungkinan disebabkan karena beban kerja yang didapat petani Surabaya lebih ringan dari kebanyakan petani di daerah lain. Tidak ada laporan krisis pangan maupun wabah penyakit di Surabaya. Secara umum, terjadi perluasan areal perkebunan tebu di Surabaya, Pasuruan, Besuki, Kediri, dan Madiun. Akibatnya, terjadi peningkatan populasi penduduk di daerah tersebut disaat pada waktu yang hampir bersamaan terjadi penurunan populasi penduduk (atau lebih tepatnya terjadi perpindahan penduduk) di Jawa Tengah sebagai akibat kurangnya keuntungan yang didapat dan kebutuhan akan tenaga paksa yang besar yang membuat penduduk memilih untuk menghindari kerja wajib pemerintah.

       Laporan umum yang diterima dari pejabat memperlihatkan bahwa secara umum, penduduk mendapatkan kemakmuran. Terjadi peningkatan kegiatan ekonomi serta kesejahteraan di Kedu, Bagelen, Kediri, dan Madiun. Bleeker, seorang ahli demografi Belanda melaporkan industri dan kemakmuran di Tegal dan Pekalongan. Residen Pekalongan mengabarkan peningkatan taraf hidup petani sebagai akibat kegiatan industri gula pemerintah dan tidak ada penunggakan pajak, bahkan beberapa penduduk membayar pajak sebelum jatuh tempo. Pada akhirnya, laporan Gubernur Jenderal kepada Menteri Urusan Jajahan mengatakan, “Pulau Jawa selama masa belakangan ini dalam hal kebendaan telah mengalami kemajuan dan perkembangan pada taraf yang mengesankan.”

       Angka-angka statistik yang diajukan Elson memperlihatkan, pembayaran hasil budidaya tanaman ekspor, tebu misalnya, selalu lebih besar dari pajak yang dipungut. selisih antara jumlah pembayaran hasil panen memberikan keuntungan bagi petani. Petani dapat membayar pajak bumi dari uang pembayaran tanaman ekspor, bahkan masih tersisa bagi petani untuk membeli keperluan yang lain. Hal ini menimbulkan dua manfaat bagi petani, yakni selalu tersedia dana tunai yang dapat digunakan petani dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya serta petani tidak perlu menjual hasil tanaman padinya dengan harga murah.

       Secara jelas Elson membantah penilaian bahwa petani bersikap pasif dan membiarkan keadaan buruk menimpa mereka. Dalam pandangan Elson, petani di Jawa Timur seperti Lumajang mampu menangkap peluang baru dalam penanaman padi. Terjadi peningkatan penanaman padi di Lumajang karena beberapa daerah seperti Pasuruan tidak mampu memenuhi kebutuhan padinya hingga mengakibatkan kurangnya pasokan padi di wilayah tersebut. Akibat positif yang ditimbulkan adalah Lumajang menjadi lumbung padi di Jawa Timur. Sementara di Pasuruan sendiri, petani atas inisiatif sendiri menanam tanaman kopi karena memberikan keuntungan yang besar. Pada akhirnya, Elson berpendapat bahwa sistem tanam paksa pada hakikatnya memberikan manfaat yang besar bagi petani Jawa. Petani, sebagaimana negeri Belanda, mendapatkan untung dan berhasil meningkatkan taraf hidup mereka.

       Melihat kontradiksi di atas, tampaknya perdebatan yang muncul diakibatkan perbedaan data yang diambil dari sistem tanam paksa. Elson menggunakan data-data statistik dari pemerintah kolonial, yang tidak menutup kemungkinan berbeda dengan kenyataan di lapangan, bahkan meski van Hoevell mengatakan bahwa di beberapa daerah seperti Pasuruan, sistem tanam paksa memberikan keuntungan bagi petani. Kritik Elson bagi penulisan sejarah yang menggambarkan dampak buruk tanam paksa, sedikit banyak bersesuaian dengan pendapat Furnivall yang mengatakan bahwa studi atas tanam paksa tidak pernah dikaji secara kritis. Namun kita juga tidak dapat menutup mata dari pendapat yang memperlihatkan bahwa bagaimanapun juga, sistem tanam paksa menimbulkan penderitaan bagi petani, seperti di Cirebon dan daerah Priangan. Tanam paksa memperlihatkan dua sisi kehidupan petani Jawa yang berbeda satu dengan lainnya. Jika di Pasuruan dan wilayah Jawa Timur lainnya tanam paksa berhasil meningkatkan kesejahteraan bagi petani, namun di wilayah lain, seringkali sistem tanam paksa mengakibatkan dampak buruk seperti yang pernah terjadi di Cirebon saat bencana kelaparan menimpa penduduk. Pada akhirnya, penelitian akan sistem tanam paksa tidak bisa berhenti sampai ditemukan pendapat terkuat mengenai dampak penerapannya terhadap petani Jawa, sebagaimana yang dikatakan oleh Elson bahwa tidak banyak didapatkan kemajuan dari pembahasan sistem tanam paksa meski permasalahan ini telah diteliti oleh banyak sejarawan.


Penulis : Andi Arif Adi Mulya (Edukator Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta)

Editor : Lilik Purwanti (Pamong Budaya Ahli Pertama)

 

 

Sumber referensi:

Booth, Anne, dkk. 1988. Sejarah Ekonomi Indonesia. LP3ES : Jakarta

Furnivall, J.S. 2009. Hindia Belanda: Studi Tentang Ekonomi Majemuk. Freedom Institute : Jakarta

Niel, Robert van. 2003. Sistem Tanam Paksa di Jawa. LP3ES : Jakarta

facebook  twitter-x  whatsapp  


Bagaimana informasi yang disediakan website ini?
   

Bagaimana informasi yang disediakan website ini?