Diorama Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta-Diorama II Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

 

Diorama II Menampilkan adegan peristiwa sejarah sejak Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945  sampai dengan meletusnya Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Salah satu adegan dome kesepuluh pada Diorama II adalah adegan Presiden Soekarno menuju mimbar tempat diadakannya rapat raksasa dalam acara kongres pemuda Indonesia di Yogyakarta yang Berlangsung di Alun-alun Utara Yogyakarta dan Balai Mataram Yogyakarta (sekarang Senisono) pada tanggal 10 s.d. 11 November 1945

Dalam rangka berpartisipasi dalam membela negara banyak para pemuda menggabungkan diri dalam BKR.  Meski demikian banyak juga dengan maksud yang sama mereka masuk dan bergabung dalam badan-badan kelaskaran. Karena keberadaan lascar-laskar tersebut masih bersifat local dan tidak terorganisir, maka atas dorongan Menteri Keamanan Amir Sjarifuddin, diundangkan sebagian gerakan dan laskar-laskar  tersebut dalam sebuah kongres pemuda yang selanjutnya dilaksanakan di Yogyakarta.

Pada tanggal 25 Oktober 1945 di Yogyakarta diadakan rapat yang dihadiri oleh para pemuda. Rapat tersebut berhasil membentuk suatu badan yang bernama Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI). Untuk selanjutnya GERPRI mengadakan rapat di Balai Mataram Yogyakarta (Senisono) untuk membahas pelaksanaan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia.  Dalam rapat tersebut berhasil dibentuk panitia kehormatan yang terdiri dari Sri Sultan HB IX, Sri Paku Alam VII dan Mohammad Saleh.  Sebagai ketua Bendoro Raden Mas (BRM) Hertog dan wakilnya S. Hudoro.

Pada tanggal 31 Oktober 1945 diadakanlah kongres yang dihadiri oleh para utusan dari Markas Besar Barisan Pelopor Jakarta, API (Angkatan Pemuda Indonesia) Jakarta, PRI (Pemuda Republik Indonesia) Bandung dan Surabaya, IPI (Ikatan Pelajar Indonesia)  Jakarta, GERPRI Yogyakarta dan Staf Wartawan Kementrian Penerangan.  Kongres ini dimaksudkan untuk memantapkan kongres yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Nopember 1945.

Pada tanggal 10 s.d. 11 Nopember 1945, badan-badan perjuangan yang dibentuk di luar BKR mengadakan Kongres Pemuda Indonesia di Balai Mataram Yogyakarta. Pembukaan kongres dilakukan di Alun-alun Utara Yogyakarta pada tanggal 10 Nopember 1945. Kongres dihadiri oleh 332 orang utusan dari 30 organisasi pemuda di Indonesia.

Dalam kongres tersebut berkenan memberikan amanat antara lain Presiden Soekarno, Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam  VIII. Hadir dalam kongres Drs. M. Hatta, menteri negara dan wartawan asing. Ketika kongres berlangsung peserta dari Surabaya meninggalkan kongres karena bertepatan dengan Pertempuran Surabaya melawan Sekutu. Hasil dari kongres tersebut adalah diadakan penggabungan semua gerakan pemuda dalam satu badan yang dinamakan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI), yang dipimpin oleh Dewan Pimpinan Pusat Republik Indonesia dibantu Dewan Pekerja Perjuangan dan Dewan Pekerja Pembangunan.

Semula kongres tersebut bertujuan untuk mempersatukan lebih dari 20 perkumpulan pemuda dalam satu wadah yang bercorak nasional, namun tidak berhasil. Peleburan ke dalam satu perkumpulan tersebut hanya disetujui oleh 7 organisasi yang kemudian membentuk Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) pada kongres tersebut. Mereka adalah API (Angkatan Pemuda Indonesia) Jakarta, Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI) Yogyakarta, Angkutan Muda Republik Indonesia (AMRI) Semarang, Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), Angkatan Muda Gas dan Listrik, Angkatan Muda Pos, Tilpun dan Telegrap (AMPTT), dan Pemuda Republik Indonesia (PRI),  Satu organisasi yang menolak bergabung adalah Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Dalam perkembangannya setelah lima bulan AMPTT, AMKA dan GERPRI menyatakan keluar dari Pesindo. Sebagai realisasi dari hasil kongres tersebut maka pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Yogyakarta dibentuk Dewan Pimpinan Daerah Pemuda Indonesia Yogyakarta yang diketuai BRM. Hertog dan wakilnya Darwis Tamim.

 

 

 

Leave a Comment