Pameran Temporer HUT “Museum Benteng Vredeburg Dulu, Kini, dan Esok”

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor : 0475/O/1992 tanggal 23 November 1992, bekas bangunan Benteng Vredeburg Yogyakarta dimanfaatkan sebagai Museum Khusus Perjuangan bangsa dengan nama Museum Benteng Yogyakarta. Oleh karena itu tanggal 23 November dijadikan sebagai tonggak lahirnya Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Seiring dengan perkembangan pada tahun ini Museum Benteng Vredeburg telah memasuki usia 26 tahun. Usia yang cukup matang sebagai sebuah lembaga untuk dapat berkarya.

Berbagai ide dan gagasan telah dilakukan oleh Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, sebagai upaya mewujudkan museum yang bermanfaat bagi masyarakat.  Inovasi-inovasi dalam berbagai bentuk selalu dilakukan dengan harapan museum akan ada dihati masyarakat.

Untuk publikasi  museum sekaigus memperingati Hari Ulang tahun Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, digelar pameran pada tanggal 21-26 November 2018 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Pameran ini akan dibuka oleh Kepala Dinas kebudayaan DIY pada tangal 21 November 2018. Pameran ini akan menyajikan perjalanan Benteng Vredeburg dari sebuah Benteng pertahannan sampai dimanfaatkan menjadi museum sejarah perjuangan bangsa pada tanggal 23 November 1992. Dalam kegiatan pameran ini akan didukung dengan berbagai kegiatan seperti pentas treatikal, dongeng anak, panggung  apresiasi, Talk Show Radio, senam bersama anggota Barahmus DIY.

Keberadaan museum pada dasarnya adalah untuk memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat khususnya mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia di Yogyakarta. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 39 tahun 2016 pasal 1 ayat b, disebutkan bahwa salah satu tugas Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta adalah melaksanakan pengkajian benda dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia di wilayah Yogyakarta. Hal ini perlu dilakukan agar koleksi Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta semakin semakin berkualitas nilai informasinya dan representatif untuk dapat menjelaskan tentang sejarah perjuangan di Yogyakarta dan dampaknya secara nasional.

Namun museum modern abad 21 mengalami perubahan dengan menuju ekonomi berbasis pengalaman. Masing-masing museum dapat menawarkan pengalaman yang berbeda misalnya Night at Vredeburg Museum, Komunitas Jogja 45 dan komunitas-komunitas pecinta museum. Komunitas dan publik tidak lagi menjadi objek, tetapi dilibatkan dalam merancang kegiatan museum, bahkan dapat menjadi inisiator, kurator sebuah museum yang memunculkan adanya museum komunitas atau penggagas pameran. Dengan memberikan ruang bagi komunitas, telah memiliki dampak yang penting dan berharga pada museum. Kolaborasi komunitas telah menjadi sarana untuk menjangkau pengunjung baru, membangun kepercayaan dan memberi peran baru pada museum terhadap masyarakat kontemporer (masa kini).

 

Leave a Comment