Diorama Gerakan Seniman Dalam Revolusi-Diorama II Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Diorama II Menampilkan adegan peristiwa sejarah sejak Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945  sampai dengan meletusnya Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Salah satu adegan dome ketujuhbelas pada Diorama II adalah adegan Para seniman Yogyakarta sedang membuat poster untuk membakar semangat juang rakyat Yogyakarta yang dipasang ditempat-tempat strategis yang Berlangsung di Yogyakarta pada tahun 1946.

Sekitar tahun 1937 di Indonesia telah muncul organisasi seniman luki sbernama PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) yang diketuai oleh Agus Djaya Suminta dengan beberapa anggota antara lain Sudarsono Sudjojono, Suromo, Surono, Abdul Salam, Sudiardjo, Setjojoso, Otto Djaya Suntara, Emiria Sunassa (satu-satunya pelukis wanita waktu itu), Herbert Hutagalung, Sindusisworo, Tutur, dan Sukirno (Soedarso, 2006 : 180). Organisasi tersebut didirikan oleh Sudarsono Sudjojono yang didukung oleh para pelukis Indonesia lainnya (Depdikbud, 1979-1980 : 35)

Pada masa pendudukan Jepang, perkembangan seni lukis mengalami nasib baik. Para pelukis mampu berkembang dibawah naungan Keimin Bunka Shidosho atau Pusat Kebudayaan. Meski demikian kreasinya tetap terpasung, karena tema-tema yang harus dilukiskan adalah tema propaganda Jepang yang sering bertolak belakang dengan jiwa para palukis. Namun demikian para pelukis dapat mensiasatinya, sehingga niat membakar semangat juang rakyat tetap dapat tersampaikan tanpa menimbulkan kemarahan Jepang.

Pada masa kemerdekaan seni lukis dengan poster-posternya dipandang merupakan media yang efektif dalam membakar semangat juang rakyat. Terkait dengan hal ini, pada suatu hari Sudarsono Sudjonono dipanggil oleh Ir. Soekarno  untuk diserahi tugas membuat poster dalam rangka meningkatkan semangat juang rakyat. Selanjutnya oleh Sudarsono Sudjojono tugas tersebut diserahkan kepada Affandi. Selanjutnya dalam pembuatan poster tersebut Affandi memilik Dullah sebagai modelnya. Poster dibuat  di atas kertas pastoor berwarna putih kira-kira berukuran 80 x 100 cm. Cat yang digunakan adalah cat tube yang diencerkan dengan bensin. Warna hitam untuk gambar dan warna merah untuk sang merah petih yang berkibar di belakangnya. Gambar yang diwujudkan adalah  seorang pemuda berbaju kemeja putih meneriakkan merdeka sambil mengacungkan kedua tangan agak ke atas. Pada kedua pergelanganan tangannya terdapat  borgol yang rantainya sudah putus. Setelah poster selesai dengan bantuan Chairil Anwar poster tersebut ditambah dengan kata-kata “Bung, Ayo Bung”. Poster tersebut merupakan poster pertama yang dibuat pada masa awal kemerdekaan. Poster kemudian diperbanyak oleh Dullah. Untuk memenuhi kebutuhan dari poster tersebut maka Walikota Jakarta Suwiryo membuatkan klisenya yang kemudian dicetak di percetakan. Klise yang dipakai adalah  berupa cukilan  kayu sawo dengan ukuran 30 x 45 cm (Suhatno, 1985 : 61 dan 62).

Kepindahan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta memberikan dampak terhadap keberadaan seniman. Para seniman termasuk didalamnya adalah pelukis tersebar di beberapa kota. Pada  tahun 1946  atas inisiatif Sudarsono Sudjojono, Trisno Sumardjo, Sunindyo dan Suradji telah didirikan organisasi Seniman Indonesia Muda (SIM). Pelukis-pelukis lain yang turut bergabung dalam organisasi ini antara lain Sundoro, Zaini, Nasjah, Moh. Hadi, A. Wakidjan, Ismono, Sudiono, Sudibjo, Surono, Sjahrir, Nahar (Poesponegoro dan Notosoesanto, 1993 : 195). Sebagai ketua dalam organisasi ini adalah Sudarsono Sudjojono dan Dullah sebagai sekretarisnya (Tashadi, dkk, 1996 : 37). Selain ada SIM, di Yogyakarta  juga terdapat perkumpulan  pelukis seperti PTPI (Pusat Tenaga Pelukis Indonesia) yang diketuai oleh Jayeng Asmara, sedangkan anggotanya terdiri dari Sindusiworo, Indra Sugarda, dan Prawito (Tashadi, dkk, 1996 : 37).  Selain di Yogyakarta, sanggar SIM juga didirikan oleh Sudarsono Sudjojono di Madiun dan Surakarta (Depdikbud, 1979-1980 : 33)

