Diorama Sabotase Jembatan Duwet – Diorama III Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

 

Diorama III Menampilkan adegan peristiwa sejarah sejak disepakatinya Perjanjian Renville tahun 1949 sampai dengan adanya pengakuan Kedaulatan RIS tahun 1949. Salah satu adegan Dome kedelapan pada Diorama III adalah Diorama Adegan Peledakan Jembatan Duwet di Dusun Duwet, Kalibawang, Kulon Progo oleh gerilyawan TNI Berlangsung   di Dusun Duwet, Kalibawang, Kulon Progo pada  tanggal  Tahun 1948-1949.

 

Agresi Militer Belanda II menyebabkan jatuhnya kota Yogyakarta ke tangan Belanda. TNI mengundurkan diri ke luar kota sesuai dengan perintah Panglima Besar Angkatan Perang  untuk mengadakan perang secara gerilya.  Para pemimpin TNI segera keluar kota dan mengatur pertahanan serta memimpin gerilya. Mereka itu antara lain Jenderal Soedirman (Panglima Besar TNI), Kolonel Djati Koesoemo (Kepala Staf Angkatan Perang), TB.  Simatupang (Wakil Kepala Staf Angkatan Perang), Letkol Soeharto (Komandan Wehrkreise III).

 

Sementara itu Belanda selalu mengadakan aksi gerakan pembersihan di desa-desa yang dianggap sebagai kubu-kubu pertahanan gerilyawan. Aksi dilaksanakan secara terus menerus hingga menyebabkan rakyat merasa tidak aman lagi, dan karenanya rakyat juga turut mengungsi untuk mencari tempat yang aman.  Gerakan Belanda yang bergerak dari arah timur, memaksa rakyat berbondong-bondong mengungsi ke arah barat membaur dengan pejuang lainnya. Mereka bergerak melintasi Sungai Progo dan menyebar di berbagai tempat yang ada di sebelah barat Sungai Progo seperti (1) Dusun Banaran, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo (2) Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo (3) Kelurahan Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.  Sehingga tempat-tempat tersebut menjadi pusat penampungan pengungsi rakyat yang berasal dari sebelah timur Sungai Progo.

 

Disamping itu di wilayah sebelah barat Sungai Progo juga terdapat markas – markas perjuangan yang sangat penting bagi kelangsungan negara RI waktu itu, antara lain : Di Dusun Banaran, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, terdapat markas gerilya dibawah pimpinan Kolonel TB. Simatupang (Wakil KSAP). Menempati rumah Bapak Karyo Utomo.  Waktu itu tugas Kolonel TB. Simatupang amat berat karena harus mengkoordinasikan  pertahanan Jawa dan Sumatra. Disamping itu juga harus mengatur hubungan dengan MBKD (Markas Besar Komando Djawa), MBKS (Markas Besar Komando Sumatra) dan Panglima Besar Jenderal Soedirman.

 

Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo didirikan Markas MBKD Pos X-2 dibawah pimpinan PTTD (Panglima Tentara Teritorium Djawa)  Kolonel Abdul Haris Nasution.  Menempati rumah keluarga Bapak Nitirejo di perbukitan Borogunung, Kelurahan Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.  Sebelumnya Markas MBKD berada di Dusun Kepurun, Manisrenggo, Klaten dengan sandi MBKD Pos X-1. Mengingat di daerah sebelah barat Sungai Progo tertumpu strategi perjuangan yang sangat besar peranannya dalam perlawanan terhadap Belanda, maka untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan diambil kebijaksanaan untuk memutuskan Jembatan Duwet di Dusun Duwet, Kalibawang, Kulon Progo.  Sehingga jalur gerak Belanda menjadi terputus.   Bantuan tentara Belanda yang datang dari Purworejo dan Magelang dapat dihentikan. Juga pasukan yang datang dari Yogyakarta tidak dapat bebas bergerak. Wilayah Banjarharja sama sekali tidak dapat ditembus oleh Belanda, dan selamatlah markas-markas perjuangan yang ada di sana sampai dengan Yogyakarta kembali ke tangan RI pada tanggal 29 Juni 1949.  Belanda hanya dapat menembusnya dengan tembakan mortir yang dilancarkan dari markasnya di Cebongan.

 

Sumber : Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Leave a Comment