Diorama Perlawanan Gerilyawan TNI di Yogyakarta Selatan – Diorama III Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

 

Diorama III Menampilkan adegan peristiwa sejarah sejak disepakatinya Perjanjian Renville tahun 1949 sampai dengan adanya pengakuan Kedaulatan RIS tahun 1949. Salah satu adegan dome ketujuh pada Diorama III adalah Diorama Adegan Panghadangan patroli Belanda di Dusun Mrisi oleh Batlyon Sardjono Berlangsung   di Dusun Mrisi, Kasihan, Bantul  pada  tanggal  19 Februari 1949.

Jatuhnya kota Yogyakarta akibat agresi militer Belanda II, menyebabkan segalanya berubah. Kantor-kantor yang pada mulanya dipergunakan oleh instansi pemerintah RI langsung beralih fungsi sebagai kantor instansi militer Belanda. Demikian halnya dengan gedung-gedung, pabrik-pabrik atau bangunan lain yang dapat dimanfaatkan sebagai markas. Sementara itu pasukan gerilyawan telah keluar dari kota Yogyakarta dan neneruskan perjuangan dengan siasat gerilya. Pelosok-pelosok desa akhirnya dipakai sebagai pusat-pusat perlawanan terhadap Belanda. Gunung-gunung, desa-desa, lembah-lembah dan hutan-hutan  menjadi pusat kegiatan gerilya.  Markas dan kegiatan patroli Belanda sering menjadi sasaran para gerilyawan. Secara tiba-tiba mereka menyerang dan kemudian dengan cepat menghilang.

Pada tanggal 19 Februari 1949 di Dusun Mrisi, Kasihan, Bantul terjadi peristiwa penghadangan terhadap patroli pasukan Belanda. Aksi tersebut dilakukan oleh gerilyawan TNI  Batalyon Sardjono pimpinan Mayor Sardjono. Dalam peristiwa tersebut berhasil diledakkan sebuah bran carier dan sebuah truk. Akibatnya sebanyak 13 orang serdadu Belanda tewas dan 4 orang lainnya mengalami luka-luka.  Peristiwa-peristiwa samacam inilah yang  menyebabkan pasukan Belanda enggan melakukan  patroli di desa-desa dengan jumlah pasukan yang  relatif kecil. Karena hal itu hanya mengundang bahaya bagi mereka sendiri.

 

Sumber : Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

 

Leave a Comment