Ketika terjadi arus pengungsian para seniman keluar dari Jakarta, Affandi sekeluarga yang waktu itu tinggal di Jakarta juga turut mengungsi ke Yogyakarta. Ia bersama dengan keluarganya tinggal di kampung Gendingan di rumah milik seorang pengusaha bernama Tjokrosumarto. Kemudian pada tahun 1946 Affandi bersama dengan pelukis Sudarso dan Hendra mendirikan  organisasi Seniman Masyarakat (Suhatno, 1985 : 65).  Organisasi tersebut diketuai oleh Affandi, dengan sekretaris Dullah dan Nurnaningsih sebagai bendahara. Ada lagi yaitu perkumpulan “Pelukis Rakyat” yang beranggotakan Trubus, Hendra, dan Affandi. Dengan demikian terlihat jelas bahwa Yogyakarta selain sebagai ibukota negara yang merupakan pusat pemerintahan juga merupakan pusat kegiatan para seniman. Hidup suburnya para seniman di Yogyakarta tidak lepas dari peran serta Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang memperkenalkan rumah Pekapalan di Alun-alun Utara  sebagai studio dan tempat aktivitas para seniman tersebut (Tashadi, dkk, 1996 : 37).

Pendirian organisasi SIM (Seniman Indonesia Muda)  yaitu disamping bekerja dan berkaya juga ikut bertmpur di garis depan dengan seni dan budaya. Ruang gerak SIM lebih luas dan tidak hanya  mencakup para pelukis saja, tetapi juga seniman sastra dan musik. Bagian sastra  dipimpin oleh Trisno Sumarjo dan bagian musik dipimpin oleh Kusbini. Para pelukis anggota SIM membuat poster-poster perjuangan  langsung dari garis depan Kerawang, Bekasi, Mojokerto, dan Slatiga. Selanjutnya dalam perkembangannya Seniman Masyarakat dilebur ke dalam SIM. Sanggar dari SIM  ini terletak di Alun-alun Utara, dekat bioskop Soboharsono (sekarang Yogya Geleri). Sanggar tersebut berupa pendapa kecil  hadiah dari kraton kepada para pelukis  yang digunakan untuk tempat bekerja dan berkumpul. Di sanggar inilah  banyak seniman muda belajar melukis. Di sangar ini tidak ada gurunya dan mereka lebih cenderung menggembleng diri dan menemukan watak. Para seniman yang belajar di sanggar ini antara lain Nasyah Jamin, Sam Suharto, Daud Yusuf (pernah jadi mendikbud RI), Sasongko, dan Wakijan  (Suhatno, 1985 : 65).

Dalam sanggar SIM tersebut terdapat tingkatan-tingkatan pelukis yang dapat disebutkan sebagai berikut  (Suhatno, 1985 : 66) :

  1. Pelukis bocah (anak-anak) seperti A. Wakijan, Sasogko, Nasyah Jamin, Sam Suharto, Suparto, Durachman, Daud Jusuf, dan lain-lain.
  2. Pelukis muda seperti Zaini, Nashar, Syahri dan lain-lain.
  3. Pelukis tua yang merupakan pelukis tingkatan paling atas seperti Sudarsono Sudjojono,  Affandi, Sudarso, Hendra, Surono, Ramli, Sudiarjo, Kartono Yudhokusumo, Kusnadi dan lain-lain.

Seiring dengan perkembangan politik yang terjadi di Indonesia, maka sebuah organisasi dapat saja mengalami pergeseran dalam menentukan tujuannya semula. Demikianlah yang terjadi dengan organisasi SIM dimata Affandi. Affandi yang tidak suka atau tidak tertarik dengan politik merasa tidak nyaman berada di dalam SIM yang menurutnya telah mengalami perubahan orientasi yang mengarah pada politik. Akhirnya pada tahun 1947 Affandi memutuskan untuk keluar dari SIM, dan selanjutnya mendirikan organisasi sendiri  dengan nama Pelukis Rakyat. Beberapa pelukis yang kemudian turut bergabung dalam organsiasi Pelukis Rakyat tersebut antara lain  Sasongko, Sudarso, Sudiarjo, Sutjoyoso, Trubus. Sebagai sanggar organisasi Pelukis Rakyat ini mempergunakan bagian depan Gedung Sonobudoyo. Organisasi ini cukup berkembang pesat dan banyak para pelukis muda bergabung di dalamnya antara lain  Rustamaji,  A. Ali, Suyono, Uuski, Eddy Sumarso, Bahri, Nazir, Joni Trisno,  Rahmat, Batara Lubis, Amrus, Tarmizi dan lain-lain (Suhatno, 1985 : 68).

Setelah Affandi memisahkan diri dari Sanggar Indonesia muda dan mendirikan sanggara Pelukis Rakyat maka susunan kepengurusan Seniman Indonesia Muda mengalami perubahan.  Susunan kepengurusan  sanggar Seniman Indonesia Muda Yogyakarta menjadi sebagai berikut : Ketua dipegang oleh Rusli, sekretaris dijabat oleh Dullah, dan bendaharanya adalah Haryadi S (Tashadi, dkk, 1996 : 55)

Ketika Yogyakarta berhasil dikuasai oleh Belanda melalui Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948, para seniman yang berada di Yogyakarta  mengungsi ke luar kota. Dari mereka ada yang memang mencari selamat, tetapi ada juga yang mengungsi justru bergabung dengan pasukan gerilya. Pada waktu itu Sudarsono Sudjojono memilih bergabung dengan pasukan gerilyawan dan bermarkas di daerah Bogem, Prambanan. Kemudian Harjadi. S bermarkas  di sebelah barat  kota Yogyakarta. Namun demikian adapula anggota SIM yang tetap tinggal di dalam kota, yaitu mereka yang tinggal di pondok SIM di Patangpuluhan  seperti Abdul Salam, Subandio dan Surono (Tashadi, dkk, 1996 : 38).

Pada masa clash II (1948) tersebut Sudarsono Sudjonjono  menjadi komandan suatu pasukan gerilya yang beroperasi di Prambanan. Ayah kandungnya yang bernama Sindudarma yang sudah cukup lanjut usianya  turut pula bergerilya. Bahkan ayah Sudarsono Sudjojono gugur  dalam sebuah pertempuran yang kemudan dikuburkan oleh Sudarsono Sudjojono. Dalam perjalanan gerilyanya tersebut setiap ada kesempatan Sudarsono Sudjojono selalu mendokumentasikan apa yang ditemuinya dalam lukisan (Tashadi, dkk, 1996 : 97).

Masa pendudukan Belanda selama tahun 1948 berlangsung cukup lama yaitu sekitar 6 bulan. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu itu sebagian ada yang terekam dalam bentuk lukisan yang dilakukan oleh anak-anak asuh Dullah yang rata-rata usia mereka belum genap 17 tahun. Mereka antara lain  Toba (11 tahun ), Muh. Affandi (12 tahun), Sri Suwarno dan Sarjito (14 tahun) dan Fx Supono  (15 tahun) (Tashadi, dkk, 1996 : 38).

Setelah Yogyakarta kembali ke pangkuan RI pada bulan Juni 1949, keadaan sudah relatif aman. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh para seniman  untuk merundingkan  adanya sebuah Akademi Seni Rupa. Gagasan ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1948, ketika waktu itu RJ. Katamsi  bersama dengan Jayang Asmoro mendirikan Sekolah Menengah Guru Gambar di Yogyakarta sebagai hasil tindak lanjut dari Kongres Kebudayaan di Magelang sebelumnya.  Atas usaha-usaha pera seniman tersebut maka pada tanggal 15 Desember 1949 dikeluarkanlah Surat Keputusan Menteri  Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan  RI, waktu itu adalah Ki Mangunsarkoro tentang berdirinya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta yang selanjutnya diresmikan  di Kepatihan  pada tanggal 15 Januari 1950. Sehingga ASRI dapat dikatakan sebagai   lembagai pendidikan kesenian pertama  yang dihasilkan oleh perjuangan  rakyat Indonesia. ASRI kemudian berkembang menjadi  Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) dan sejak tanggal 23 Juli 1984 menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang merupakan gabungan dari ASTI, AMI dan STSRI “ASRI” (Tashadi, dkk, 1996 : 65).

Sumber : Buku Panduan Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta

Leave a Comment